The Devil's Lover

The Devil's Lover
Part 34.Miami 2



"Kau memberi tahu Ibumu? Kau gila?!"


"Aku tergila-gila padamu saja."


"Omonganmu tak ada yang bisa dipercaya." Aku mencercanya dan tidak mau melihatnya lagi.


Dia melihatku lalu bersandar ke kursinya.


"Ini penerbangan ekonomi, di belakangan mungkin mendengarkan pembicaraan kita. Aku tidak ingin merayumu di sini. Kita lakukan di tempat lain." Dia mengedipkan matanya padaku. Aku membalasnua dengan meninju lengannya.


"Kau memakai kekerasan, jika itu dikamar akan kucium kau. Kau harus berhati-hati." Dia mengatakan itu sambil tersenyum lebar. "Kita belum pernah ciuman bukan? Nanti di Miami bagaimana kalau kita usahakan."


"Aku akan melemparmu, kau coba saja."


"Kita lihat apa kau bisa melemparku. Aku menunggu untuk mencobanya." Dia tertawa, sementara aku kesal. Dia melihatku dengan penasaran lalu mencondongkan tubuhnya padaku dan berbisik padaku. "Sayang kau bilang kau tak pacaran selama tujuh tahun, kau tak perlu pelepasan, bukankah itu hal yang menyenangkan."


Aku tak mau menjawab satu katapun dari pertanyaanya, aku menolak melihat padanya dan membuang pandanganku keluar dari jendela pesawat.


"Kita bisa mengusahakan kau merasakannya untuk pertama kali. Kau hanya harus percaya padaku, sudah kubilang kau akan menyukainya."


"Bisakah kau berhenti?"


"Kujamin jika kau merasakannya kau tak akan lagi minta berhenti. Apa aku tak bisa mempengaruhimu, kau ketakutan tergoda olehku, kau mungkin sudah bermimpi kita melakukannya bukan." Iblis ini memang sangat sesuai dengan julukannya. Dia bisa membuatmu merasa dibisiki, dirasuki dan otakmu dengan segera membuat bayangannya. "Bagaimana kalau kita wujudkan saja mimpimu itu." Aku melihat padanya sekarang, aku ragu keselamatanku terjamin di Miami.


"Kubilang berhenti..."


"Kau tak berniat menjadi biarawati seumur hidupmu bukan?"


"Jikapun iya, kau masih punya 3 milliar wanita cadangan."


Tiga jam akan lama sekali, penerbangan terlama yang pernah terjadi di hidupku. Aku menutup pikiranku tapi tanpa kuduga tiba-tiba tangannya masuk dan menyelipkan dirinya ke lenganku dan telapak tangannya menggengam telapak tanganku. Jantungku langsung berdetak tak terkendali.


"David..." Aku ingin melepaskan diri tapi dia melingkarkan lengannya yang satu lagi mengunci lenganku.


"Sayang, aku kekasihmu tak usah takut menyentuhku. Kau tak akan jadi biarawati karena aku milikmu. Mengerti, hanya kau yang boleh menyentuhku..." Wajahku memanas mendengar suaranya dan pandangannya yang begitu dekat, jantungku tak pernah berdetak sekencang ini.


Iblis ini membuatku terperangkap tak bisa kemana-mana. Sekarang dia menyandarkan kepalanya di bahuku, brewok di dagunya me*nge*sek di kulit telanj*ang lenganku. Membuatku hampir merin*tih karena rasanya sangat g(eli.


"David, kumohon...." Aku mendorong kepalanya dengan lengan yang lain tapi dia malah menangkap tanganku dan membawanya ke bibi*rnya, aku hampir tak kuasa menahan suara rinti*hanku karena kegelian.


"Kau memohon apapun akan kukabulkan. Tapi tidak termasuk melepaskanmu. Menyerahlah padaku dan akan kubuat kau sebagai wanita paling bahagia di dunia. Kenapa kau membohongi dirimu sendiri tak menginginkan ini, kau takut jatuh cinta padaku? Tak ada yang tidak jatuh cinta padaku, perbedaannya adalah apa aku bersedia memberikan diriku padamu." Dia meneruskan mencium tanganku membuat ku merinding dan jantungku dipacu terlalu kencang terus menerus. Aku lemas dan tak bisa bicara...hanya bisa menjaga diriku tidak bersandar padanya. Aku tidak akan jatuh ke Iblis ini secepat ini. Tidak di Miami...


Dia tersenyum melihatku. Sekarang dia berhenti menciumi telapak tanganku. Membuka kotak kue lain, ada satu cheesecake dengan isi strawberry yang sangat menggoda.


"Kujamin kau juga menyukai ini." Dia menyuapkan cake strawberry itu dengan sendok yang sama saat dia ikut menyuapkannya juga, lalu kembali lagi menyuapkannya padaku.


Kami sudah bertukar penghuni tubuh, bakteri pencernaan kami sudah berkenalan satu sama lain. Ini buruk...Aku harus segera lari dari sini. Tinggal waktu yang tepat dia membuat penghuni tubuh yang lain berpindah, termasuk satu jenis khusus yang punya kemampuan bermutasi menjadi mahluk hidup lainnya.


"Kenapa kau diam saja. Kita masih punya dua kue lagi di sini, yang ini lemon vanilla kurasa dan ini mousse chocolate rum. Kau suka yang mana dari empat ini, aku tak beli terlalu banyak takut merusak makan malam."


Dia berlaku seakan yang dilakukannya adalah hal normal sementara aku shock dia berani memojokkanku dengan kedekatan fisik. Aku pasti tak bisa tidur malam ini, aku tak pernah berdekatan dengan orang yang tak perduli kau setuju atau tidak untuk menyentuhku. Semua kekasihku di masa lalu tidak bisa dibandingkan dengan Iblis ini. Kau tak bisa menebak apa yang akan dia lakukan dan dia tidak akan menuruti aturanmu.


Jikaa kau berpikir dia tidak akan melanggar syaratmu, kau harus ingat dia Iblis, dia bisa mengingkari apapun. Bagaimana aku lari darinya di Miami, apa lagi yang sudah disiapkannya di sana.


Sekarang dia menyuapkan kue yang dibelinya padaku dan berlaku itu adalah hal normal, aku baru saja melewati tiga puluh menit penerbangan, apalagi yang akan terjadi dalam dua setengah jam ke depan.


"Kau baik-baik saja?" Dia bertanya padaku dengan wajah heran. Jika aku tidak pingsan di sini karena serangan jantung itu masih bagus.


"Lepaskan tanganmu."


"Tidak." Dia sekarang mencium tanganku sehingga mukaku tambah panas.


"Aku akan berteriak."


"Coba saja. Kau akan mempermalukan dirimu sendiri, semua orang tahu kita kekasih. Aku hanya memegang tanganmu, kau mau membuat keributan karena kekasihmu memegang tanganmu dan menyuapimu kue."


Akan menyenangkan jika aku bisa menaruh kepercayaan sedikit saja padanya. Kekasih yang kaya, tampan, setia dan romantis, bukankah itu hanya ada di kisah romance novel yang hanya dipercayai anak belasan tahun.


"Kenapa aku tak bisa mempercayai sedikitpun kata-katamu."


Aku melihat padanya. Dia berlaku seperti sangat bersungguh-sungguh dengan semua perkataannya. Tapi jikapun iya bagaimana dengan beberapa bulan lagi , beberapa tahun lagi sampai kapan dia bertahan. Apa aku akan patah hati dalam beberapa bulan atau beberapa tahun bukankah itu sama saja. Atau ada keajaiban terjadi dia benar-benar ingin berubah.


"Jika kita kekasih lalu apa?"


"Apa maksudmu..."


"Mungkin nanti ada kekasih lain."


"Kau salah mengerti maksudku. Aku serius soal kita, umur kita bukan untuk bermain pacar-pacaran. Kita akan tinggal bersama, untuk catatanmu aku belum pernah tinggal bersama wanita, mencoba beradaptasi dengan kehidupan berdua dan memutuskan membangun keluarga?"


"Apa kau tak merindukan terlibat dengan banyak wanita?"


"Aku baik-baik saja sekarang. Dulu aku tidak ingin terlibat dengan wanita karena aku menganggap mereka seperti Ibuku, yang pergi meninggalkanku untuk pria lebih kaya. Sudut pandangku berubah sekarang."


"Mungkin aku juga begitu, aku suka pria yang mapan di banding pria dengan penghasilan biasa saja." Dia tersenyum melihatku.


"Bedanya aku yang mengejarmu, maka itu dibenarkan. Lagipula, kau bilang lebih menyukai Xavier dibanding aku, itu artinya uangku adalah nomor sekian untukmu. Dari awal aku percaya kau bukan wanita seperti itu."


"Playboy sepertimu kenapa bisa mengejar penyihir sepertiku. Aku sangat benci playboy."


"Karena hanya penyihir yang bisa memantrai playboy." Dasar playboy perayu ulung. Dia punya EQ lebih memproses kata-kata rayuan.


"Lepaskan tanganku."


"Kenapa? Terlalu mendebarkan bagimu? Jika sudah terbiasa akan menyenangkan."


"Baiklah, lain kali peganglah aku sesukamu. Dimanapun yang kau inginkan." Akhirnya dia mengembalikan tanganku padaku itupun setelah kutarik sampai lepas dengan susah payah.


"Aku tak mau." Separuh napasku kembali padaku.


"Nanti kau akan mau."


"Berhentilah bersilat lidah denganku."


"Aku bernegosiasi denganmu. Negosiasi tersulit yang pernah kulakukan."


"Kenapa kau mau bersusah payah. Margie akan menerimamu tanpa syarat."


"Kau cemburu pada Margie?"


"Siapa yang cemburu!"


"Kau tak usah cemburu, aku milikmu sekarang." Percuma saja mendebatnya, dia punya jawaban atas semuanya. Tapi yang menjadi masalahnya adalah sampai kapan kata-katanya valid.


"Kemarikan kotak kue itu. Kau membawanya untukku bukan."


"Aku akan menyuapimu itu lebih romantis."


"Kata-kata romantis membuatku mual."


"Kalau begitu kau lebih memilih perbuatan, perbuatanku juga bisa membuatmu mual-mual, muntah dan berakhir di rumah sakit sembilan bulan kemudian. Kau piluh yang mana." Tangannya melingkari lenganku lagi. Dia melarikan jarinya dari atas ke bawah, belum ditambah dagunya yang mencium punggung tanganku. Badanku merinding, pikiranku langsung membayangkan apa yang bisa dilakukannya dengan dagunya saja.


"Jangan mencoba memikirkan macam-macam."


"Kau sudah memikirkannya. Jangan malu-malu mengatakan apa yang kau pikirkan. Iya bukan."


Aku tidak akan membalas kata-katanya lagi. Kau tak akan menang.


"Ada makanan datang aku mau makan kembalikan lenganku."


Dan kali ini aku diselamatkan oleh pramugari yang membagikan makanan. Siapa yang akan menyelamatkanku selama 3 hari dua malam di Miami.


🎀🎀🎀🎀🎀🎀


Jangan lupa hadiah, klik iklan buat si David Montgomery 🤣🤣🤣🤗 Makasih banyak semua pengemar David