The Devil's Lover

The Devil's Lover
Part 49. Forgive Me



POV Carla


Makan siang bersama. Ada enam orang selevel Direktur yang ikut. Kami memilih sebuah restoran Mexico yang tak terlalu jauh dari kantor kami.


David datang dengan Christian, sementara aku pergi dengan Julia, Direktur Legal, yang sama-sama wanita. Aku melihat dia datang dengan Christian, Christian memang tak bisa diharapkan, sudahlah aku tak akan menyusahkannya lagi.


"Carla. Aku sudah membawa David. Apalagi yang harus kulakukan?"


"Tidak ada, hanya membawanya saja."


"Hmm baik."


Restoran Mexico ini punya bar yang buka untuk coktail di siang hari. Itulah kenapa aku ingin teman Jannette yang tampan itu menyapaku hari ini.


Kami makan bersama, aku bersikap hari ini tak akan terjadi apapun. Tak ada yang tahu sebenarnya hubunganku dengan David di sini, hanya Christian yang terlibat diantara kami.


Tepat di penghujung acara makan siang itu ketika seorang pria tampan, yang setara dengan penampilan iblis itu terlihat di bar. Aku pamit ke toilet dan berakhir memesan mojito untuk terlihat bicara dengannya.


"Halo namamu Alex bukan? Janette bilang kau bersedia membantuku."


"Aku Alex, Jannette sudah memberi fotomu. Orang yang harus kau panasi sudah ada di sini?" Alex yang bekerja sebagai model ini, bisa dikatakan punya tinggi yang sama, proporsi badan yang lebih bagus, wajah yang terlihat lovable dan ramah.


"Sudah, tapi kita tak usah menatap padanya. Jadi ceritanya kau harus pura-pura bicara denganku, lalu kita bertukar nomor telepon, nanti sore jemput aku di kantor dan nanti malam kau terpaksa tidur di apartmentku dulu."


"Mengerti, aku lakukan ini untuk 3.000 dollar hari ini."


"Betul. Tapi aku tak ingin kau tidur denganku."


"Aku mengerti, kau hanya ingin drama. Akan aku buat drama yang kau inginkan dengan baik."


Aku bicara sedikit dengannya sebelum kami bertukar nomor ponsel. Lalu berpisah dengannya. Dengan sudut mataku aku bisa menangkap pandangan tajam David, tapi aku tak perduli. Dia harus merasakan sakitnya dikhianati, jika dia marah dan tersinggung sihlakan pergi dan kembali ke NY.


"Siapa yang kau sapa itu." Julia bertanya padaku.


"Namanya Carlos. Tampan bukan."


"Iya dia tampan untuk diajak kencan." Aku tertawa, Julia benar. Christian mungkin tak bisa kuajak untuk membuatnya cemburu, tapi yang ini jelas bisa.


Mungkin dia tahu aku sengaja memperlihatkan hal itu untuk membuatnya cemburu, apa dia tidak memikirkan aku sakit hati ketika dia tidur dengan wanita lain. Bagaimana kalau keadaan di balik sekarang.


Jannette membantuku untuk melihat kapan David pulang karena aku ingin memperlihatkan itu di depan wajahnya. Baru aku puas.


Aku tiba untuk turun ke bawah bersamaan dengannya di depan lift. Dandananku sudah diperbaiki, aku nenambah aksesori dan aku siap berpesta.


"Mau kemana?"


"Jalan-jalan mencari kencan." Aku membalasnya dengan cepat. Dia menghela napas panjang.


"Kau melakukan ini hanya untuk membalasku?"


"Ya mungkin. Tapi kau juga melakukannya dengan lima orang lainnya, ini jika sesuatu terjadipun belum impas bukan?"


"Carla, tak perlu seperti ini."


"Perlu, baru 5 vs 1, aku masih punya jatah empat kencan lagi. Mungkin 10, mana kutahu kemarin saat tahun baru kau tidur dengan berapa orang."


Dia diam. Aku juga diam. Disisi lain aku kira aku bisa membalasnya tapi kemarahan di hatiku tidak juga hilang, rasanya tambah marah. Di tambah hari ini badanku tidak enak dari pagi. Mungkin aku mau flu, rasanya tak keruan, pusing, nampaknya aku demam dan nafsu makanku berkurang. Aku nampaknya lapar, tapi makanan tak menarik hari ini.


Lift berdenting dan aku menemukan pintu terbuka. Aku tak berniat melanjutkan kencan ini lagi. Aku hanya mau tidur hari ini.


Di area lobby Carlos menungguku. Aku menghampirinya.


"Carlos, aku tak jadi pergi bersamamu. Aku tak enak badan tapi bayaranmu tetap aku bayar tenang saja.


"Begitu? Apa aku perlu mengantarmu. Aku membawa mobil sekarang seperti yang kau suruh."


"Boleh." Jasa kencan ini sia-sia, padahal aku sudah membayangkan aku bisa membuat cemburu David. Dan melihatnya sedikit mengeluarkan emosinya.


"Kalau begitu ayo, kau mau mengandeng tanganku, setidaknya kita bisa membuat sedikit pertunjukkan bukan."


"Kau benar." Aku mengandeng tangan Carlos. Kami berjalan ke tempat parkir bersama. Untunglah Carlos menawarkan mengantarku, mana bisa aku mengemudi sendiri dengan kepala pusing dan badan demam seperti ini.


"Itu cukup, kau tak akan kemana-mana." David sialan ini akhirnya menampakkan diri. Nampaknya dia sudah sampai di titik didih. Dia menarik tanganku dan memisahkan posisi aku dan Carlos.


Aku melihatnya yang menggengam pegelangan tanganku dengan erat.


"Carlos mengantarku pulang, kau jangan ..." Perutku membuat ulah. Nampaknya sereal yang tadi aku makan untuk menahan lapar mau keluar. Aku mengeluarkan suara igin muntah dan melepaskan pegangan David.


Aku berlari ke kamar mandi yang ada di koridor gedung itu dan memuntahkan isinya di toilet. Sial. Kenapa sebenarnya aku bisa muntah-muntah.


Aku menatap cermin. Sebuah pikiran yang melintas di benakku membuatku berkeringat dingin. Aku ingat akhirnya bulan ini aku belum mendapatkan periode bulananku. Harusnya itu awal bulan, dan aku tak memperhatikan karena memang kadang telat.


Mukaku pucat, kepalaku tambah pusing, dengan kemungkinan ini aku tambah lemas.


"Carla? Kau baik-baik saja?" Suara David memanggilku. Aku menghela napas mengumpulkan diriku. Ini tidak akan terjadi padaku. Aku sudah meminum pilku. Mungkin benar cuma flu berat.


"Kau sakit?" David menunggu di luar restroom melihatku dengan menyelidik. Aku tak menemukan Carlos, mungkin sudah pergi karena diancam David.


"Aku mau pulang, aku cari taxi sendiri." Aku menjauh darinya dan pergi kembali ke arah lobby. Tapi dia mencekal tanganku.


"Kuantar kau pulang."


"Aku pulang sendiri." Aku menarik tanganku tapi dia tak mau melepasku.


"Kau boleh melanjutkan marahmu besok, setelah kau sehat. Kuantar kau ke dokter sekarang." Dia malah tersenyum. Apa yang ada di pikirannya. Apa dia menduga apa yang terjadi padaku, dia mengusahakan itu sebelumnya


"Aku tak mau ke dokter."


"Kau harus ke dokter sayang."


"Aku mau pulang dan tidur!" Dia melihatku yang masih mempertahankan tanganku tak bergerak dengan kepala pusingku. "Lepaskan aku, aku bisa pulang sendiri!"


"Baik-baik, ayo pulang. Besok saja kita ke dokter. Maafkan aku. Ayo pulang, apa kau pusing, wajahmu pucat. Nanti kubelikan vitamin."


Aku menurut dia menarik tanganku. Kepalaku pusing, dan badanku benar tak keruan aku ingin berbaring. Saat sampai di mobilnya aku langsung memejamkan mata, badanku kacau, perasaan dan pikiranku lebih kacau lagi.


"Carla kau baik-baik saja? Kau pulang istirahat, kau ingin makan sesuatu. Aku belikan?" Aku tak menjawabnya. Mataku terpejam , kemungkinan kehamilan ini membuatku tak siap mental.


"Semuanya akan baik-baik saja, apapun yang terjadi aku akan ada di sisimu." Dia mengambil tanganku dan mengenggamnya.


"Memangnya apa yang akan terjadi." Aku menarik tanganku kembali, tak ada kemudahan memaafkannya secepat ini, apapun yang terjadi.


"Apapun yang terjadi."


Aku memejamkan mata. Jika ternyata benar, apa yang harus kulakukan.


"Kau ingin makan apa. Aku pesankan jika kita sampai."


"Aku belum berbaikan denganmu."


"Kau sedang sakit. Jika kau sudah baik kau boleh memarahiku lagi. Apapun yang kau katakan akan kuterima. Aku memang salah, tak ada pembelaan untuk itu. Tapi aku tidak akan melepasmu."


"Dimana Carlos?"


"Sudah kuusir tentu saja. Pacar sewaanmu itu tak akan berani muncul lagi. Tak usah menyusahkan dirimu sendiri menyewa pacar sewaan, itu tak mempan untukku. Aku akan mengancamnya sampai dia pergi."


Aku meringis mendengarnya.


"Usir 4 orang lagi baru kita impas."


"Bagaimana jika aku membelikanmu 4 barang yang kau suka. Itu terdengar lebih baik bukan." Dia tersenyum padaku.


"Kau pikir aku memaafkanmu hanya dengan kau membelikanku sesuatu."


"Negosiasi dengan penyihir menang sulit."


"Dasar Iblis." Dia tertawa sekarang. Dia coba mengenggam tanganku lagi tapi aku menepisnya.


"Ya baiklah, kau masih marah.Seperti katamu aku memang pantas kau marahi. Aku ada di sini, marah-marah saja padaku, akan kuterima."


bersambung besok----