
Sebelumnya mak mau ngucapin makasih ya buat kalian yang udah nyempetin klik iklannya , ngasih hadiah dan vote. Dukungan kalian sangat berarti di tengah NT yang lagi mode peliiiitttt
Yang belum tahu dimana klik iklan, perbaharui NT/MT kalian ke yang baru di sini kliknya , bagian paling depan booknya ya , bisa ampe 10x klik
***Kalau kalian lagi sempet , hp nya lagi nganggur --- iklannya mohon di klik abis ya 🤗 Sangat membantu kalo banyak yang klik iklan
🎁 Buat yang mau kasih hadiah, kumpulin tanggal 1 bln depan aja ya , soalnya hadiah nya bisa jadi berarti kalo masuk 20 besar. Kalau skrg krn awal bulan hadiah masih ngumpul di Xavi , lumayan bisa bikin novelnya naik ke rank atas***.
Makasih sekali lagi dan selamat membaca....🎀🤗
🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋
Aku menghilang ke restoran untuk sarapan sebelum dia terbangun, aku bisa berjalan-jalam di pantai jika restoran belum buka, aku mengendap-gendap seperti pencuri karena malas kejadian yang kemarin terjadi lagi.
Lima jam terakhir kami di sini harus berlalu dengan tanpa kejadian apapun. Jika sudah di NY aku sudah aman. Iblis itu semua perkataannya tidak bisa dipercaya. Dia bilang menyukaiku dengan gampang tak tahukah dia mengatakan menyukai seorang wanita itu punya konsekuensi.
Dia tak tahu jelas, yang dia tahu adalah menyukai seorang gadis berarti dia bisa tidur dengan gadis itu. Kepalaku masih penuh pikiran jelek tentang iblis itu.
Handphoneku berdering jam 7.30 pagi. David sekarang menelepon.
"Kemana kau?!" Kenapa perlu dia memakai nada tinggi.
"Aku hanya sudah berada di restoran untuk sarapan. Kenapa?"
"Ohh. Kupikir kau pergi."
"Pergi kemana? Kita harus ke bandara jam 10."
"Iya baiklah. Maaf, nanti aku menyusul." David menutup telepon dan aku tak mengerti kenapa dia gusar. Apa yang salah dengan berada di restoran lebih dahulu daripada dia?
Dia datang tak lama kemudian. Aku sedang menikmati sarapan dengan pemandangan pagi yang indah, setelah berjalan-jalan di pantai.
"Kenapa kau tak menungguku?"
"Kau masih tidur aku hanya ingin jalan-jalan. Ini hari terakhir kita di sini."
"Kau bisa membangunkanku." Aku tak menjawabnya. Kenapa dia, aku heran apa masalahnya jika aku pergi sendiri.
"Kau ingin membeli sesuatu di sini."
"Hmmn, tidak. Aku sudah melihat toko kerajinan dekat sini. Tidak ada yang menarik."
"Jika kau mau aku belikan."
"Tidak." Apa dia seroyal ini ke setiap wanita dalam liburannya. Tak heran Ayah dan Ibunya mengirimku ke NY.
"Kenapa tidak?"
"Apa? Bukankah itu terserah padaku?"
"Semua wanita senang dibelanjakan kenapa kau tidak?"
"Pertanyaanku, kenapa kau harus membelanjakanku?"
"Apa tidak boleh?"
"Kita bukan kekasih, bahkan kita bukan teman. Kenapa kau harus membayariku belanja?"
"Tidak ada alasan. Itu hanya hadiah. Butik di sini menjual brands desainer dari Australia, Camilla, dan beberapa desainer lainnya sepaty handmade dari Sofia Manta, jewellery dari Buba London, kau benar sudah melihatnya? Aku tak memasukkan barang jelek ke boutique itu. Aku hanya menawarkan, dan kau seharusnya tidak menolaknya. Tinggal terima saja."
Aku memang sudah melihatnya, memang bagus tapi mahal, karena lokasi tentu saja. Aku tak menghabiskan uang untuk hal tak perlu semacam itu.
"Terima kasih, kau baik hati sekali. Tapi tak usah."
Dia menghela napas. Dia tak senang aku menolak pemberiannya. Aku memang tak mau menerima apapun darinya.
"Setelah makan kau lihat lagi."
"Aku sudah bilang tak usah."
"Aku tak memakai uang kantor untuk memberimu sesuatu. Kau jangan berpikir aku hanya mengandalkan gaji saja."
"Tetap tak usah, terima kasih, kau baik sekali."
"Kau tidak..."
"Aku duluan, aku sudah kenyang. Aku mau berenang. Aku belum mencoba kolam renang yang luas itu. Bye." Tanpa berusaha mendengarkan kata-katanya kupotobg saja, Daripada bertengkar soal menerima hadiah lebih baik aku berenang.
"Bye David."
Aku senang sekali meninggalkannya. Entah kenapa rasanya sebuah kemenangan bisa meninggalkan dan mengabaikannya.
Dia tak memanggilku lagi karena aku menjauh dengan cepat dan dia baru datang, dan belum menyelesaikan sarapannya.
Kolam renangnya memang bagus, mereka punya kanal kecil yang menghubungkan dua kolam, jadi kau bisa berenang cukup jauh. Walaupun akhir pekan ini ramai karena kolam renang ini luas aku masih bisa menikmatinya.
Aku baru dari kolam sebelah dalam dan berenang masuk ke kolam luar, sebuah keributan kecil membuatku menolehkan kepalaku. Gadis-gadis berkerumun, siapa yang mereka kerumuni, jangan-jangan... iblis itu masuk ke kolam?
Dan ya benar sekali, Iblis itu menyebabkan gadis-gadis histeris dan mengerumuninya, setidaknya itu akan membuatnya sibuk. Aku melanjutkan berenangku dengan tenang, karena sang Iblis penggangu sedang menghadapi serbuan penggemarnya.
Tapi ternata dia berhasil lolos setelah aku menyelesaikan putaran ke dua. Aku berpegangan pada pinggir kolam beristirahat di kolam bagian dalam dan dia menyembulkan kepalanya.
"Penyihir càntik, kau memang kabur dengan cepat." Dia tersenyum padaku. Dia memanggilku penyihir, ini panggilan yang baru kudengar, aku harus meningkatkan mantra pertahananku dari pengaruh buruk kekuatan Iblis ini.
Sosoknya yang luar biasa itu naik dari dalam kolam, duduk disampingku, otot punggung dan dadanya sepertinya sengaja dilatih untuk menarik wanita. Pemandangan ini memang luar biasa.
"Bukankah kau tadi sibuk, penggemarmu mengerumunimu." Aku dengan cepat membuang pandangan ke arah lain. Dia akan merasa menang jika aku menatapnya sedemikian rupa.
"Oh rupanya kau memperhatikanku." Dia tersenyum lebar menyangka aku perhatian juga dengannya.
"Mereka membuat keributan di sekeliling kolam. Bagaimana aku tidak memperhatikan. Kenapa kau ke sini, tak bergabung dengan mereka saja?"
"Aku bergabung denganmu saja." Aku melihatnya tersenyum padaku.
"Apa untungnya kau bergabung denganku."
"Jauh lebih baik bergabung denganmu daripada dengan mereka."
"Ohh begitu..."
"Iya Nona penyihir."
"Aku baru tahu kalau aku punya nama panggilan di otakmu. Penyihir heh?"
"Kau tak suka, aku bisa menambahkan cantik di belakangnya." Dasar iblis perayu. Tambah di dengarkan, tambah kau tak percaya padanya.
"Baiklah kau tinggal di sini saja. Aku mau berenang lagi. Kau harusnya mengambil kesempatan tadi, masih cukup waktu dua jam ke depan." Aku meringis padanya.
Maksudmu...?"
Aku menghela napas dan menceburkan diri ke air lagi. Tak berniat membuat perdebatan lebih lanjut. Meninggalkannya tanpa bisa menjawab adalah hobbyku sekarang.
Setelah ini aku akan naik dari kolam depan meninggalkannya sendiri di kolam.
Ternyata dia tidak mengikutiku. Tak lama dia sampai kembali ke kamar karena kami harus pergi jam 10. Aku melihatnya berganti pakaian tapi setelah itu dia bersiap pergi dari kamar.
"Kau sudah membereskan koper? Kau mau ke mana, jam 10 kita harus check out."
"Sudah, aku keluar dulu sebentar." Dia keluar kamar dengan cepat tidak memberitahu kemana dalam setengah jam kemudian dia kembali membawa sebuah kantong belanja.
"Ini untukmu." Dan tiba-tiba kantong belanja itu diserahkannya padaku.
"Ini apa?" Aku melihatnya dengan heran.
"Sesuatu untuk mengingat kita pernah di sini." Aku mengambilnya dan menemukan kalung handicraft dengan batu-batu berwarna yang dirangkai menjadi kalung cantik lainnya adalah sebuah scraft sutra yang punya motif yang menawan. Dia bisa memilihkan barang yang bagus, mungkin pegawai yang membantu menyarankannya tapi seleranya bagus.
"Ini..."
"Jangan menolaknya. Itu bukan barang yang mahal." Bukan barang mahal tapi aku yakin harganya akan mencapai setidaknya ratusan dollar, tapi dia sudah membelinya, aku tak bisa menolaknya.
"Terima kasih. Ini sangat bagus." Sekarang dia tersenyum.
"Kembali. Aku senang kau bisa menerimanya."
"Menerima ini ada syarat khusus? Apa yang kau inginkan?" Aku berpikir kembali, tak mungkin ini datang dengan gratis.
"Kau memang selalu berpikir hal yang buruk tentangku." Aku meringis lebar padanya. Itu karena kelakuannya sendiri. Jangan salahkan aku jika aku berpikir buruk padanya.
"Ya baiklah aku terima ini. Terima kasih."
"Itu lebih baik. Ayo kita siap-siap check out." Dia nampaknya puas dengan jawabanku.
Akhirnya setelah melewati hampir 36 jam aku bisa kembali dengan selamat ke NY. Tapi ternyata Iblis perayu ini menempati janjinya juga. Dia tidak melakukan sesuatu yang memaksa selain menggodaku.
Tak akan ada kesempatan lagi bagi Iblis itu untuk merayuku di NY.