The Devil's Lover

The Devil's Lover
Part 58. Half of Me 1



POV Carla.


"Sayang, besok siang Xavier ingin bertemu denganmu." aku duduk di ruang tengah tiba-tiba David bicara.


"Xavier? Kenapa dia ingin bertemu denganku?"


"Dia pengacara pribadiku, temanku, kau bilang lebih percaya dengannya dibanding denganku. Aku ingin dia membahas perjanjian pranikah denganmu."


Membahas perjanjian pranikah dengan Xavier?


"Kenapa kau tak katakan sendiri padaku?" Dia melihatku. Bukankan ini aneh, jika dia ingin memberiku sebuah perjanjian. Bukankah seharusnya dia mengatakannya secara pribadi, bukan mengirim pengacaranya duluan padaku.


"Kau bilang kau tak percaya padaku dan lebih percaya padanya."


"Aku tak percaya padamu bukan artinya kau harus mengirim Xavier bicara padaku duluan. Jika ada masalah apa aku harus menunggu Xavier di NY sana atau meneleponnya dulu baru bicara denganmu." Dia diam, mungkin ini saat yang tepat untuk bicara soal akses privasi diantara kami.


"Daripada membicarakan perjanjian pranikah. Aku ingin bertanya apa aku bisa mengakses ponselmu."


"Ponselku?"


"Iya ponselmu."


"Bisa." Dia terlihat tidak yakin dengan perkataannya sendiri.


"Bisa? Benarkah? Sekarang?" Jika dia tidak memberikan aksesnya, aku perlu berpikir panjang apa aku harus menjalani sebuah pernikahan.


"Iya." Dia memberikan ponselnya padaku. Suprise, dia serius. Dia berani memberikannya padaku. "Passwordnya 339876." Aku menerima ponselnya sambil memperhatikan wajahnya.


"Oke. Akan kuingat, passnya tidak sulit."


"Sayang, jika ada wanita yang menghubungiku di sana. Bukan berarti aku yang menghubungi mereka duluan. Mereka biasanya hanya mencoba bicara denganku." Aku membuka catatan pesannya.


"Itu tergantung bagaimana kau menanggapinya. Bukan tergantung bagaimana cara wanita itu bicara denganmu."


"Maksudku kau jangan langsung mengatakan aku berkhianat padamu jika ada seorang wanita menghubungiku."


"Aku bisa melihat balasanmu, hanya itu yang membuktikannya." Aku bicara sambil melihat daftar pesannya. Tapi sekarang nampaknya itu bersih. Aku tak punya waktu memeriksa ini. Hanya ingin melihat apa dia bersedia memberikannya padaku.


"Sayang, kau ingin tahu rekeningku juga?" Aku melihat padanya. Jadi sekarang aku boleh tahu jumlah digit yang dia punya? Itu pertanyaan atau pernyataan?


"Aku sebenarnya tidak begitu nyaman orang lain tahu semua tentangku. Tapi kau istriku, kata Xavier dia memberitahu semua portofolio keuangannya kepada istrinya. Jika dipikir-pikir tindakannya itu memang benar, kau teman seumur hidupku, kita akan bersama dengan anak kita. Kau tahu apa adanya aku, kenapa aku harus menutup apa yang kupunya. Kumohon jangan tuntut uangku di pengadilan."


Xavier itu punya pengaruh bagus untuknya. Untunglah ada satu temannya yang lurus bisa mengingatkannya.


"Kau tahu apa syarat aku tak menuntutmu di pengadilan bukan." Aku mengerling sambil tersenyum padanya. "Aku akan peringatkan padamu di depan, aku bukan hanya akan membawa uangmu tapi membawa anakmu juga." Dia menangkap tanganku yang menunjuk da*danya.


"Sayang, orang yang mencoba menggoda suamimu ini banyak. Kau jangan terpancing dan kalah oleh mereka. Kau tahu potonganku seperti ini, aku punya banyak dosa di masa lalu, banyak mungkin yang sakit hari padaku, mereka akan menjebakku mungkin berusaha menargetkanmu karena mereka cemburu kau jadi istriku."


"Mereka menargetkanmu, tapi kau menanggapi mereka dengan sukarela. Jika mereka menargetkanmu tapi kai tak menanggapinya tak akan terjadi apapun. Yang kemarin kau sangat menikmatinya."


"Sayang aku diberi perangsang, plus diberi pertunjukkan dua gadis berciuman di depanku, tiga lainnya menahanku membuka pakaianku sementara yang lain langsung melahapku di bawah, menurutmu laki-laki bisa bertahan dengan itu."


Aku diam. Aku tak tahu bagian itu lahap melahap itu. Wanita-wanita itu memang berniat membuat aku pergi dari kehidupan David. Dan mereka berhasil...


"Siapa yang membuka gespermu dan melahapmu?"


"Kau akan marah lagi padaku? Itu hanya episode bodoh yang kusesali langsung saat aku selesai. Kau akan marah lagi. Kasihan bayi kita, kita tak usah bahas kejadian itu lagi." Dia memelukku sekarang.


"Tidak, aku hanya ingin tahu." Aku ingin tahu karena kemungkinan besar dialah yang merupakan otak semua rencana ini.


"Sommer Ray."


"Ohh." Wanita dengan kulit tan sempurna itu dan rambut pirang bergelombang itu.


"Sayang, kau berjanji tidak akan marah." Dia memeluk pinggangku dan membuat puppy eyes padaku. Memikirkan bagaimana wanita itu melahapnya membuat darahku naik padanya.


"Itu karena kau suka tebar pesona!" Kucubit perutnya dengan kuat karena aku kesal. "Lain kali tak usah menemui model-model iklan itu. Kau berani mengambil tugas itu lihat aku akan menahan pembayaran mereka."


"Iya baiklah, aku akan menyerahkan campaign ke bagian lain. Sayang ini sakit... Aku minta ampun." Peganganku lepas karena oto*tnya kenc*ang. Aku melepasnya dengan cemberut.


"Kau memang menyebalkan." Aku meraih lagi sesuatu untuk kuaniaya. Dia mem*elukku sehingga aku tak bisa meraihnya.


"Penyihir aku minta ampun." Iblis ini sekarang turun derajat minta ampun padaku. Aku masih berusaha meraihnya dan dia berusaha menghindari tanganku.


"Lain kali jika 'burungmu' berani mampir sembarangan kau akan sangat tahu akibatnya." Aku berhasil mencapainya lagi. Dia meringis kesakitan karena capit tangankub dan aku pua*s bisa membuatnya setidaknya memar sedikit.