
"Pergilah ke kamarmu."
Rambut setengah keringku diacak oleh David ketika aku sedang menggunakan hair dryer. Dia memelukku dari belakang dan mematikan hair dryerku.
"Kenapa jika aku tetap di sini memangnya."
"Aku tak terbiasa tidur berdua."
"Kau akan terbiasa, sekarang waktunya belajar untuk tidur berdua, aku hangat untuk dipeluk." Apa dia mengatakan ini ke semua wanita. Ke semua teman wanitanya.
"Kau tidur sampai pagi dengan semua teman wanitamu juga?" Aku bertanya sambil memandangnya dari kaca kamar mandi. Dia membalikkan badanku untuk pertanyaan itu.
"Jangan bicarakan semua teman wanitaku. Mereka di masa lalu, di masa sekarang hanya kau dan aku." Aku menatapnya, aku ingin percaya itu. Ingin jatuh cinta padanya dengan segenap hatiku dengan perlakuan manisnya padaku, tapi sebagian dari diriku mencegahnya.
"Ya baiklah. Maafkan aku." Aku meminta maaf untuk itu dan tersenyum padanya. "Baiklah tapi jika aku tak bisa tidur nanti kau pergi oke."
"Aku bisa membuatmu tidur dengan lelap." Dia mulai menciu*mi tengkukku. "Kau wangi..."
"David..." Belum cukupkah yang tadi, dia sudah mendapatkan pelepasannya. Dan aku sudah 3x melemas karenanya. Aku pergi dari kamar mandi. Dia tertawa melihatku pergi. Nampaknya dia belum selesai.
Aku berbaring ke bedku, televisi masih menyala, aku mencari timernya dan mengeset waktu matinya. Sementara David tiba di sampingku dan melihat apa yang aku lakukan.
"Jadi kau tidur dengan ditonton televisi?"
"Iya." Memang begitu caraku tidur, aku tertidur dengan suara sayup-sayup televisi yang masih menyala.
"Apa harus."
"Tidak jika aku sudah terlalu lelah."
"Begitu." Dia memelukku, pelukan hangat ini, apa aku bisa bertahan tak jatuh cinta padanya. Sebuah ciuman lembut menyentuhku.
"Kenapa kau menciumku..."
"Tak boleh?" Menyusul sebuah ciuman lainnya, kali ini lebih dalam, aku ikut membalas memeluknya dan membalas ciumannya.
"Apa 3x tadi menyenangkan." Aku tertawa kecil, ternyata playboy ini masih punya banyak tabungan untuk dikeluarkan. "Jawab aku apa kau menyukainya."
"Aku menyukainya." Aku membiarkan tanganku mengelus lekukan perutnya.
"Sekarang kau punya dua yang kusukai dariku. Dan yang satu tak tergantikan." Aku tertawa sekarang, dia benar soal itu. Keunggulannya yang itu tak tergantikan.
"Apa yang kusukai dariku." Aku bertanya dan menatap matanya.
"Kau merubah hidupku dan satu-satunya yang membenciku, sebenarnya aku penasaran karena kau membenciku, gadis lain bahkan meleleh karena tatapanku. Tapi kemudian aku tahu kenapa, aku jadi mengerti, kita punya luka yang sama, dan sama-sama tak ingin mengulanginya. Hal yang berbeda adalah, kau menjadikannya pelajaran."
"Apa itu cukup?"
"Cukup untuk apa?"
"Membuatnya bertahan." Apa dia akan setia padaku. Apa dia tidak akan menyentuh wanita lain.
"Kenapa? Apa itu tidak cukup untukmu?"
"Apa kau tak tertarik mencicipi wanita lain. Mungkin banyak yang lebih s*exy dariku."
"Se*xy itu relatif, suaramu tadi sangat se*xy, gerakan tubuhmu saat mendapatkan puncaknya tadi, sangat se*xy. Kita coba dengan cara lain." Dia langsung menciumku kali ini, sesuatu dibawah sana bangun begitu saja. Dan tangannya melucuti c*elana pendekku dengan cepat.
"David, apa yang kau lakukan..." aku merengek menahan tangannya.
"Membuatmu tertidur." Tapi gerakannya tak bisa dilawanm Dia membelakangiku setelah membuatku polos di bawah sana. Ciumannya menyasar tengkukku sementara tangannya menemukan hal yang dia harus mainkan di depan tub"uhku.
"Bagaimana aku tidur jika kau membuatku berkeringat lagi." Aku mengerang karena kegelian.
"Yang ini tidak akan membuat kita berkeringat."
"David..." Aku protes lagi ketika jemarinya ada dibawah sana mengelitiku. Aku menahan tangannya, tapi bagaimana aku bisa menghentikannya, aku tak punya pertahanan apapun di bawah sana, dia sudah melepas semuanya. Erangan dan sekaligus penolakanku membuatnya bersemangat.
"Sayang kau sudah sangat basah. Kau gampang dipancing, aku s*exy bukan."
"Ehmm...kau sialan." Dia tertawa mendengar gerutuanku tapi di sisi lain aku mendesah karena yang dilakukannya padaku menyenangkan.
"Katakan saja kau menikmatinya. Tak perlu malu padaku sayang."
Aku menikmati yang dilakukan playboy dengan jam terbang tinggi ini, jarinya dan ciumannya bisa membuat rintihanku menggila dan aku didorong sampai ke tepi roller coaster yang menyenangkan. Tapi dia berhenti, dia saat aku diujung perjalananku. aku langsung protes.
"David!"
"Apa?" Dia tersenyum lebar, dia sangat tahu kenapa aku kesal. "Katakan apa yang kau mau..."
Aku tak mengatakan apapun. Dia menarikku mendekat.
"Aku ingin merasakan kau datang." Dia mendorong dirinya sendiri ke dalam t*ubuhku dari belakang, memelukku dengan erat dan bergerak perlahan. Aku me"len"guh lagi, ini posisi sempurna.
Dia tahu bagaimana membuatmu menyerah kalah kapanpun dia mau. Bagaimana wanita tak tergila-gila padanya walaupun dia hanya menganggapmu teman.
Dan Iblis itu sekarang tak terburu-buru, dia berc*inta denganku. Membuatku merasa diperhatikan, disayang dan dimanjakan dengan kata-kata dan apa yang dia lakukan padaku.
Bukankah dia luar biasa. Dia melakukannya dengan luar biasa.
"Tidurlah sweetheart." Dia bahkan merapikanku kembali, memakaikan pakaianku dengan rapi dan menciumku dengan ucapan selamat tidur.
"David,..."
"Hmm ..."
"Jangan lakukan ini lagi. Aku lemas." Dia tertawa.
"Dan kau akan tidur dengan pulas."
"Kau sangat hebat." Aku berbaring hampir memejamkan mataku sambil melihatnya.
"Aku memang hebat dan aku kekasihmu." Dia sangat sombong dengan itu.
"Tetep saja pengeluaran kartu kreditmu masih kuawasi..Kartunya tak akan kembali padamu." Sekarang dia tertawa dan memelu*kku dengan gemas.
"Kau masih bisa mengancamku Nona Penyihir, kau mau kukerjai lagi."
"Awas kau, aku mau tidur." Aku mendorong wajahnya ke belakang dan dia melepaskanku. Kami berpandang-pandangan sambil berbaring.
"Tidurlah." Dia merapikan rambutku dan menaruhnya di belakang telìngaku. Apa aku bisa bertahan tak jatuh cinta pada Iblis ini. Bagaimana mungkin karena dia semanis ini.
"Terima kasih." Karena dia memberikan malam ini. Sesuatu yang tak akan pernah kulupa sampai nanti, meskipun jika nanti kami tak bertahan tapi aku tak akan lupa pernah ada malam berbintang seperti ini.
"Aku yang harusnya bilang begitu. Tidurlah, besok hari kita masih panjang."
Perjalanan kami masih panjang. Apapun yang terjadi depan, hadapi saja.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
PS : Yang minta digenepin 4x komen sini abang udah genepin, jangan malu tunjukkan dirimu 😁😁🤣🤣🤭
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Miami telah terlewati, kami kekasih itu tak bisa didebat setelah malam panas itu. Kami menjadi lebih dekat, ...aku takut jatuh cinta padanya tapi akhirnya aku sadar mungkin aku tak bisa menghindarinya.
Jannette menertawakan ceritaku. Dia bilang nampaknya walaupun aku putus dengan Iblis itu aku akan teringat-ingat dengannya. Dia benar, walaupun aku putus dengan Iblis itu, aku pasti akan ingat dengannya.
Dan Ibunya mendukung kami, dia senang aku dan David akhirnya sepakat bersama. Dia mengundang kami ke Miami lagi jika kami bisa. Berkunjung ke rumahnya. Aku bilang padanya mungkin aku masih punya beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan, lagipula kami perlu masa penyesuaian dulu. Aku terang-terangan padanya aku belum mempercayai David, akhirnya dia mengerti dan menyerahkan semuanya pada kami berdua.
Itu melegakan, dibebani dengan harapan itu kadang tidak mengenakkan.
"Sayang, aku ikut pulang ke tempatmu." Satu sore dia datang ke ruanganku dan mengajak makan malam.
"Ke tempatku..." Aku berhenti membaca laporan.
"Boleh bukan?" Kami kekasih, pasti dia akan ke tempatku. Apa dia akan tinggal bersamaku.
"Maksudmu kau mau bermalam di tempatku."Aku harus membiasakan diri dengan kehadirannya. Tersenyum padanya, aku tak menjawab pertanyaannya. Dia menyandang status kekasih, dan jelas status itu cukup tinggi.
"Boleh bukan?"
"Atau kau mau tinggal di tempatku."
"Tidak, kau boleh ke tempatku. Tapi apartmentku hanya apartment biasa."
"Tak apa, yang penting orangnya luar biasa." Perayu ini, dia terlatih merayu dan memuji wanita semudah menghitung angka satu sampai 10 di jarinya.
"Mulutmu itu memang manis."
"Bukankah aku juga manis?"
Aku menatapnya dengan pandangan tak percaya pria seumur dia masih menggodaku wanita dengan cara seperti anak high school menggoda kekasihnya.
"Aku tak tahu kau punya penyakit narsis juga."Dia meringis lebar seperti mendapatkan kesenangan dari menggodaku. Nantinya aku belajar ini adalah caranya menertawakan dirinya dan salah satu caranya merayu yang membuatmu merasa dia konyol.
"Aku narsis ke kekasihku sendiri, bukankah itu manis."
"Iya baiklah kau manis. Kau puas sekarang."
Sebuah pesan nampak masuk ke ponselnya, dia melihatnya lalu mengabaikannya.
"Kenapa tidak menjawab pesannya?" Aku ingin mengabaikannya juga tapi aku penasaran siapa yang diabaikannya.
"Bukan hal yang penting di jawab."
"Penggemarmu?"
"Hmm..."
"Siapa? Ray Sommer itu?" Gadis se*xy yang kulihat di Miami.Ternyata gadis itu masih penasaran padanya sampai sekarang. Bekas teman yang seharusnya sudah sadar dia tak dianggap lagi.
"Boleh kutahu apa yang dia tulis." Kupikir dia tidak akan memberikan ponselnya, tapi kemudian dia menyerahkan ponselnya. Sebuah kejutan yang manis, atau karena dia merasa tak ada sesuatu yang berbahaya.
Aku membacanya, ajakan bertemu kembali sejak di Miami, sampai hari ini dia juga mengajak bertemu secara pribadi, tapi David mengatakan dia sibuk dan tidak bisa.
"Ohh dia di NY."
"Iya dia masih punya satu kontrak dengan bagianku untuk memasukkan liburannya ke resort kita. Dia memang tinggal di NY."
"Oh dia punya hubungan bisnis dengan bagian advertisingnu." Bagian itu memang tanggung jawabnya. Aku tak tahu detail pengeluaran advertising dan siapa yang mereka pakai tentu saja.
"Begitulah."
"Hmm...." Aku mengembalikan ponselnya padanya.
"Aku bersikap benar bukan?"
"Katakan padanya jangan menggangguku lagi. Kau sudah punya kekasih." Beranikah dia melakukannya di depanku.
"Sesuai permintaanmu." Dia mengetikkan sesuatu di ponselnya. Dan memberikannya padaku untuk dilihat.
Pada pertanyaaan 'Bisakah kita pergi makan malam.' dia membalas,..
'Aku sudah punya kekasih sekarang, aku tak makan malam dengan gadis lain.'
Sebuah jawaban datang dengan cepat.
📱'Katamu kau hanya berteman dengan gadis-gadis. Siapa yang bisa menjadi kekasihmu?'
Sekarang aku yang mengetik jawabannya.
📱'Bukan urusanmu. Kau tidak mengenalnya, jangan hubungi aku lagi untuk makan malam. Cari pacarmu sendiri, pergi sana!'
Diam di sana tak ada jawaban lagi. Tapi sebuah pesan masuk.
📱'Ini bukan David. Siapa kau?'
📱'Kekasih David. Aku tak suka wanita lain mengajak kekasihku makan malam. Jadi jangan mencoba lagi.' Kubalas dià dengan tegas.
📱'Kekasih....hahaha.... Lucu, kita lihat berapa lama David bertahan sebelum bosan denganmu.'
📱'Yang jelas dia sudah bosan padamu!'
Menyenangkan. Aku ingin melihat apa dia marah padaku membalas chat wanita itu. Aku mengembalikan ponselnya. David melihatnya, dia meringis kecil, nampaknya dia tidak marah sama sekali.
"Apa kau marah?"
"Tidak, kau berhak melakukannya."
Aku berhak melakukannya? Dia serius? Itu niat baik untuk playboy seperti dia, meningkatkan kepercayaanku padanya.
"Apa boleh aku melihat ponselmu? Harusnya tak ada rahasia antara kita bukan?"
"Boleh jika kau ingin. Kapan saja."
Aku tak suka harus mengawasi orang seperti ini. Tapi kau tahu hubungan kami dimulai dari tidak adanya kepercayaan.
"Baiklah. Ayo kita pulang dan cari makan malam." Setidaknya dia mencoba bertindak yang benar bukan.
Mungkin perlahan aku bisa mencoba mempercayainya, seperti yang dia katakan dia juga berusaha. Dan kami didukung oleh Ibunya.
"Terima kasih untuk berusaha." Aku mengambil tangannya dan mengenggamnya saat kami duduk berdua di sofa apartmentku. Dia menoleh padaku.
"Maksudmu?"
"Membiarkanku untuk membuka percakapan ponselmu. Aku tak ingin begitu, tak nyaman untuk membuka ponsel orang lain melanggar privasi, tapi aku ...belum mempercayaimu." Dia merangkulku.
"Aku tahu... tak apa. Itu bukan masalah bagiku." Dia menerima aku mungkin curiga dan bertindak berlebihan. "Kita jadi kekasih sudah seminggu." Tiba-tiba dia bicara.
"Lalu..."
"Rasanya menyenangkan punya seseorang yang kau coba percaya. Biasanya aku tak berbagi banyak hal ke teman-teman wanitaku, tak berbagi terlalu dalam apa yang kupikirkan, walaupun mungkin aku murah hati."Sekarang aku mendengar kesungguhan dalam perkataannya.
"Aku senang kau nyaman dengan hubungan kita. Tapi perjalanan kita masih jauh."
"Aku berusaha mengubah citraku di depanmu." Aku tersenyum padanya. Jelas dia berusaha sampai sekarang.
"Kau tahu jika kau tak nyaman dengan hubungan kita. Dan ingin mengakhirinya katakan saja. Lebih baik mendengar kebenaran sekarang. Kita bisa berpisah baik-baik. Tapi jika kau berselingkuh kita tak berpisah baik-baik."
"Sayang kau benar-benar meragukanku. Kumohon berilah aku kesempatan."
"Bukan, bukan aku tak memberimu kesempatan, hanya aku bersikap terus terang padamu dan membebaskan apapun yang kau mau."
"Aku hanya mau kau."
"Berhentilah menggombaliku. Aku tak percaya gombalanmu." Aku mendorong wajahnya yang mendekatiku sekarang karena dia sedang memeluk pinggangku.
"Dimulut kau bilang tidak suka, tapi di hati walaupun kau tidak sadar kau menyukainya. Wanita mereka memang aneh, kalau suka bilang saja suka. Dasar wanita..." Sekarang aku tertawa.
"Kau cantik jika tertawa lepas begini, paling cantik, penyihir tercantik yang pernah kutemukan." Gombalannya mulai lagi tapi yang ini pasti ada maksud lainnya karena dia sudah mulai menciu*m-ci*um t*engkukku.
"Aku sudah basa*h..."
"Apa? Kau bilang kau sudah ...." Dia melihatku dengan heran, padahal dia belum memulai apapun. Baru ciuman, tapi aku jelas sudah membayangkan apa yang terjadi.
"Pria, mereka nemuji, bersikap royal ujungnya hanya satu, membuat bas"ah satu tempat..." Aku yang menciumnya sekarang, duduk di pangkuannya dengan berani. "Aku sudah bas*ah, tubu*hku membasahi diri secara otomatis di dekatmu. Apa kau sudah kera*s. Perlu kubantu mengeraskan diri." Sekarang dia tertawa senang.
"Kau sangat cepat belajar gadis pintar. Tub*uhmu nampaknya sudah mengenalku dengan baik."
"David ke kamar saja." Dengan cepat Iblis ini memulai permainan pembuka yang menbuatmu mende*sah dan irama jantungmu berubah.
"Mau berapa kali sayang."
"Sekali saja, besok kita masih bekerja."
"Keinginanmu adalah perintah untukku.Bagaimana kalau dua saja?"
Dan bergitulah, minggu ini setidaknya aku belajar mengenalnya. Mengenal bahwa dia adalah jaminan kesenangan yang akan selalu berhasil menjamin rollercoaster yang penuh hentakan dan rin*tih**han akan berakhir menyenangkan.