The Devil's Lover

The Devil's Lover
Part 31. The Rage of Two Women



POV David Montgomery


Dia memikirkan yang terburuk tentangku. Tidak disangkal lagi. Dia bahkan berpikir aku lebih buruk dari Ayahnya. Sial, benar-benar sial, saat ada gadis yang kusukai, dia membenciku dan berniat menyingkirkanku secepatnya dari harapannya.


Bukan hanya tidak menyukaiku dia juga mencapku terlalu buruk dan tidak berniat memberiku kesempatan. Apalagi dia bertemu dengan pria itu yang adalah teman baiknya itu.


Aku melihatnya mendekati lobby, nampaknya dia agak kesiangan hari ini dan sedikit kantung mata terlihat di wajahnya yang cantik. Kenapa dia? Apa aku membuatnya sedikit sulit tidur karena aku bertanya apa dia mau jadi kekasihku semalam.


Tujuh tahun tak punya hubungan pribadi dengan siapapun. Dia mengelola hidupnya seperti biarawati dan sekarang aku mengacaukan pikirannya karena bertanya apa dia mau menjadi kekasihku. Dia tak sepenuhnya tak bisa dipengaruhi. Masih ada harapan untukku!


"Selamat pagi Penyihir." Sebuah sapaan yang membuatnya harus melihat padaku.


"Pagi." Aku tersenyum dengan jawaban singkatnya.


"Bagaimana tidurmu?"


"Tidak ada yang salah dengan tidurku." Dia menjawabku dengan sengit. Aku meringis lebar. Sekarang aku tahu sedikit banyak aku telah mengisi pikirannya. Walaupun setiap perbuatan baikku akan disangka olehnya sebagai perbuatan buruk, tapi tak mungkin dia tak memikirkannya.


Aku masih punya harapan ternyata. Dia pasti akan jatuh cepat atau lambat. Keuntungan lainnya jelas berada di pihakku. Aku satu kantor dengannya. Baiklah setelah mendapatkan reaksi yang aku inginkan lebih baik tidak menggodanya lagi.


"Oh ya meeting dengan design interior yang menangani hotel baru kita hari ini. Kau maju pertama untuk kesepakatan term pembayaran baru aku menangani detail proyek." Aku masuk ke masalah pekerjaan.


"Iya baiklah. Jam 10 bukan?"


"Iya jam 10." Kuberikan apa yang kubawa untuknya. "Kopi, aku bertanya ke Janette apa kesukaanmu. Kubelikan sarapan juga. Pegang. Aku harus bertemu manager hotel dulu di depan."


Dan sekarang pergi sebelum dia protes.


Yang kulakukan hanyalah harus menciptakan sebanyak mungkin interaksi. Mengubah padangannya secara perlahan. Aku yakin bisa.


Dan satu lagi yang harus kubereskan. Richard Blunt.


Kupilih sebuah nomor di ponselku. Lalu menekannya untuk melalukan sebuah panggilan.


"Kenapa kau meneleponku sepagi ini? Apa kau terlibat masalah?"


"Xavier! Aku perlu bantuanmu..."



\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=



POV Carla Winston


Aku melihat kopi dan paket sarapan yang diberikannya padaku. Ini enak, tapi aku tak ingin menerimanya. Tak bisa.


"Jennette buatmu saja."


"Ini diberikan oleh David Montgomery bukan?"


"Iya."


"Kau tahu, kenapa kau tak mencoba saja? Kau bilang dia memintamu jadi kekasihnya bukan? Mungkin saja dia serius, lagipula dia royal pada kekasihnya."


"Tidak, jika dibandingkan dia dengan Ayahku, dia pasti lebih parah. Jika aku menikah aku hanya ingin keluarga yang damai dan tidak menyebabkanku tersiksa karena cemburu. Tidak ada negosiasi soal itu." Jeannette nampaknya tak setuju tapi aku tak punya hal yang harus didebatkan dengannya.


Aku melewati meeting hari itu dengan baik dan segera pergi setelah meeting, aku bertemu dengan David tapi aku bersikap biasa hanya menyapanya saja.


Hari-hari berikutnya aku akan mencoba menghindari pertemuan tak perlu. Aku bahkan mengirim Jannete memantau situasi. Jika dia ada di kantor cluster divisinya aku tidak akan lewat di selasar depan lantai kami. Sialnya aku dan dia satu lantai, cluster divisi kami hanya dipisahkan oleh selasar ruangan.


"Kau seharusnya tak perlu setakut itu padanya." Jannette mengomentari yang kulakukan.


"Aku hanya tak ingin berada di depan wajahnya."


"Mungkin dia tidak seburuk itu."


"Aku tak perduli Jannette, yang aku tahu aku tak ingin terlibat dengannya."


Aku perlu seorang untuk pura-pura sebagai pacarku. Tapi siapa? Tak ada orang dikantor ini yang bisa kuajak sebagai pacar pura-pura. Jabatan tinggi datang dengan keuntungan dan kerugian , keuntungannya jelas tak ada yang berani denganmu, kerugiannya pria berpikir 2x untuk mendekatimu.


Di tengah kebingunganku itu, Richard mengirimiku pesan dan mengajak bertemu. Aku merasa seperti mendapat bantuan yang kuperlukan. Dengan cepat aku menyetujuinya. Kamis sore di musim panas New York yang hangat aku sedikit bendandan dan melepas kacamataku.


Jam pulang kantor aku tak bisa menghindar bertemu dengannya hari ini. Kami masuk untuk turun lift berdua. Hanya kami berdua di lift itu ternyata.


"Mau jalan-jalan, kau terlihat cantik?" Dia mengamatiku dengan cepat.


"Bukan urusanmu." Dia tersenyum dengan jawabanku.


"Kencan dengan teman baik."


"Jikapun iya tetap bukan urusanmu."


"Ya baiklah bukan urusanku. Pertemuan tahunan Direktur seluruh group di Miami minggu depan. Kau pergi bukan?"


"Iya, seperti biasa."


"Baguslah." Dia diam dan melihatku. "Kau pergi bertemu teman baik yang kemarin?"


"Sudah kubilang bukan urusanmu. Kenapa kau penasaran sekali."


"Mungkin dia tak sebaik itu sekarang. Kau harus berhati-hati."


"Maksudmu?" Apa yang dibicarakannya.


"Aku hanya bilang kau harus hati-hati terhadap orang lain yang belum kau kenal dekat itu saja."


"Ya baiklah. Terserah padamu. Tapi nampaknya temanmu itu sudah punya anak dan istri."


Aku melihat padanya sekarang. Bagaimana dia tahu? Aku saja tak tahu.


"Kau mengecek latar belakangnya?"


"Hanya bantuan kecil untukmu. Semoga makan malamnya menyenangkan."


Dan dia pergi begitu saja meninggalkanku saat kami keluar lift. Dia mengecek latar belakang Richard, karena dia menganggapnya saingannya.


Aku terdiam dan berpikir. Apa yang dikatakannya, Richard sudah punya anak? Lalu kenapa dia mengajakku makan malam? Apa istrinya tak marah. Atau dia hanya ingin makan malam saja, bukan kencan, bagaimanapun kami sudah lama tak bertemu.


Iya kemungkinan begitu. Walaupun harapanku hilang karena dia sudah berkeluarga. Tapi tak apa toh ini cuma makan malam. Iblis itu sangat tidak sopan ikut campur urusan pribadiku. Kenapa dia tidak memacari salah satu perempuan yang tergila-gila padanya tapi malah mengangguku.


Kami bertemu di sebuah restoran bernama El-Centro di 9th Avenue, kami orang-orang California terutama menyukai dan familiar dengan masakan Mexico. Masakan Mexico terbaik bisa kau temukan di sana, ini mungkin karena kami berbatasan dengan Mexico, dan kebijakan California yang pro pendatang ilegal dari Mexico. Jadi begitu banyak Mexico Food di LA sehingga hampir jadi staple food kami.


"Richard!" Aku melambai padanya diantara riuh pengunjung restoran yang ramai malam itu. Dia membalas lambaianku.


"Apa aku terlambat?"


"Tidak aku baru tiba lima menit yang lalu."


Dia duduk di depanku dan wajah ramahnya membuat perasaanku lebih baik. Sebenarnya dia cukup tampan, wajahnya adalah tipe wajah yang bijak, bagaimana menggambarkannya, jika kau melihatnya kau akan tahu dia orang yang tenang dan sepertinya bijak. Beda dengan Iblis itu, begitu melihatnya kau sudah tahu d


"Sudah lama tak bertemu bagaimana kabar Ibumu, dia di LA?"


"Iya dia tetap di LA, tadinya aku bilang untuk pindah bersamaku tapi dia tidak mau. Berganti dari Barat ke Timur tidak mudah bagi orang yang sudah tua."


"Iya kau benar. Ibuku juga tidak terlalu betah dengan suasana NY." Kami membahas soal keluarga kami di LA sedikit sebelum kemudian memesan makanan.


"Kau sudah berkeluarga?" Setelah makanan kami keluar dan kami telah cukup banyak berbicara tentang masa lalu, aku bertanya tentang masa sekarang.


"Sebenarnya aku dalam proses perceraian, ini cukup menguras pikiran."


"Oh, ternyata begitu. Pasti berat buatmu." Hmm...bercerai. Kenapa bercerai bukankah kau sudah berjanji bersama. Buat apa semua upacara, semua kemeriahan jika kau berpisah.


"Ya, lebih baik bercerai daripada setiap hari bertengkar."


"Kau tidak punya anak?"


"Ada seorang putra, aku akan membayar tunjangannya tentu saja."


"Iya, semoga kau bisa melewatinya dengan baik."


"Iya terima kasih."


Kami mengobrol segala macam hal sampai jam-jam berikutnya terlewati. Dan kami harus kembali, besok kami masih harus ke kantor.


"Kalau begitu hati-hati di jalan. Mungkin lain kali kita bisa berbincang lagi."


"Iya, tentu saja."


Tidak ada lain kali kurasa, dia sedang dalam proses perceraian aku tak mau mencampuri urusannya, bahkan aku tak mau bertanya kenapa dia bercerai. Riskan dan dia hanya akan mencari pelarian dari masalah jika kami dekat.


Dan perceraian adalah point minus, semangkin kau lama sendiri, semankin kau tak mau menukar hidupmu untuk hubungan rumit. Kau terlalu senang dengan kesendirian dàn tak mau mengambil resiko apapun.


Nampaknya David merasa aman dengan kenyataan bahwa Richard sudah punya keluarga, dia tak muncul mengangguku dalam beberapa hari ini. Tapi nampaknya dia tak ada di NY, aku sama sekali tak melihatnya.


Sebuah siang yang biasa di kantorku. Hampir jam istirahat ketika sebuah intercom datang ke mejaku.


"Seorang wanita bernama Amanda Martin ingin menemuimu. Katanya dia ingin bicara tentang Richard Blunt padamu?"


"Richard Blunt?" Kenapa ada seorang wanita yang terkait Richard Blunt datang padaku?


"Dia sendiri?"


"Dia bersama seorang wanita lainnya." Apa mungkin itu istrinya, jangan-jangan karena makan malam kemarin. Dia menyangka aku jadi orang ketiga penyebab keretakan rumah tangganya. Astaga ini harus dijelaskan dengan baik.


"Aku akan menemuinya di ruang tamu depan." Ruang tamu depan adalah ruang tunggu tamu yang ada urusan di lantai ini, cukup privasinya karena ruangannya kedap suara walaupun itu hanya kaca.


Saat aku melangkah ke ruangan itu seorang wanita yang mungkin seumuran denganku dan seseorang lagi yang katanya adalah temannya menatapku. Dia berdiri begitu aku masuk. Dengan pandangan ingin memakanku hidup-hidup. Ini tidak baik sama sekali.


"Selamat siang, saya Carla Winston. Anda mau bicara dengan saya soal Richard Blunt? Mari duduk dulu apa yang bisa saya bantu? Kau ingin minum Nona?" Karena nampaknya dia dalam kondisi marah melihatku aku ingin mendinginkan suasana, aku memintanya duduk, aku sendiri duduk di depannya.


"Jadi kau ..." Dia tetap berdiri, aku jadi takut dia menerkamku dengan sorot matanya yang sangat marah itu.


"Nona, kau harus duduk dulu." Aku mundur sendiri merasakan dia nampaknya marah membabi buta padaku.


"Duduk katamu?! Kau wanita pel*acur!" Itu kata terakhir yang kudengar sebelum dia hampir terlihat melompat ke arahku dan mencen*gkram rambutku, menariknya tanpa belas kasihan sehingga aku menjerit kesakitan. "Kau pel*acur , berani sekali kau mengambil Ayah anakku, kau memintanya bercerai denganku?! Tak tahu malu kau membuat anakku kehilangan Ayahnya." Aku panik ketika dia mengumpatiku, tapi lebih panik lagi karena dia benar-benar menarik rambutku sampai kulit kepalaku sangat kesakitan. Belum cukup dengan itu dia memukul menampar apapun yang dia bisa lakukan dan itu dibantu oleh temannya.


Astaga aku tak tahu menerima undangan makan malam Richard berakibat begini.


"Aku tidak merebut suamimu, ini salah paham Nona."


"Salah paham!? kau bahkan bertemu dengannya di hotel dan di restoran, kau pikir aku tak tahu!?"


"Aku baru bertemu dengannya dua kali. Lepaskan aku, aku hanya temannya di kampus." Aku berusaha menjelaskan diantara pukulan kemarahan dua orang wanita dan rambut yang ditarik dengan keras.


"Apa-apaan ini! Lepaskan! Atau kubawa kalian ke penjara!" Sebuah suara menggelegar, menyelamatkanku dari amukan dua orang wanita itu.


bersambung besok_____🥰🥰


Ps: Maaf baru bisa nulis hari ini, diusahakan besok-besok lancar. Jangan lupa klik iklan ya


Hadiah kumpulin tanggal 1 aja