
Setelah menghadapi jam panas di pesawat dengan Iblis aku akhirnya bisa check in ke kamarku sendiri di salah satu jaringan hotel kami di pesisir Miami.
Bagaimana aku menghadapi Nyonya Maria. Ini akan menimbulkan masalah. Aku berpikir dari di pesawat tak bisa menemukan jawaban apapun. Aku menyerah aku memerlukan bantuan. Satu orang yang kupikir bisa membantuku adalah Mom.
Aku menelepon Mom untuk sebuah saran sore itu. Doa mengangkatnya dalam waktu singkat.
"Sayang, kau menelepon tepat. Ibu dan Martha sedang membuat kue untuk pesta kebun komunitas di sini." Martha adalah housekeepers yang menemani Ibuku.
"Sepertinya enak Mom."
"Tentu saja enak. Kau menelepon sore begini bukankah ini hari kerja, kau tak bekerja?"
"Aku ada di Miami untuk rapat management perusahaan Mom."
"Ahh begitu."
"Sebenarnya aku mau minta saran darimu Mom,..." Aku menceritakan apa yang aku alami sekarang dan meminta pertimbangannya.
"Kau bilang kau dikejar oleh anak Nyonya Maria, pemilik hotel tempat kau bekerja?! Astaga, ..."
"Aku tak percaya padanya Mom, sangat tidak percaya, dia sangat tampan, kaya, dia copy paste Dad. Wanita yang mengharapkannya lebih banyak dariku." Mom tertawa.
"Kau tak bisa menyamakan kisah Mom dengan keberuntunganmu sendiri Carla, kau tahu jika kau sampai menikah dengan dia setidaknya anakmu terjamin masa depannya. Tapi jika kau tidak punya kepercayaan padanya, memang akan sulit. Rasanya seperti berjalan di atas jembatan kaca."
"Kau benar Mom, apa yang kupikirkan juga itu."
"Jika kau sampai menikah dengannya, pastikan kau punya perjanjian hitam diatas putih. Menjadi single mother sambil merawat anak tidaklah mudah, walaupun Mom tahu kau bisa, dan Mom akan sangat senang jika menimang cucu, tapi kau harus bahagia dengan pilihanmu sendiri."
Aku harus bahagia atas pilihanku sendiri. Apa yang membuatku bahagia? Apa kau bahagia jika seseorang mencintaiku... Aku bahkan tak yakin dengannya. Sepanjang hidupku aku menghindarinya, tampan, kaya, penakluk wanita.
Gosh! Aku tak menemukan satu alasanpun selain aku penasaran untuk menyentuhnya. Dan otak dan tubuhku memikirkan apa yang dikatakannya soal kemampuannya membuatku merasakannya. Merasakan kenikmatan yang katanya bisa membuatmu menjerit histeris itu.
Apa aku memakainya untuk bagian itu saja. Aku tak bisa hidup dengan pikiran aku curiga padanya. Dia mungkin juga akan kehilangan rasa penasarannya padaku. Bukankah para playboy itu seperti itu, jika mereka sudah selesai dengan rasa penasaran mereka, maka mereka akan mencari mangsa yang lain.
Hmmm... menjadikannya sebagai objek pemuas saja. Mungkin itu ide yang bagus. Tubuh Iblis itu benar-benar luar biasa, dia benar, aku sudah memiirkan banyak hal dari aku menyentuh dadanya yang telanjang kemarin, mungkin itu akan membantuku merasakan apa yang belum pernah kurasakan. Aku mengigit bibirku dengan pertimbangan.
Ide itu sangat menggoda.
Tapi untuk berpikir lebih jauh dari itu benar-benar tidak ada di benakku. Sial, aku harus mendinginkan kepalaku karena membayangkan apa yang Iblis itu katakan padaku tadi.
🦋🦋🦋🦋🦋
"Carla, kemarilah."Nyonya Maria Ignazio menyapaku di hotel kami menginap. Nyonya Maria kadang bergabung, tuan Juan yang hampir pasti selalu datang menyapa para profesional pengelola hotelnya setiap tahun.
"Nyonya Maria. Apa kabarmu." Tapi kali ini nampaknya dia memutuskan datang. Padahal ini baru makan malam hari pertama kami semua tiba sore hari untuk memulai pertemuan dengan CEO dan pemilik keesokan harinya.
"Aku baik, sangat sangat baik. Apalagi melihatmu datang kemari."
"Ohh?" Nampaknya dia dalam mood yang sangat baik seperti katanya, jangan-jangan gara-gara David memberitahunya aku menjadi kekasihnya.
"Kau penyebabnya." Dia menggengam tanganku, aku sudah menduganya. David membuat semuanya kacau.
"Aku?"
"Kau kekasih David. Akhirnya dia punya kekasih." Aku langsung tertawa.
"Nyonya, Anda bercanda dengan saya. Dia selalu punya kekasih, Anda tahu itu. Dan mungkin dia sedang mendapatkan yang lain sekarang. Saya dan dia bukan kekasih, hanya kolega, kemarin dia membantu saya menyelesaikan kesalahpahaman, jadi dia mengakui saya sebagai kekasih. Anda salah dengar. Kejadian sebenarnya adalah begini..." Aku menjelaskan yang terjadi dengan lengkap supaya tidak ada kesalahpahaman.
Aku sekarang tidak tahu berkata apa, kenapa dia sampai melapor ke Nyonya Maria tentang hubungan kami yang tidak jelas ini. Dia memang cari masalah, apa belum cukup masalah yang dibuatnya dengan banyak wanita di luar sana, sekarang kenapa dia harus menyeretku juga. Menyeretku ke depan Ibunya yang kuhormati.
Nyonya Maria menghela napas panjang melihatku diam dan tidak menjawabnya.
"Baiklah. Ini harus diperjelas. Kita selesaikan ini. David ini memang perlu direparasi isi kepalanya. Mana dia? Ohh itu dia. Kau tunggu di sini, ini harus dibereskan, kita harus bicara bertiga." Apa yang harus dibereskan lagi, nampaknya aku akan bertemu kekacauan baru. Bagaimana hari ini bisa menjadi begitu kacau jadinya.
Di depan sana dia menarik David, memegang pergelangan tangannya dan memastikan anak laki-laki yang sudah terlalu dewasa itu ikut dengannya.
"Kalian ikut aku ke kamarmu." David melihatku dan dia tersenyum, nampaknya dia tahu apa yang akan terjadi. Aku ingin melompat keluar dari kekacauan ini sekarang juga tapi tidak bisa, lenganku di gandeng oleh Nyonya Maria memastikan kami harus bicara.
Aku memberinya tatapan, "kau akan membayar karena membawaku dalam kekacauan ini!" , dia membalasku dengan mengangkat bahunya dan melihat ke Ibunya , "aku tidak tahu apapun soal ini! Ini semua idenya!" Padahal dia yang membuat masalah, siapa yang menyuruh dia mengakuiku sebagai kekasih di depan Ibunya. Iblis ini hanya mencari alasan!
Tak lama kemudian kami sampai ke kamar kami. Kamar standart yang kami masing-masing tempati sendiri itu sekarang terasa sempit.
"Kalian berdua duduk." Aku duduk di bed, David mengikutiku. Sementara Nyonya Maria duduk di sofa depan kami. Ini benar-benar tidak menyenangkan.
"Kau bilang padaku Carla kekasihmu David, tapi Carla bilang kalian bukan kekasih, aku sudah sangat senang kau mengenalkanku seorang kekasih, aku tak punya keberatan apapun, tapi kenapa Carla bilang kalian bukan kekasih? Jelaskan padaku!?" Nampaknya Nyonya Maria marah ke anaknya ini. Masalah percintaan Iblis tua ini memang memusingkan. Dan sialnya itu juga menyeretku.
"Mom, dia tak punya sedikitpun rasa percaya padaku, walaupun aku mengumumkan pada dunia dia kekasihku, dia menganggapku bangsa*t yang sedang berburu mangsa baru. Itulah yang terjadi." 100% Benar! Aku menganggapnya bajingan yang sedang berburu mangsa.
"Aku tidak heran dia berpikir begitu. Wanita seperti Carla tak akan mau mengambil resiko untukmu." Nyonya Maria membenarkan tindakanku. Aku tersenyum sekarang. Lalu bukankah ini jelas sekarang.
"Jadi kau serius dengan Carla atau tidak?"
"Jelas aku serius, kau juga tahu itu."
"Carla kau dengar sendiri, dia mengakuinya di depanmu, juga di depanku. Apa kau tidak percaya padanya."
"Tidak." Aku menjawab dengan pasti. Nyonya Maria diam.
"Kau dengar sendiri Mom."
"Kau memang payah David." Ibunya langsung menyalahkannya.
"Kenapa sayang, dia mengatakan dia serius padamu di depanku. Jika dia tidak serius aku sendiri yang akan membuatnya menyesal." Sekarang dia bicara padaku.
"Nyonya Maria, hal seperti itu tidak bisa dipaksakan.Kau tahu itu, mungkin kau bisa membuatnya menyesal tapi itu pilihan hidupnya. Apa aku dan kau bisa memaksanya. Apa Nenekku bisa memaksa Ayahku untuk meninggalkan selingkuhannya dan kembali ke Ibuku. Sama sekali tidak, ... Jika bisa mungkin aku tak perlu beasiswa Anda Nyonya. Mungkin cerita hidupku akan sangat berbeda."
Aku tahu Nyonya Maria sangat ingin David menikah, tapi aku tak bisa jadi korban keinginannya.
"Kau menyamakanku dengan Ayahmu, itu sangat tidak adil."
"Adil, wanita yang mengejarmu malah lebih banyak."
"Kau dengar Mom. Untuk kau tahu tidak ada yang memaksaku. Mom juga tidak memaksaku, kau yang tidak bisa mempercayaiku sedìkitpun."
"Dia benar aku tak mempercayainya sedikitpun. Ayahku juga seorang playboy tampan sepertimu yang sudah berjanji sehidup semati dengan Ibuku. Lalu apa hasilnya. Nyonya aku minta maaf, ini tak akan berhasil. Kau langsung membenturkan aku dengan Ibumu. Apa ini caramu, kau baru mengatakan itu padaku tiga minggu yang lalu."
"Baik, kalian tak usah bertengkar."Nyonya Maria tampak berpikir keras bagaimana menyelesaikan masalah kepercayaanku. Sedangkan aku tak ingin memberinya harapan palsu yang akan membawaku ke masalah lainnya.
"Aku memberimu jaminan ganti rugi. Kau benar, kau berhak tidak mempercayai David. Aku akan memberikan jaminan perkataannya. Jika dia berselingkuh dengan wanita lain aku akan membayar waktumu, full dua bulan gaji dikali berapa bulan kalian berjalan. Jika dia mengkhiantimu 3 bulan pertama kau akan menerima 6 bulan gaji. Aku membayar jaminannya."
"Apa?" Sekarang aku dan David sama-sama melonggo.