
Aku melihat kesibukan tak biasa saat melewati lantai pertama kantor. Lantai pertama adalah lokasi kantor General Manager hotel ini. General Manager adalah kepala unit hotel ini. Bertanggung jawab langsung ke CEO di Miami. Di front office reception area ada lagi Manager shift yang bertugas.
"Apa yang terjadi?" Aku bertanya pada salah seorang staff di sana.
"Ada yang gantung diri di kamar hotel Nona."
"Ohh."
Segala macam bisa terjadi di hotel. Dari yang tamu yang absurd , menjijikkan sampai mengerikan ada di sana. Tugas semua orang adalah menyimpan semua kejadian itu jangan sampai terlihat dan tidak menggangu tamu lainnya. Mereka akan memanggil polisi, memastikannya bekerja tanpa keributan lewat jalan belakang agar tak menganggu tamu, jika bisa orang di sebelah kamarmu jika ada tak tahu ada hal semacam itu terjadi.
Inti dari yang kami lakukan adalah, menjaga agar tamu tidak terganggu, jika kemudian wartawan ingin bertanya, sihlakan minta ke polisi tapi tidak ada yang melayani pertanyaan di hotel. Dan sebisa mungkin jika bukan orang terkenal, kami tidak ingin nama kami muncul di surat kabar manapun, kami bersedia membayar agar nama kami tidak muncul. Itu pengeluaran yang disetujui. Kau tidak ingin bukan hotelmu sering masuk surat kabar karena banyak tamu yang meninggal di sana. Itu sangat buruk untuk bisnis.
Orang meninggal di salah satu kamar dan ditemukan oleh pembersih kamar mungkin tak sering terjadi tapo bukan hal yang tidak pernah terdengar.
Ya, itu masalah, tapi di hotel masalah terjadi setiap hari, dari tamu yang terlalu mabuk , tamu jorok, tak tahu sopan santun, tamu licik sampai tamu yang ingin mati seperti hari ini.
Aku pernah mendengar salah satu tamu licik yang membuat baut wastafel longgar dan mengatakan itu menimpa kakinya hanya untuk upgrade kamar standard ke suite. Yang lainnya terlalu jorok membiarkan bekas kond*om berceceran begitu saja di meja. Yah, mereka mungkin tak tahu kotak sampah sùdah ditemukan.
"Ada apa?" David yang menyebut dirinya kekasihku itu sekarang ada disampingku. Entah darimana dia, mungkin dari ruangan GM Hotel.
"Ada yang bunuh diri kata mereka."
"Ohh." Kami sudah biasa dengan berbagai macam kejadian aneh, sampai Davidpun sudah menganggapnya biasa, bagaimanapun sudah ada standart prosedur penanganannya. "Sayang, aku harus ke hotel baru. Ada yang harus kuurus." Aku melihatnya bersiap pergi. Selain label kekasih yang diketahui semua orang, sebenarnya hubungan kami sama saja. Dia tahu aku belum mempercayainya dan label itu tak berarti bagiku. Kecuali berita itu menyebar dan membuatku menjadi sasaran kecemburuan, membuatku khawatir apa ada yang sengaja mencari drama denganku.
"Kau tak harus laporan padaku."
"Aku merasa perlu laporan padamu, kau harus tahu dimana aku. Sebagai kekasih yang baik kau juga bisa minta tolong apapun padaku. Jika kau curiga aku sedang bersama wanita lain sihlakan video call." Penjelasan panjang itu membuatku meringis.
"Begitu?"
"Iya begitu."
"Terserah padamu." Aku mau tahu sampai di mana dia bosan tak kutanggapi, sementara dia selama ini terbiasa wanita memujanya. Mungkin dalam satu bulan kedepan dia sudah berselingkuh dengan wanita lain dan dia akan berhenti mencariku. Dengan tak berharap apapun padanya aku men
"Sayang, kenapa kau kejam sekali padaku."
"Aku penyihir, penyihir memang harus kejam..Hati-hati di jalan." Aku meninggalkannya dengan senyum lebar dan menuju ke lift kembali ke ruanganku.
Janette mengatakan padaku dia serius. Buat apa dia bersusah payah untukmu kalau dia tak serius. Iya, aku berpikir ada kemungkinan itu, tapi dari 37 tahun hidupnya kenapa dia serius kepadaku. Aku bukan siapa-siapa, tidak lebih cantik dari mantan pacar-pacarnya, aku bahkan tak mau bertanya padanya kenapa karena meragukan ide itu.
Tapi seperti katanya karena aku top management, nampaknya tak ada di kantor ini yang berani berkomentar macam-macam atau melakukan hal aneh di depanku. Jannette bilang jika aku diumumkan sendiri oleh David sebagai kekasih, mengangguku berarti menggangunya. Siapa yang berani berhadapan dengan resiko dipecat seperti itu.
Jadi biarlah kita melihat beberapa bulan ini apa yang dia lakukan karena tak mendapatkan apa yang diinginkannya. Kurasa dia akan mudah beralih. Lagipula dia tidak bersikap memaksa dengan kedekatan fisik seperti pertama di Barbados, tidak membuatku harus merasa risih jika dia terlalu dekat.
Sementara itu pertemuan di Miami di level top management berlangsung, kami harus ke Miami kurang lebih tiga hari.
Sebagai kekasih dia memaksa duduk bersamaku dalam penerbangan NY ke Miami selama tiga jam sore itu.
"Sayang, aku membelikanmu kue coklat yang enak, kau harus mencobanya." Dia membawakan sebuah ķotak ke depanku. Aku melihat ke kekasih tersayangku ini. Sudah tiga minggu dia bersikap terlalu manis seperti ini.
Sekarang dia duduk disampingku, padahal aku sudah check ini dengan Olivia, salah satu GM hotel lainnya di NY. Tapi dia bisa membuat Olivia pindah ke tempat yang lain.
"Mana Olivia?"
"Ah, Olivia bilang dia ada yang perlu dia bicarakan dengan GM Allessandro. Jadi kita berganti tempat."
Saat dia duduk parfum yang sekarang seperti sudah menempel di otakku mulai mengelitik penciumanku lagi. Dan dia selalu memilih pakaian provokatif, yang biasa bagi orang lain tapi luar biasa untuk dia. Kaus polo lengan pendek polos yang memperlihatkan lengan berbulunya dan otot bisep da*danya, sebenarnya seluruh tubuhnya dengan luar biasa. Aku wanita normal tak mungkin aku tak terpengaruh dengan pemandangan ini, dan kurasa dia tahu itu.
Kulit lengannya berges*ekan dengan kulit lenganku, aku memakai blouse lengan pendek agak santai untuk ke Miami. Aku merinding, dengan cepat aku menarik tanganku dia memperhatikan itu.
"Maaf aku menyenggolmu." Dia sedikit tersenyum melihat reaksiku. "Ayo coba, buka mulutmu." Dia sudah membuka slice kue itu dan menyuapkannya padaku. "Aaa...sayang." Panggilan seraknya membuatku tambah merinding.
"Kenapa, ini hanya kue coklat. Aku membelikannya untukmu." Dan aku tahu dia sangat mengerti dengan daya tariknya sendiri.
"Aku makan sendiri." Kuambil kotak kue itu darinya beserta dengan sendoknya. Penerbangan tiga jam ini jauh dari selesai dengan godaan yang lebih menyakitkan dari kue coklat.
"Baiklah." Belum cukup dia memperhatikanku memakan kue itu dengan pandangan penasaran.
"David. Berhentilah menatapku." Aku benar-benar ingin mengenyahkannya dari sampingku.
"Kenapa aku tak boleh menatapmu. Kau kekasihku."
"David, kau bisa memilih orang lain jadi kekasihmu. Kenapa aku, aku tak lebih cantik atau kaya untuk jadi kekasihmu." Aku memakan kue itu, dia benar ini enak.
"Kau benar soal itu. Tapi kekasihku tak perlu terlalu cantik atau kaya, aku hanya perlu orang yang tepat untukku. Kuenya enak bukan?"
"Enak ..."
"Aku lebih enak, mau mencicipiku."
"Kau boleh mencicipi yang lain."
"Nanti kau menyesal membiarkan aku dicicipi yang lain."
"Itu berarti, kau berselingkuh. Kita bisa menemukan alasan putus dengan mudah." Aku menghela napas panjang. "David aku sama sekali tak mempercayaimu bagaimana bisa kita bersama."
"Kau akan belajar mempercayaiku."
"Kau tak ingin berpetualang lagi."
"Tidak, aku mau jadi pria normal saja seperti temanku."
"Siapa teman yang kau maksud."
"Kau mengenal Xavier bukan, dia orang terlurus dalam urusan asmara?"
"Ohh pengacara tampan yang ramah itu."
"Aku lebih tampan dari dia."
"Tampan itu relatif. Aku lebih memilih dia daripada kau."
"Kau benar, cantik itu juga relatif. Aku lebih memilih kau dibanding Margie." Kami berpandangan satu sama lain.
"Kenapa aku?"
"Karena mungkin awalnya aku belum pernah bertemu yang tidak tertarik padaku, kau wanita yang merubah kehidupanku bisa dibilang, membuatku tidak dendam lagi pada masa laluku. Dan kau bukan orang yang akan menyerah pada keluarga."
"Aku menyerah pada pengkhianatan David, jika aku menemukanmu berkhianat mungkin aku tak akan bertahan."
"Iya, aku tahu bagian itu. Kau mungkin tak tahu aku juga tahu rasanya tak punya Ayah dan Ibu, dan merasa dibuang. Jadi bisakah kau memberiku kesempatan."
Aku diam tak menjawab, apa bisa aku mempercayai ini. Aku benar-benar tak tahu. Tapi ada satu hal yang harus kupastikan.
"Kau tak mengatakan aku kekasihmu kepada orang tuamu bukan?"
Dia tersenyum kecil padaku.
"Kenapa kau tersenyum?" Apa arti senyumnya itu? Jangan bilang dia ....
"Jelas aku mengatakannya." Senyumnya tambah lebar.
Dan aku tak percaya apa yang kudengar.