
Sinar matahari temaram diantara jendela mengisi pandanganku yang baru terbangun. Aku tidur nyenyak semalam, terlepas ada iblis yang juga sedang tidur di sampingku.
Aku melihat ke samping, dia masih tidur, tapi ada sesuatu... yang menarik pandanganku.
Tonjo*lan itu....
Mau tak mau aku terusik dengan pemandangan gratis yang aku lihat. Dengan pe*rut yang setengah terbuka karena dia tidak menggunakan selimutnya dan kemudian dibawah b)oxer yang longgar itu.... terlihat... sesuatu ...yang berdiri dengan tegak.
Aku beringsut dengan pelan menegakkan tubu*hku, tubuh dengan pahatan mengagumkan itu, perut yang berot*ot, da*da dan tangan yang dipenuhi b*ulu itu. Pemandangan ini terlalu sulit untuk di tanggung.
Dan pikiranku membuat banyak bayangan tentang apa yang bisa dilakukan oleh tubuh luar biasa itu jika kau bisa memeluknya, dia sangat ma*nly dengan per*ut setengah terbuka, berlekuk, da*da berb*ulu dan tonj*ol*an yang sangat provokatif dibawahnya. Melihatnya begini benar-benar membuatmu terpesona, dan tak bisa mengalihkan matamu, dan bagian dari tubuhku dibawah sana tanpa sadar membuat dirinya lebih basah siap untuk sesuatu yang ku lihat itu.
Silakan komen mak-mak 🤪🤪🤪🤣🤣🤣😜
Komen mak \= pengen nyabutin setelah dia di iketðŸ¤
Tiba-tiba matanya terbuka, dia melihat ke arahku yang langsung memalingkan muka. Aku tertangkap basah memandanginya. Lalu dia memandangi dirinya sendiri, tersenyum lagi padaku. Mukaku langsung panas tertangkap seperti itu.
"Honey, selamat pagi. Kau suka pemandangan pagi ini. Dia bangun tanpa kusuruh. Maaf membuatmu bernaf(su sepagi ini." Dia membuat komentar yang membuatku tak berani lagi melihat kepadanya.
"Siapa yang bernaf*su padamu." Aku yang tertangkap basah tak punya kesempatan membela diri.
"Sudah berapa lama kau memperhatikanku. Kau bisa ke sini lebih jelas pemandangannya. Pegang dan gunakan juga tak apa, aku pasrah apapun yang kau inginkan. Aku yakin ketebalannya akan cukup untukmu, jika kurang akan kuusahakan teknik yang memuaskan. Kepuasanmu akan diutamakan." Iblis ini sedang memasarkan dirinya. Sungguh tak tahu malu.
"Dalam mimpimu..."
Dia melihatku dan aku kembali melihatnya, dia menaruh tangannya di boxernya membuat gerakan yang seperti mengelus dirinya sendiri dan membuat mataku memanas. Sialan, Iblis ini memamerkan dirinya sendiri padaku. Mukaku tambah panas.
"Kita tidak sedang bermimpi, aku pasrah kau gunakan sekarang, mumpung ini masih sangat keras. Mau diatas atau dibawah? Mau masing-masing coba dari satu ronde juga boleh." Sekarang telingaku yang panas.
"Wajahmu merah lagi, kau sebenarnya perawan atau bukan? Atau tadi kau sudah main solo, itu tidak adil. Kau sudah gol aku belum. Jangan-jangan kau sudah banjir di bawah sana. Honey...mau ke sini, aku tak akan main kasar." Kurasa sekarang kupingku yang berwarna seperrti udang masak.
"David! Berhentilah!" Kulempar satu bantal padanya. Dia tertawa, dan bertopang dagu melihatku.
"Otakku tak bekerja seperti itu. Melihatmu bukan berarti aku tertarik padamu."
"Omong kosong apa itu. Kau melihatku sebagai peralatan yang bisa kau gunakan saja, sudah terpampang di sini. Kenapa kau tak mencobanya, aku compatible dengan semua tipe colokan ."
"Aku bukan colokan listrik!" Kurang ajar kau pikir aku colokan listrik yang bisa kau masuki.
"Benarkah kau tak mau mencoba menyentuh ini " Sekarang dia mengelus da*danya sendiri. Iblis ini benar-benar sengaja membuat pertunjukan stript*ease di sini.
"Aku mau pergi sarapan!" Aku langsung turun dari bed dan pergi ke kamar mandi.
"Kau tidak seru..." Dia menertawakanku dengan puas. "Peraw*an penakut. Kau memalukan, sudah basah tapi bilang tidak mau."
"Aku bukan peraw?an! Cuci otakmu itu." Satu bantal lagi melayang.
"Aku tak percaya, sini aku periksa dulu, yang harus dicuci otak itu kau."
Aku membanting pintu kamar mandi dan dia terdengar tertawa. Iblis itu senang sekali menertawakanku.
Aku sudah berganti pakaian dan akan pergi sarapan. Ketika keluar dia masih tersenyum padaku.
"Honey, kau tidak menungguku sarapan."
"Kau pergi sendiri. Jangan lama-lama, kita harus menghandiri pemberkatan pernikahan jam 11."
"Iya aku tahu."
"Jangan memanggilku Honey, sejak kapan aku jadi kekasihmu?!"
"Iya-iya, baiklah. Itu cuma panggilan, jangan terlalu sensitif sayang."
Aku langsung menutup pintu. Tak ingin lagi digoda oleh Iblis itu. Untungnya malam ini dia bilang dia akan pergi, tapi dia akan menemaniku jalan-jalan, kapan dia mencari hotel. Nampaknya dia tak akan bersusah payah.
Asal dia tidur di tempatnya seperti semalam. Aku tak punya masalah.