
"Apa-apaan ini! Lepaskan! Atau kubawa kalian ke penjara!" Sebuah suara menggelegar, menyelamatkanku dari amukan dua orang wanita itu.
Mereka mundur, rambutku kusut masai, kepalaku berdenyut sakit, dan pukulan-pukulan itu setidaknya membuatku lebam besok. Aku tak tahu mereka bisa menyerangku seperti itu. Kecemburuan wanita ternyata bisa membuat banyak masalah.
"Kalian gila!" Kali ini aku yang berteriak ke arah mereka. Sementara semua karyawan di lantai memperhatikan kami, karena ruangan tunggu ini bisa dilihat siapa saja dari luar. "Richard Blunt itu seniorku waktu kuliah, aku baru bertemu dengannnya seminggu yang lalu!" Dua wanita itu berpandangan satu sama lain. Mungkin mereka tak percaya apa yang aku katakan.
"Pembohong sepertimu tak layak dipercaya!" Wanita itu walaupun sudah takut akan ancaman David tapi tak segan mengancamku lagi.
"Kau tak apa? Kemarilah." David menarikku menjauh dari wanita itu.
"Aku baik-baik saja." Aku berjuang merapikan diriku diantara tatapan penasaran penghuni lantai kantor ini. Ini sangat memalukan, aku bisa disangka perebut suami orang yang tak bermoral.
"Kau pikir aku percaya padamu. Aku lihat sendiri kalian bertemu di hotel, dan makan malam bersama dengan akrab, aku menyewa detektif untuk mengikuti suamiku, dia tega menceraikanku, itu ternyata karena kau!"
"Dia seniorku di kampus Nyonya, dan aku baru bertemu dengannya seminggu yang lalu, kalau kau tak percaya tanya sendiri padanya! Apa-apaan kau menuduh orang sembarangan!" Sialan! Aku tak mau terlibat semua ini. Ini mempermalukanku di depan satu kantor. Semangkin banyak orang berkumpul memperhatikan kami dan memasuki ruangan.
"Semuanya keluar!" David membentak. Beberapa orang lagi yang penasaran sampai masuk ke ruangan tunggu, sementara di selasar depan lebih banyak lagi yang melihat. Dan mendengar bentakan David mereka beramai-ramai keluar.
"Ayo selesaikan ini di ruang meeting! Kalian wanita gila! Aku akan menyeret kalian ke penjara karena menyerang executive perusahaan kami!" David menunjuk ke dua orang itu. "Panggil Jonathan kemari, dua wanita gila ini perlu merasakan jeruji penjara!"
Jadi Richard berselingkuh, dan aku terbawa-bawa karena makan malam dengannya.
"Dia yang gila! Dia yang membuat anakku kehilangan Ayahnya." Wanita itu masih berkeras menunjukku.
"Kau yang gila! Siapa suamimu itu, dia hanya teman kuliah dari masa belasan tahun yang lalu, dia kekasihku, kau pikir suamimu bisa dibandingkan denganku?! Pakai otakmu untuk berpikir sebelum kau menyerang orang! Terlebih lagi apa kau orang bar-bar yang menyerang orang tanpa bertanya! Kau harus masuk penjara hari ini! Panggil suamimu kita selesaikan hari ini!" Aku baru melihat David berteriak dan menunjuk orang, walaupun beberapa oreng dia memang bisa marah, tapi aku tak pernah melihatnya sendiri.
Wanita itu diam, aku juga diam, David mengakuiku sebagai kekasihnya. Lirikan matanya nampaknya memintaku untuk mengikuti kata-katanya untuk mempercepat masalah ini selesai.
"Pindah ke ruang meeting! Yang lain bubar semua!" Perintah David menyebabkan semua orang yang masih berkerumun langsung bubar, ini jam istirahat pasti kejadian ini akan langsung menyebar hari ini juga.
"Panggil suamimu ke sini, atau aku memanggil polisi ke sini. Jannette, mana Jonathan. Biar kita bisa bicara cepat dengan dua wanita bar-bar ini." Saat kami tiba di ruang meeting David menyilangkan tangannya di depan dada, sementara dua wanita itu nampaknya tahu mereka dalam masalah besar sekarang.
Wanita itu nampak akan menelepon dengan ponselnya. Tapi dia tampak ragu. David melihatnya dengan tak sabar.
"Sayang, kau punya nomor suaminya. Biarkan aku bicara dengannya." Bahkan dia memanggilku sayang. Aku memberikan ponselku setelah memberikan kontaknya. Dia menekan 'call' dengan cepat dan membuat loudspeaker panggilannya.
"Hallo Richard?"
"Siapa ini? Bukannya ini nomor Carla?"
"Benar ini nomor Carla, aku David Montgomery kekasihnya. Istrimu datang ke kantorku dan mengamuk menunjuk Carla sebagai wanita simpananmu. Dia membawa temannya memukul, menjambak Carla seperti orang bar-bar. Jadi apa yang harus kulakukan mengirim istrimu ke penjara setidaknya 24 jam sebelum kau membayar jaminan untuk mengeluarkannya?"
"Apa?! Amanda datang ke sana?!"
"Bicara pada suamimu!" Wanita itu jelas tahu dia sudah melakukan kesalahan besar sekarang.
"Richard, aku melihatmu menemuinya! Aku menyangka dia adalah alasan kau meninggalkan kami."
"Apa-apaan iau!? Kau sudah gila membuat masalah seperti ini?! Carla hanya teman lama yang baru kutemui seminggu yang lalu! Kau memang benar pembawa masalah!"
Hatiku teriris, melihat wanita itu, dia seperti Ibuku. Dia hanya ingin keluarga yang utuh untuk anak-anaknya. Aku mengerti apa yang dia lakukan lebih dari siapapun. Aku berdiri di pihaknya lebih daripada berdiri di pihak David.
Pernikahan dan keluarga? Apa mereka punya arti bagi para laki-laki ini. Kau sudah punya anak, tak bisakah mereka memperbaikinya dan jangan bercerai. Dia mulai menangis, walau dia sudah memukulku, aku kasihan padanya.
"Sudahlah, tak apa kita selesaikan semua salah paham ini di sini. Ini hanya salah paham. Richard, istrimu akan pulang sekarang. Kau tak usah mengurus apapun di sini."
"Apa? Carla dia memukulmu tanpa berpikir!?" David langsung mempertanyakan keputusanku.
"Tak apa Nona ini hanya putus asa. Tak ada keinginan bagiku untuk meneruskan semua persoalan ini." Aku mendekat duduk padanya. "Tak apa Amanda, masalah ini selesai sampai di sini saja. Aku tak akan mempersulitmu."
"Kau tak akan memperpanjang ini? Benarkah?" Dia sekarang melihatku dengan tak percaya.
"Iya tak apa percayalah padaku. Tunggu sebentar oke, aku akan bicara padamu sebentar lagi." Aku beralih ke David, dia sudah membantuku menyelesaikan masalah seharusnya aku berterima kasih kepadanya. Aku menarik tangannya keluar ruangan meeting.
"Kau melepaskannya begitu saja? Kau tahu apa yang sudah dilakukannya padamu?" Dia menunjuk mereka yang ada di ruang meeting dengan gusar.
"Aku paham apa yang dia lakukan, dia hanya mencoba mempertahankan keluarganya. Tak perlu mempersulitnya. Tapi terima kasih buat bantuanmu." Aku tersenyum padanya, kuharap rasa terima kasihku cukup untuknya. David menghela napas mendengar alasanku.
"Baiklah itu terserah padamu. Jika kau perlu bantuan beritahu aku." David pergi dan aku kembali ke ruang meeting.
Amanda yang sudah tahu dirinya melakukan kesalahan nampak diam tak tahu bicara apa saat aku masuk.
"Jadi kau dan Richards bercerai karena orang ketiga?" Aku duduk untuk mendengarkan ceritanya setelah aku menjelaskan apa hubunganku dengan Richard.
"Iya, dia menyembunyikan alasan sebenarnya, tahun-tahun belakangan kami sering sekali bertengkar, jika dia pulang ke rumah ada saja sesuatu yang dikeluhkannya, aku tak tahu apa yang menyebabkannya tebakanku dia punya seseorang. Padahal aku dan dua putraku tidak mengeluhkan apapun. Hanya aku sering melihatnya membalas pesan seseorang sambil tersenyum. Aku tak ingin bercerai, aku ingin menemukan siapa yang membuatnya mengorbankan anak kami, tapi dia terus memaksaku untuk kami bercerai."
"Berapa umur putramu, satu sudah 10 dan satu lagi 8 tahun." Masih usia sekolah tentu saja. Dulu Ibuku bertahan salah satunya karena dia mempertimbangkan semua kebutuhan pendidikan kami. Jika suamimu sendiri yang sudah meminta bercerai seperti itu, apa tidak seperti memelihara duri dalam daging.
"Kau ingin bekerja? Apa pengalaman kerjamu?" Dia melihatku dengan pandangan tak percaya.
"Kau ingin membantuku mendapatkan pekerjaan."
"Kau tahu, Ibuku pernah di posisi sepertimu sekarang. Aku juga membiayai sekolah dan kuliah adik-adikku membantu Ibuku, jadi tak mungkin aku merebut suami orang lain."
"Aku sudah lama tak bekerja, aku tak tahu apa kompetensiku masih berlaku. Tiba-tiba kau menawarkan aku pekerjaan, aku sangat berterima kasih. Maaf aku mempermalukanmu, aku minta maaf, jika kau ingin aku minta maaf di depan semua staffmu akan kulakukan."
"Tak apa. Aku mengerti, kau hanya sedang kalut."
Aku merangkul Amanda, entah apa persoalan mereka aku tak mau ikut campur yang kulakukan hanyalah mendukung Amanda. Dia langsung menerimanya, seperti dugaanku dia membutuhkan pekerjaan. Dia juga sebelumnya berkarier sebagai akuntan, jadi aku tak terlalu kesulitan membantu menempatkannya di sebuah posisi yang tersedia.
"Jadi bagaimana?" Sore hari setelah semua pekerjaan nampaknya mendekati selesai David menjenggukkan kepalanya ke ruanganku.
"Apa yang bagaimana? Amanda? Aku menawarkannya pekerjaan, aku punya posisi yang bisa dia isi. Walaupun dia harus melewati HRD dulu tapi akan kubantu dia."
"Kau membantunya?"
"Ya tentu saja aku membantunya."
"Dia menjambak rambutmu, mempermalukanmu."
"Dia putus asa David. Dia perlu pertolongan menjalani hari yang tak pasti di depan sana. Dia akan bercerai dengan suaminya, mungkin kehilangan support, dia harus menjadi single parent. Apa kau tak mengerti ala yang aku katakan?"
David diam dan duduk di depanku. Berpikir dan menatapku. Aku tersenyum padanya.
"Kau mau makan malam? Aku yang mengajak dan membayar." Dia langsung balik tersenyum padaku.
"Sayang kau mengajakku makan malam. Jadi sekarang kita jadian secara resmi?" Dia mulai memasang muka tengilnya.
"Jangan bermimpi terlalu banyak." Aku mencibirnya.
"Sayang, apa kau tak sadar, berkat kerusuhan tadi aku sudah punya kesempatan mengumumkan ke seluruh kantor kau adalah kekasihku." Dia tersenyum dengan lebar dan bahagia.
Aku menghela napas mendengar itu. Dia nampaknya sangat senang mendapat keuntungan de-facto yang menurutnya suatu keuntungan.
Kenapa aku begini? Aku tak antusias mendengar iblis yang didambakan semua wanita ini menganggapku kekasihnya. Lebih memikirkan seorang lagi wanita korban pernikahan buruk.
Seharusnya aku tak menyamakan setiap kasus. Hanya rasanya aku lebih pesimis dari orang lain.
"Sayangku, kau sekarang kekasihku. Sudah terlambat membantah apapun." Dia pasti penasaran tidak mendapat reaksi yang diharapkannya.
"Aku mau makan, aku lapar."
Untuk saat ini, aku tak bernafs*u padanya, lebih bernaf*su dengan creamy lasagna yang sudah kubayangkan dari tadi.
Jelas ada yang salah denganku.