
Sekarang kami berdua berpandangan.
"Nyonya tidak perlu sampai begitu." Aku langsung mengangkat tangan tak mau menerimanya, aku tak menyangka Nyonya Maria akan membayar begitu. Mana boleh aku menerima hal yang seperti itu. Yayasan mereka membayar beasiswaku, membayar gaji dan memberikan kenaikan karier yang luar biasa untukku sehingga aku bisa menyokong keluargaku.
Mana mungkin aku menerima hal semacam ini.
"Perlu, kau wanita paling logis yang pernah kudengar. Tak ada gunanya menghabiskan waktumu dengan David jika dia hanya ingin kekasih lainnya. Kau sangat benar?" Dia menekanku untuk menerimanya. Menerima itu akan menambah beban tak terbayangkan dihubungan kami.
Putus dengan anaknya dan dibayar. Itu tak pantas, bagaimana jika dia menanyakan kenapa aku harus putus padahal itu hanyalah perkara, kepercayaanku sama sekali tidak ada. Dan uang itu akan membuat hubungan aku dan Nyonya Maria kacau ke depannya.
"Dan kau David, kau serius atau tidak jika kau tak akan punya wanita lain?" Dia bertanya pada David.
"Aku sudah katakan padamu aku serius." David yang menjawabnya.
"Sayang Carla, bagaimana. Bisakah kau memberi putraku kesempatan."
"Nyonya baiklah aku akan mencobanya, tidak, aku tak perlu jaminan seperti itu. Aku akan mencoba mempercayai janji yang diucapkannya padamu. Tapi di depan mungkin kami cocok atau mungkin juga tidak, tapi aku hanya minta satu syarat."
"Katakan syaratmu sayang?" Nyonya Maria menggengam tangamku.
"Jika hubungan kami tidak berhasil aku minta aku dipindahkan kembali ke LA." Nyonya Carla mengangguk.
"Iya baiklah, aku janji kau akan kembali ke LA, aku tahu kau juga muak melihatnya jika kalian gagal. Jika kalian gagal aku juga tak bisa mengusahakan apapun lagi, seperti yang kau bilang Carla, aku hanya Ibunya, sedangkan dia sudah bukan anak kecil lagi. Kurasa aku sekarang telah mencoba terlalu banyak, kata-kata yang kau ucapkan benar juga. Terima kasih... terima kasih buat kesempatan yang kau berikan." Aku tak tahu apa ini benar, tapi jika kesempatan baiklah mungkin aku bisa memberikannya yang jelas tak punya beban apapun jika ini gagal.
"Dan kau David, Mom angkat tangan sampai di sini. Jika kali ini gagal. Mom akan menyerah. Terserah padamu apa yang ingin kau lakukan pada hidupmu. Mungkin kau memang ditakdirkan tidak punya keluarga dan berakhir di panti jompo sendirian, itu pilihanmu sendiri." Dia menunjuk David dengan serius sekarang.
"Mom, aku sedang berusaha di disi."
"Ya kuharap kau berhasil. Aku sangat berharap kau berhasil. Baiklah, Mom pergi, kalian bicaralah berdua."
Pintu tertutup dan Nyonya Maria pergi meninggalkan kami. Aku diam, aku mengatakan di depan Nyonya Maria aku memberinya kesempatan. Lalu apa? Aku melihat padanya... Dia melihatku.
"Kenapa kau tidak ambil saja jaminan Mom." Pertanyaan pertama yang diajukannya padaku.
"Aku bukan orang yang tak tahu berterima kasih."
"Itu jaminan yang adil." Aku tersenyum sinis padanya sekarang setelah mendengar nampaknya dia ingin aku tak kesal padanya jika hubungan ini tak berhasil.
"Kau mulai menyesal sekarang. Kita bisa pura-pura pacaran beberapa bulan di depan Ibumu dan kita akan mengatur skenario damai bagaimana kita berpisah karena tidak cocok." Dia melihatku dengan pandangan yang tidak kutahu artinya.
"Aku serius Carla."
"Ya baiklah, aku memberimu kesempatan seperti yang kau bilang." Aku menghela napas. Masih tidak percaya aku jatuh ke hubungan ke playboy yang sudah kuhindari selama hidupku.
"Kita tidak sedang deal bisnis di sini." Aku tertawa, pembicaraan kami memang bukan seperti kekasih.
"Baiklah Honey, apa yang kau inginkan sekarang. Apa aku harus memanggilmu honey." Aku tertawa dengan panggilanku sendiri padanya. Rasanya lucu memanggil seorang dengan sayang. Dia tersenyum menanggapiku.
"Itu awal yang bagus. Kita harus menghadiri makan malam, kita bisa lanjutkan ini setelah makan malam." Melanjutkan apa memangnya, dia pikir dia bisa tidur denganku malam ini juga?
"Lanjutkan apa maksudmu?" Aku melipat tanganku di depan dad*a.
"Lanjutkan pembicaraan tentu saja. Memangnya apa yang kau pikirkan?" Dia menjebakku, dia pikir aku tak tahu apa isi kepalanya.
"Kau jangan membuat jebakan murahan." Dia tertawa kecil.
"Kapan kau jadi orang biasa? Ayo kita pergi, aku tak mau disangka menggunakan waktu bekerja untuk pacaran."
"Fine..fine...apapun yang kau inginkan."
Ini tidak seperti pacaran tapi dipaksa untuk pacaran. Aneh, kaku, aku merasa tidak nyaman. Yah hanya rasa hormatku kepada Nyonya Maria dan rasa penasaran yang membuatku menerima ini.
Kami boleh berjalan bersisian. Dia mengapai tanganku yang membuat aku kaget.
"Aku boleh menggandeng tanganmu bukan." Aku tidak mengatakan apapun dan membiarkannya. "Kau tidak rela jadi kekasihku?"
"Aku memberimu kesempatan. Kita jalani saja, mungkin kita berhasil, entahlah... Apa kita akan berhasil?" Aku masih pesimis, tak punya harapan banyak. Jika aku tak bisa mempercayainya sampai akhir, aku tak punya beban untuk memutuskan apapun kukira. Berbeda jika aku menerima uang Ny. Maria.
Dia tak bicara apapun, tapi kami bergandengan sampai ke tempat pesta. Aku tak ingin dia mengandeng tanganku di depan kolega dan semua orang tahu kami kekasih dengan cara yang vul*gar. Tidak ada pamer kemesraan dengan playboy ini. Buat apa pamer kemesraan, mungkin dalam kurang dari tiga bulan kami sudah putus. Itu akan membuatku jadi bahan tertawaan seluruh kantor.
"Bisakah kita tidak menunjukkan terlalu banyak di sini. Maksudku kita tidak perlu harus menunjukkan ke orang lain kita punya hubungan." Aku memulai pembicaraan saat kami mendekat lagi ke ruangan pertemuan. Pasti sudah banyak orang di dalam sana, aku membayangkan jika kami bergandengan tangan berdua kami akan menarik perhatian yang tidak perlu.
"Hmm... kau tidak suka aku menunjukkan aku kekasihmu di depan orang-orang."
"Tidak, pertemuan kolega adalah tempat formal. Aku tak mau pacaran di tempat kerja, suasana kerja, entah di sini atau di kantor, kita akan bersikap biasa saja."
"Kenapa begitu?"
"Sudah kubilang aku tak nyaman terlihat pacaran denganmu di kantor."
"Ya baiklah. Jadi kita boleh bermesraan sehabis keluar kantor saja."
Pacaran adalah bermesraan termasuk, tetapi kenapa sekarang rasanya aneh. Aku tak bersemangat sama sekali, perasaanku sepertinya masih mengambang dan terkejut antara benar-benar dipaksa menjadi kekasihnya dari tadinya aku hanya ingin mencoba petualangan dengannya. Tadinya aku bersemangat tapi sekarang rasa tertariknya hilang.
Kami berpisah kemudian, aku bergabung ke group GM yang lain terutama aku bicara panjang lebar dengan Direktur Keuangan zona lainnya yang datang di pertemuan tahunan itu.
Kami melewatkan makan malam itu dengan mengobrol panjang lebar sampai malam, sampai kami semua kelelahan dan mengantuk. Besok hari kerja, semua orang perlu bersiap-siap untuk pertemuan kerja di Miami.
Aku sampai ke kamarku, hampir ketakutan David mengikutiku karenanya aku pergi bersama-sama yang lain untuk kembali. Aku harap dia tidak mengetuk pintuku malam ini.
Aku selesai mandi ketika ponselku berbunyi. Satu pesan dari orang yang mempunyai gelar kekasihku sekarang.
"Hanya ingin mengucapkan selamat tidur padamu. Kurasa dari sudut pandangmu hari ini cukup melelahkan. Aku minta maaf soal itu, mungkin besok ada hari yang lebih baik untuk kita." Itu kata-kata yang manis di akhir hari ini dan malam ini dia membiarkanku sendiri.
"Semoga, aku juga berharap begitu. Selamat tidur David."
David Montgomery yang diperebutkan banyak wanita sekarang adalah kekasihku. Dengan dijodohkan sendiri oleh Ibunya. Hidup ini memang aneh bukan, apa yang kau hindari sekarang jelas-jelas terjadi padamu.
Apa ini akan berhasil? Jika berhasil akankah bertahan sampai akhir.
Bagaimana jika aku menjadi versi lain dari Ibuku? Tidak, itu tidak akan terjadi. Jika aku sampai menikah dengannya, harus ada banyak perjanjian soal anak kami dan jaminan kehidupanku. Cinta itu hanya sementara, komitmen dan kesetiaan yang harus kau punya sampai akhir. Jika kau tidak bisa dipercaya, maka perjanjian hitam diatas putih harus ada.
Aku berharap yang terbaik.
Tapi jelas aku juga bersiap untuk yang terburuk.
Aku tak mau jadi sama seperti Ibuku.