
Sementara akhir tahun sebentar lagi menjelang, liburan ini aku tetap kembali ke LA menemui Ibu, tapi mungkin aku akan membawa David ke sana. Tapi dia juga berencana kami harus ke Miami dulu menemui Ayah dan Ibunya. Aku sudah membayangkan hal-hal keseruan liburan ini, kami akan ke Hawaii bersama keluarga, kali ini David akan ikut juga.
Aku tak menyangka David serius dengan semua ini, dia memberikan janjinya, aku percaya padanya. Mungkin semua orang bisa berubah jika dia mau.
Aku selesai membook kamar untuk kami. Seperti biasa tiga adikku juga bergabung dengan keseruan kami tiap tahun. Setiap tahun ini jadi liburan besar yang kami tunggu. Kali ini David bergabung, akan sedikit lebih menyenangkan.
David ke Poetry Rico awal musim dingin ini, katanya dia akan meninjau lahan baru dan ada promosi yang mendatangkan para influencer ke sana. Tapi hanya sekitar tiga hari, Kamis malam dia akan kembali.
Semalam harusnya dia sudah mendarat di NY lagi. Aku belum melihatnya Jumat pagi ini, mungkin dia masih ada pekerjaan belum muncul di depanku sampai siang ini, biasanya dia membawakan kopi untukku. Aku jadi merindukannya...
Bodoh! Dari menganggapnya musuh terbesar, sekarang jadi merindukannya. Ini memang konyol.
Jadi aku ke ruangannya yang terletak di lantai yang sama denganku.
"Nona Carla." Assistennya melihatku datang.
"Boss-mu di dalam? Punya tamu?"
"Iya dia ada. Tidak dia sendiri..." Dia tahu kami adalah kekasih. Dan David sudah memberitahunya untuk membiarkanku masuk. Jadi aku masuk ke kantornya setelah mengetuk sedikit.
"Hi..." Aku menyapanya setelah menjenggukkan kepala di pintunya.
"Sayang, maaf aku belum menemuimu. Ada sedikit pekerjaan tadi."
"Tak apa, aku hanya ingin melihatmu. Semuanya baik di Puerto Rico?"
"Baik. Tak ada yang salah." Dia tersenyum padaku. "Bagaimana di sini?" Pandangannya kembali ke ponselnya. Sedikit helaan napas di akhir dan entah kenapa aku merasa dia sedikit menghindar melihatku.
"Semuanya baik tentu saja." Tapi aku mengabaikan perasaan itu. "Aku sudah menyelesaikan booking kamar di Hawaii dan mengatur penerbangan ke LA. Juga ke Miami."
"Mom pasti senang kau berkunjung dia sudah bertanya kapan kau bisa ke rumah dari awal bulan."
"Ibumu baik sekali padaku. Aku tak tahu harus bagaimana membalasnya."
"Tentu saja dia baik kepada calon menantunya. Kau ke tempatku malam ini bukan."
"Iya. Tapi aku punya meeting internal sore ini, mungkin akan memakan waktu sampai malam. Nanti aku akan menyusulmu dengan mobil sendiri."
"Baiklah, aku juga harus bertemu kolega siang hingga sore ini. Ayo kita makan siang."
Orang yang jatuh cinta selalu ingin bertemu dengan kekasihnya. Walaupun hanya sebentar tapi itu pengobat rindu. Aku terperangkap dalam perasaan ini saat dia mengatakan berjanji akan melihat musim gugur bersamaku.
Aku sudah jatuh hati padanya, dan tak bisa berpaling lagi.
Aku menemukan dia sudah sampai di unit apartmentnya di pusat kota Manhattan. Saat aku masuk aku melihat meja makan sudah di set untuk makan malam. Ada bunga di meja dan wangi ruangan ini dia menyalakan aroma therapy.
"Sayang, kau sudah kembali." Dia tersenyum padaku, rambutnya masih agak basah, dia sudah mandi. Aku menghampirinya karena suka dengan aroma bas*ah wangi gel mandi yang dia pakai.
"Sudah, kau menyiapkan makan malam? Kau wangi sekali..." Aku menempelkan wajah pada baju kausnya.
"Mandilah sekarang, aku lapar, aku menunggumu makan malam. Kita bisa lanjutkan bagian ini nanti."
"Lanjutkan apa?" Aku terkekeh.
"Bagian wangi-wangi mengoda ini, kalau perlu aku mandi lagi nanti." Aku tertawa..." Mau kumandikan?" Dia melihatku dengan pandangan menggoda. Aku mendorongnya menjauh.
"Tidak, kau tunggulah di sini. Kau menyebalkan di kamar mandi."
"Bukannya kau suka Nona Penyihir, tak usah malu padaku."
"Tidak." Aku masuk dengan cepat ke kamar dan dengan senyum masih berpendar di wajahku menyelesaikan mandiku untuk bergabung dengannya di makan malam.
Dia di meja makan membuka makan malam yang sudah dibelinya dan dia membuka botol champagne.
"Apa kita merayakan sesuatu?" Aku heran dia membuka champagne. Anggur manis itu tak biasanya di keluarkan saat tak merayakan apapun.
"Kita merayakan hidup, itù saja." Dia membuat pernyataan diplomatis yang membuatku tersenyum. Makan malam yang di siapkan dengan manis di akhir pekan ini sempurna.
"Apa Ibumu akan mendesak kita menikah." Kami duduk berdua di sofa apartmentnya sekarang.
"Kemungkinan begitu, mau menikah denganku sayang?"
"Apa kau melamarku?" Aku menatapnya dengan kaget.
"Aku belum membeli cincinnya." Dia tertawa dan aku mencibir.
"Aku tak akan menjawab itu tanpa sesuatu untuk ditawarkan. Lagipula aku tak mau lamaranku di depan televisi." Dia tertawa dan memelukku.
"Aku mencintaimu Nona Penyihir..."
"David..."
"Hmm..." Dia nampaknya tahu, yang dia lakukan adalah mengelitiki d*adaku dengan bibirnya, dia memanaskan tubuhku.
"Aku mau kau sekarang."
"Disini?"
"Tidak mau."
Tak lama untuk mendapatkan dia diatasku. Bergerak dengan pelan untuk membuatku nyaman sebelum bergerak lebih intense, punya pacar yang terlalu pengalaman ini menguntungkan di beberapa sisi. Salah satunya dia tahu bagaimana membuatmu kalah dengan cepat."
"Dav..." Aku memeluknya erat, ketika dia membuatku di ujung pelepasanku.
"Came baby ..." Kebanyakan waktu dia bisa membuatku mencapainya duluan seperti kali ini. Karena ini tub*uhku ketagihan padanya. Era*nganku dibarengi dengan sentakan tak terkendali yang membuatku memejamkan mata dan memelu*knya erat. "Aku suka membuatmu datang." Aku tersenyum dan melengu*h ketika dia bergerak pelan satu sentak*an terakhir menjalar membuat tubuhku melem*as bahagia.
"David... Kenapa kau senikm"at ini."
"Karena aku mencintaimu dan kau mencintaiku." Jawabannya membuatku tersenyum bahagia. "Aku akan menyelesaikan bagianku." Sebuah gerakan pelan membuatku bersiap untuk gelombang lainnya.
"Mau aku saja yang diatas?"
"Tidak..." Biasanya dia suka aku yang menyelesaikan bagiannya. Tapi nampaknya kali ini berbeda. "Ibu ingin sekali cucu, bagaimana jika membuatkannya satu segera."
"Kau jangan gila. Kita mengikuti jalur normal."
"Aku suka merasakan membu*ahimu. Bagaimana kalau sekarang." Dia menanyakan itu sambil bergerak pelan.
"Tidak. Tapi jika kau ingin aku berpura-pura mengatakan iya akan kulakukan. Tapi jangan lakukan di dalam."
"Bermain peran. Istriku suamimu sedang memb*uahimu sekarang, kau mau anak laki-laki atau perempuan." Dia memelukku sambil memperdalam dirinya.
"Dua-duanya." Aku terkikik sendiri. "Anak kita kembar nanti.
"Kau luar biasanya sayang. Mungkin perkataanmu dikabulkan."
"Setelah kita menikah dengan normal."
"Kita akan menikah."
Dia menaikkan tanganku ke atas, menguncinya di atas kepalaku, menciumku dengan dalam. Napasnya terengah ketika dia mempercepat dirinya, aku terpancing di dorong ke pinggiran pelepasan karena gerakannya intensenya, dalam sedetik kemudian punggungku melengkung n"ikmat.
Dia mengentak dan menggeram sambil menciumku, awalnya aku tak sadar. Tapi kemudian aku sadar apa yang dia lakukan.
"David! Kau melakukannya di dalam?" Napasnya masih terengah, dan dia menindihku, dia tidak menjawab pertanyaanku. "David!"
"Aku mencintaimu..."
"Kenapa! Kau membuat kacau, bagaimana kalau terjadi, aku tak tahu apa aku aman atau tidak sekarang."
"Ya sudah kita menikah saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku akan menanggung anakku, tak mungkin aku menelantarkannya. Apa yang kau takutkan."
"Bukan begitu..."
"Kau bisa minum morning pill, tapi jika terjadipun tak apa. Aku punya orang untuk mempersiapkan pernikahan secepat yang kumau. Bahkan dalam hitungan minggu." Aku memandangnya dengan tak percaya, sebenarnya apa yang ada di pikirannya.
"Ada apa denganmu..."
"Aku hanya berpikir lebih baik mempercepat semuanya. Menikahlah denganku, aku serius."
"Kenapa tiba-tiba kau mengatakan ini, apa yang terjadi, kau bahkan belum membeli cincinnya. Kenapa kau pulang dari Puerto Rico dan tiba-tiba punya pikiran seperti ini?"
"Entahlah, kupikir karena aku kemarin melihat sepasang kekasih yang menikah." Dia benar-benar siap menikah, playboy ini benar ingin sebuah ikatan sekarang.
"Ya baiklah, kalau begitu, kita harus bicara pada orang tua kita dulu, dan jelas aku perlu perjanjian pranikah untuk menjamin masa depan anakku."
"Perjanjian pra-nikah?" Dia menaikkan alisnya sekarang.
"Aku dan anakku akan mewarisi 50% hartamu jika kau berselingkuh dan main perempuan di luar sana." David tertawa.
"Nona Penyihir kau benar-benar perhitungan heh?"
"Jelas aku perhitungan, aku tak mau bergulat dengan wanita simpananmu. Jika kau main mata dengan yang lain dan punya hobby khusus yang kau sembunyikan dariku. Jangan harap aku mau kompromi, kau sudah tahu itu. Dengan perjanjian itu aku mengamankan hak anakku dan membayar sakit hatiku."
Dia tertawa dengan ocehan panjang lebarku yang masih berada di bawahnya.