The Devil's Lover

The Devil's Lover
Part 52. Need Help from Everyone



Pagi yang campur aduk, ada kekhawatiran, ada penerimaan, ada kebahagian, dan air mata. Tapi bagi David nampaknya seratus persen adalah kebahagiaan baginya.


Kami datang ke kantor bersama. David tak ragu lagi mengandeng tanganku, satu kantor sekarang menatap kami.


"Lepaskan tanganku."


"Kenapa? Kau takut gelar ratu esmu tercoreng." Dia tidak melepasku malah tersenyum lebar. Aku tak suka dia tersenyum seperti mengejek dan mengatakan aku tak punya pilihan.


"Ini kantor, jika kau ingin bermesraan lakukan di tempat lain."


"Dimana? Mau baby-moon bersamaku." Bukannya dia melepasku. Tapi dia malah merangkul pinggangku sambil tersenyum lebar.


"Aku masih marah padamu." Aku memaksa melepas tangannya dari pinggangku saat kami masuk lift.


"Hei-hei, kalian berdua rupanya sudah akur. Aku bertaruh yang terjadi semalam adalah, kalian bertengkar seperti dua kucing yang akan kaw*in lalu berakhir satu diatas yang lain." Christian membuat komentar sarkas yang menbuat David ngakak dengan bahagia dan aku menatapnya dengan tatapan ingin membunuhnya.


"Aku tak segampang itu. Itu hanya ada di anganmu saja."


"Ohhh benarkah. Kalian tiba di kantor ini berdua pagi ini. Apalagi yang terjadi?" Dia memberikan ringisan tak percaya.


"Penyihir ini memang tak segampang itu. Tapi jelas saja dia tidak bisa lari dariku. Benar bukan sayang." David merangkul bahuku dengan santai.


"Get off me!" Aku menepis tangannya dengan risih.


"Baik-baik." David mengangkat tangan. Aku tak suka dengan rangkulannya, melihatnya dengan perasaan terganggu, dia mendorongku tanpa pilihan tapi dia bisa bersenang-senang dengan gadis-gadis diluar sana. Dan sekarang dia berkata-kata seolah sudah menaklukkanku dan aku tak bisa lari darinya.


Dentingan lift yang terbuka membuatku melangkah cepat ke luar lift, meninggalkan David dan Christian


"Dia membencimu lagi. Kau dalam masalah." Christian membuat komentar sambil tertawa ke David.



** Ini Carla lagi mood swing. Bawaan bayi. Gampang marah-marah apalagi ke David yang emang gak bisa dibales. Mau gak mau Carla harus nerima dia lagi, plus krisis kepercayaan Carla ke David bikin Carla kadang sebentar Carla ngerasa David bener, sebentar ngerasa David nyebelin level dewa.


Langkah David mendekatiku yang tengah menuju ke kantorku.


"Sayang..."


"Tak usah menyebutku sayang di kantor!" Aku berbisik dengan penekanan padanya.


"Fine... fine." Dia mengangkat tangannya. Aku melangkah menuju ke ruanganku.


"Janette, aku tak ingin di ganggu!" Perintah itu menyebabkan Jannette berdiri di depan pintu yang kubanting tertutup dan menyebabkan David tidak bisa masuk. Aku mendengar suara Jannette.


"Sir David, maaf, kau dengar sendiri tadi ucapannya."


"Dia tadi baik-baik saja." David protes waktu Janette menyetopnya.


"Kalau begitu dia akan baik-baik saja jika kau tak mencoba memancing emosinya. Kau lebih baik tinggalkan dia." Janette nampaknya berhasil menghentikannya, dia tidak menerobos masuk ke ruanganku.


Janette yang masuk ke ruanganku dan mengamati wajahku yang masih kesal.


"Carla, kau datang bersama David? Bukannya kemarin kau berencana mengerjainya. Kenapa berakhir kau datang bersamanya."


"Karena dia Ayah anakku, apalagi yang bisa aku lakukan."


"Ayah...anakku?" Jannete kebingungan sebelum dia mengerti kata-kataku. "Maksudmu kau hamil anaknya? Gosh!" Jannette tak bisa tidak terkejut dengan kata-kataku.


"Hmm..." Perasaanku kacau, aku harus bicara dengan seseorang. "Aku merasa dijebak. Kau tahu, tadinya aku tak mau memaafkan dia lagi. Aku tak mempercayainya sedikitpun, sekarang dia sendiri yang mengaku ingin membuatku hamil agar aku tak bisa pergi."


"Aku bersedia dijebak dengannya. Kau harusnya bersyukur. Dia kaya, dia mencintaimu setidaknya dia benar-benar mencintaimu sekarang. Apalagi yang kau inginkan, banyak wanita yang bersedia mengantikan tempatmu."


"Kau benar, banyak wanita bersedia mengantikan tempatku. Aku mengerti sudut pandangmu. Tapi aku pernah mengalami punya Ayah yang popular, tampan, setidaknya cukup punya dompet tebal seperti dia. Dia berjanji padaku untuk bersamaku, belum akhir tahun sebelum dia tidur dengan 5 orang lainnya. Dia berjanji dia tak akan meninggalkan anaknya. Entahlah apa janji itu bisa dipercaya..."


"Setidaknya kau menjadi janda kaya walaupun kau bercerai." Aku tertawa untuk kata-kata Jannete yang itu.


"Yang itu benar. Aku mau perjanjian hitam diatas putih untuk anakku. Hanya rasanya aku membayangkan setiap dia pergi, aku bertanya-tanya dan cemburu apa dia akan tidur dengan seseorang. Mungkin satu waktu ada seorang wanita yang datang ke rumah dan mengklaim dia punya anak David suatu saat."



"Kalau yang itu... Yah mungkin kau harus tutup mata saja jika terjadi perselingkuhan." Iya seperti yang Ibuku lalukan, dia tutup mata dan menangis kesal sendiri setiap dia mendapatkan bukti Ayah selingkuh.


"Apa nanti sore aku ada meeting yang harus kuhadiri?"


"Tidak."


"Ya sudah tetap kosongkan. Aku pulang tepat waktu, aku mau ke rumah Mom."


"Iya baiklah."


Mungkin satu-satunya yang membantuku lebih baik adalah bicara dengan Mom.


\=\=\=\=\=\=


POV Author


Jadi sekarang dia menelepon Ibunya untuk meminta saran. Ibunya yang sudah hilang harapan padanya pasti akan membantunya kali ini.


"Mom..."


"David, sudah hampir sebulan kau di sana. Ada tanda-tanda Carla akan memaafkanmu." Dia merasa Carla sudah tidak akan memberi David kesempatan apapun lagi. Dia pesimis David bisa melakukan sesuatu atas keputusan Carla.


"Malah terjadi lebih baik Mom."


"Apa maksudmu terjadi lebih baik?"


"Carla hamil kau akan dapat cucu?!" Nyonya Maria merasa dia salah mendengar, mana mungkin itu terjadi. Carla tak akan memaafkan David secepat itu.


"Bagaimana bisa?"


"Itu terjadi sebelum dia marah padaku Mom. Tapi sekarang dia malah marah lagi padaku. Aku sudah membujuknya dengan baik-baik Mom. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan." Nyonya Maria langsung sangat khawatir sekarang. Apa yang akan terjadi pada cucunya jika David terus menerus membuat marah Ibunya.


"Kau anak payah! Dia mengandung anakmu! Kenapa bisa sampai dia marah-marah padamu?! Kau tertangkap main perempuan lagi?! Jika itu yang terjadi aku akan menghapusmu dari ahli waris, dan kuberikan pada cucuku!" Ibunya sudah memikirkan yang terburuk soal yang dilakukan David. Sepertinya tak ada satupun orang yang percaya padanya sekarang termasuk Ibunya sendiri.


"Mom aku hanya ingin memeluknya di kantor. Dia marah-marah padaku, sebelumnya dia baik-baik saja. Apa kau pikir aku segila itu. Aku baru mengetahui kemarin dia tidak sehat dan muntah-muntah.... " Dia menceritakan apa yang sudah diusahakannya untuk cucu Ibunya itu. Dia benar-benar merasa tidak ada yang salah.


"Astaga David, Ibu tak tahu sebenarnya apa yang kau lakukan?! Aku akan terbang ke LA hari ini juga, berikan padaku alamat Carla. Tunggu di sana, jangan membuatnya marah lagi!" Telepon itu berakhir dengan cepat dengan nada tinggi Nyonya Maria.


David melihat layar teleponnya tambah binggung karena semua orang menyalahkannya. Dia tahu Carla tak mempercayainya. Entah apa yang berlalu dalam kepalanya yang jelas semua yang dipikirkannya pasti terlalu buruk.


Carla butuh jaminan atas perkataannya. Dan demi anak itu dia tidak ingin menaruh Carla pada perasaan terombang-ambing. Dan mereka harus menikah secepatnya. Harus ada seseorang yang bisa membuatnya percaya akan niatnya.


Dia menelepon Xavier. Orang terlurus dalam urusan percintaan yang pernah dikenalnya. Saking lurusnya, Carla saja jelas-jelas mengatakan lebih memilih Xavier di banding dirinya.



Yang kangen babang Xavi absen di mari....🤗🤗🤗🤗


"Bro, apa kabar LA?"


"Xav, apa kau punya waktu akhir pekan ini. Aku ingin membuat perjanjian pra nikah. Apa kau bisa ke LA sebentar?"


"Perjanjian pra-nikah? Kau berhasil meyakinkan Carla?"


"Lebih baik lagi, aku ternyata bisa membuatnya hamil. Aku akan segera punya anak, menyusul new bornmu."


"Kau membuatnya hamil?! Kau serius kali ini rupanya? Selamat bro."


"Tap nampaknya dia terus marah-marah padaku karena aku tidak memberinya pilihan, mungkin dia juga merasa aku menjebaknya. Dia tidak punya kepercayaan apapun padaku. Ditambah latar belakang keluarganya juga mungkin hampir sama denganku."


"Siapa yang bisa mempercayaimu lagi setelah kejadian itu."


"Itulah kenapa aku perlu kau bicara padanya. Soal aku akan memberikannya jaminan soal masa depannya dan anak kami. Jika bisa kau berikan dokumen resmi padanya. Aku dia merasa gembira menjalani kehamilannya itu saja."


Kali ini David serius, Xavier juga senang akhirnya sahabatnya itu menemukan seseorang yang ingin diajaknya berkeluarga. Tentu saja dia akan membantunya.


"Baiklah, besok siang aku akan terbang ke LA. Hal ini tidak bisa dibicarakan di telepon bukan."


"Iya, lebih cepat lebih baik. Jika kau bisa membantuku secepatnya, aku akan sangat berterima kasih."


"Kalau begitu sampai bertemu besok sore."


"Sampaikan salamku pada Allison, bilang aku minta maaf karena mengambil waktumu di hari liburmu."


"Jadi nampaknya kau akan menetap di LA?"


"Nampaknya begitu. Ibu Carla masih di sini. Dia pasti ingin dekat dengan Ibunya jika bisa sementara Mom juga tak masalah aku berada di manapun."


"Itu bagus untukmu. Kau sudah mencari rumah?"


"Aku sedang mengusahakannya. Mungkin lingkungan yang tidak terlalu jauh dari rumah Ibunya agar dia nyaman. Banyak yang harus dilakukan, tapi yang terpenting dia memaafkanku dulu. Tadinya dia bahkan ingin pergi kencan dengan pria lain..." David menceritakan apa yang terjadi hari sebelumnya.


"Pantas saja. Dia memang terpaksa menerimamu karena kau menghamilinya. Kau beruntung ada bayi itu yang berjuang untukmu. Anak di kandungan Carla itu penyelamatmu dari panti jompo." Xavier tertawa sekarang.


"Ya kau benar soal itu. Aku beruntung pilnya tidak berhasil. Ibuku juga terbang ke sini hari ini, dia mengancamku mencoretku dari hak waris dan memberikan pada cucunya jika aku berani main perempuan lagi." Xavier ngakak mendengar ancaman Nyonya Maria.


"Baiklah, kita bicara besok. Aku harus mencari penerbangan dulu agar Ä·au tidak perlu panti jompo."


"Kau memang sangat perhatian. Perlu kau ingat panti jompo bukan hanya buat orang single. Hati-hati kau juga harus masuk ke sana."


"Kau benar juga. Baiklah aku harus memastikan aku punya cukup pensiun agar bisa menyewa homecare yang baik, biaya konsultasi pribadi ini tidak murah."


"Kau ini temanku atau bukan." Xavier ngakak, dia hanya bercanda.


"Salah sendiri kenapa omonganmu tidak bisa dipercaya semua orang."


Sekarang dia tahu Xavier benar. Salahnya sendiri kenapa Carla tidak mempercayai satupun kata-katanya.