
POV Author.
David Montgomery baru saja sampai ke apartmentnya. Di saat itu juga ponselnya berdering. Dari Ibunya, Nyonya Maria Ignazio.
"Sayang kau sudah di NY?"
"Ya sudah Mom, kenapa?"
"Jadi bagaimana liburanmu?" Nyonya Ignazio berharap salah seorang gadis bisa mengoncangkan kesadaran anaknya itu. Dia ingin punya cucu yang ingin ditimangnya sebelum dia mati. Seumur hidup dia menginginkan bayi mungkin anak David akan membuatnya setidaknya merasakan bagaimana merawat seorang bayi.
"Apa yang ingin kau dengar Mom?"
"Apapun, apa kau dan Carla menjadi teman yang baik? Kudengar kau sekamar dengannya." Sekarang David tertawa.
"Sudah kuduga kau yang mengatur kamarnya kosong."
"Tentu saja aku yang mengaturnya." Bagaimana mungkin dia menerbangkan mereka berdua tanpa mengatur mereka berdua sekamar.
"Tidak terjadi apapun diantara kami. Penyihir itu membenciku dan melabeliku sebagai penjahat yang harus dijauhi. Mana mungkin dia tertarik padaku, semua pikirannya berpikir aku yang terburuk."
Berlainan dengan yang dipikirkan David, Nyonya Maria diam-diam menghela napas lega karena Carla tidak menuruti keinginan David dan mengacuhkannya. Dia sudah belajar bahwa David sangat gampang bosan dengan gadis yang sudah menyerah duluan.
"Ternyata tidak terjadi apa-apa. Ya baiklah, rupanya ada juga yang menolakmu. Ibu sudah berpikir dia tertarik padamu. Rupanya memang tidak, seperti katamu dia mungkin membencimu. Ternyata ada juga yang tidak mempan denganmu. Ya baiklah, ternyata Mom gagal lagi. Terserah padamu kalau begitu. Jika kau tak suka ya sudah..."
Nyonya Maria langsung menutup teleponnya sambil tersenyum. Jika kemarin mereka tidur bersama maka dia akan patah hati tapi ternyata Carla seperti yang diharapkannya, gadis itu kukuh menganggap David jelek. Sepertinya dia melepaskan mereka, tapi nyatanya dia mengarahkan. Dia sudah cukup pengalaman bagaimana David memanfaatkan gadis-gadis yang mendekatinya.
Banyak diantara mereka sudah terpesona dengan ketampanannya sejak pertama bertemu dan proses selanjutnya jadi tak menantang bagi David. Dia sudah mencoba terlalu banyak, dia tahu dia mudah mendapatkan kencan jika dia mau.
Sesuatu yang terlalu mudah di dapatkan akan dia buang dengan mudah. Tapi Carla berbeda, Carla bahkan membencinya. David tak pernah mendapatkan hal seperti itu, Nyonya Maria yakin dia akan penasaran.
Dia hanya perlu mempertemukan mereka lagi nanti setelah beberapa saat. Nanti dia juga akan berusaha menemui Ibu Carla pada saatnya nanti di LA. Kali ini dia yakin akan barhasil.
Sementara itu David melihat ponselnya sambil menghela napas. Bukan kali ini Ibunya itu mencoba mengenalkannya pada seseorang. Tapi Carla tidak mau terlibat dengannya, dia hanya terpaksa ikut ke Barbados karena dipaksa oleh Ibunya. Penyihir itu mungkin menganggapnya sebagai penjahat yang harus dijauhi.
Tapi dia berpikir gadis itu berbeda, dia punya harga diri yang tinggi, dia tak perduli pada berapa nominal rekening, yang dia inginkan hanya ketenangan dan kebahagiaan, baginya pasangan bukan sumber kebahagian tapi sumber masalah.
Tapi ada satu yang menggelitik, entah bagaimana gadis itu punya masalah dengan hubungan fisik, dia tak mau membicarakannya tapi dia hampir yakin penyihir itu belum pernah merasakan kenikma*tan yang wanita lain rasakan.
Menarik, itu membuatnya tertantang. Mungkin dia akan menyukainya kalau dia mampu membuatnya terkapar. David meringis, tapi dia tahu gadis itu membencinya dan tak mempercayainya seujung kukupun. Padahal dia sudah mengerahkan banyak hal untuk mendapatkannya. Termasuk menyewa yacth hanya untuk berdua. Bagaimana hal itu bisa terjadi, sekarang dia kehilangan senyumnya dan penasaran.
Dia mengecapnya sama seperti Ayahnya, playboy yang mematahkan hati Ibunya dan membuatnya harus berjuang membesarkan adik-adiknya. Jika dia ingin gadis itu percaya padanya, jalan untuk meyakinkannya akan sangat berat.
Bicara soal Ibu... Apa dia harus menberi kesempatan pada Ibunya untuk menjelaskan segala sesuatunya. Dia harus mengakui apa yang dikatakan Carla benar, selama ini dia melihat Ibunya hanya dari sisinya sebagai seorang anak yang ditinggalkan. Tapi saat itu bagaimana kondisi Ibunya dia tak tahu.
Dia punya nomor Ibunya. Setiap Natal dan Thanksgivings Ibunya selalu mengirimkan makanan kesukaannya ke kantor, tak terhitung berapa kali Ibunya mencoba menemuinya, tapi dia menolaknya, dia mengirim kue-kue yang dia buat sendiri, tapi dia tidak pernah menerimanya, dia tinggalkan dan bagikan untuk karyawannya. Jika di pikir pikir sejak dia ditinggalkan di umur 9 tahun sudah 27 tahun mereka tidak bertemu, keluarga Ayahnya juga tak ingin dia menemuinya.
Sekarang dia merasa sangat bersalah pada Ibunya itu, selama ini dia sudah dibutakan oleh kemarahannya sendiri pada Ibunya, padahal jika dipikir lagi Ayahnya pun sudah menikah dengan wanita lain 3 tahun setelah mereka berpisah. Dia bersikap tidak adil pada Ibu kandungnya sendiri.
Dia melihat ponselnya. Dan mengetikkan pesan. Entah bagaimana dia memulai bicara dengannya. Tapi akhirnya dia mengetikkan sesuatu.
"Mom, bagaimana kabarmu? Kau ingin makan malam dènganku? Maaf baru bisa menghubungimu saat ini."
Tak butuh lama untuk Ibunya meneleponnya kembali.
"David?" Mungkin Ibunya tak percaya bahwa dia mengirim ini.
"Iya ini aku Mom, ... Kau mau makan malam denganku?" Sekarang dia yakin dia mendengar suara isakan dari seberang sana. Tapi kemudian nampaknya dia berusaha tidak menangis. David tambah merasa bersalah kepada Ibunya.
"Iya tentu saja. Kau sekarang di NY?"
"Iya aku di NY, kau tinggal di mana?"
"Mom tinggal di Queens. Tapi kita ketemu di Manhattan juga tak apa. Mom tak masalah ke sana. Kau ke sini akan sulit di tengah rush hour."
"Mom mau makan apa?"
"Apa saja, kau yang pilih, bagaimana jika restoran di dekat kantormu." Ibunya menyebutkan sebuah restoran yang dia kenal.
"Baiklah, besok sore?"
"Iya besok sore boleh, jam 7?" Ibunya langsung setuju.
"Iya jam 7 boleh. Kau baik Davi?" Itu panggilan Ibunya kepadanya, hanya Ibunya yang memanggilnya begitu.
"Mom baik. Terima kasih sudah menelepon Mom. Tadi Mom hampir tak percaya menerima pesan darimu."
"Aku minta maaf baru meneleponmu sekarang."
"Tak apa, ini kesalahan Mom. Kau tak bersalah." David merasa sangat bersalah mendengarkan kata-kata Ibunya. Harusnya dia bisa berpikir dari sisi yang lain. Matanya sekarang memanas dan dadanya sesak.
"Kalau begitu kita bertemu besok."
"Iya, terima kasih kau menelepon Mom. Kita bertemu besok."
Telepon ditutup. David menghela nafas panjang. Kenapa dia baru diberi kesadaran untuk menelepon Ibunya saat ini. Jika tak ada Carla yang bicara padanya. Dia tidak akan pernah memikirkan ini.
Penyihir itu membencinya, tapi dia mengatakan sesuatu yang membuatnya sampai ke sini. Dia harus berterima kasih pada Carla
...🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋...
POV Carla
Barbados sudah berlalu. Aku kembali ke rutinitas NY hari Senin pagi. Sangat lega aku bisa melewati Barbados tanpa insiden berarti. Tapi pagi ini ada sarapan di mejaku begitu aku masuk ke ruanganku.
Aku melihatnya. Satu set English Breakfast, siapa yang mengirim ini.
"Tebak siapa yang mengirimnya." Janette muncul tepat di saat aku membutuhkan jawaban.
"Ehmm... David Montgomery?"
"Benar!" Dia melihatku dengan pandangan menyelidik. "Jadi kau dan David, terjadi sesuatu antara kalian?"
"Tentu saja tidak, mana mungkin aku terpengaruh orang macam dia."
"Benarkah? Tidak sama sekali?"
"Tidak sama sekali."
"Berarti kiriman sarapan ini, mungkin dia masih penasaran?" Aku meringis dengan tebakan Janette.
"Iya kurasa begitu." Aku tertawa dengan Janette yang juga sudah menebak niatnya.
Tapi kemudian di hari itu aku tak mendengarnya menghubungiku. Tapi akupun belum mengucapkan terima kasih atas sarapannya. Kukirim kan pesan singkat untuknya.
"Terima kasih untuk sarapannya."
"Aku yang harus berterima kasih padamu." Balasan singkat itu kudapatkan segera. Entah kenapa dia harus berterima kasih padaku aku juga tak tahu. Tapi aku tak membalasnya lagi.
Tiga hari kemudian aku bertemu dengannya di meeting antar bagian. Entah kenapa dia terlihat berbeda. Aku tak tahu apa yang salah, dia terlihat lebih santai, mungkin lebih banyak tersenyum. Dia yang biasanya tidak pernah mengeluarkan candaan di rapat, tapi hari ini dia bahkan menertawakan kesalahan staffnya yang salah menyebutkan angka, biasanya dia berdehem atau memberikan lirikan tajam dengan serius lalu staff nya segera tahu mereka membuat kesalahan.
Mungkin dia baru habis 'mengeluarkan sesuatu' di gudang penyimpanan semalam jadi dia punya mood yang baik. Aku meringis sendiri, jangan salahkan aku selalu memikirkan yang terburuk soal Iblis itu.
"Carla." Di akhir meeting sore itu dia berlari menjejeri langkahku keluar dari ruang meeting. Aku menoleh padanya.
"Apa?"
"Mau makan malam?" Aku melihatnya, jawaban tidak sudah diujung lidahku. "Please, hanya makan malam. Jika aku mencoba menggodamu kau boleh potong 20% gajiku." Aku langsung meringis lebar.
"Kau serius. 20% deal, satu kata aku menganggapmu melanggar garis kupotong langsung 20%." Aku mengulurkan tangan untuk dijabatnya.
"Kau paling suka melihatku menderita bukan."
"Kau berlebihan, tapi jelas aku menyukai 20% gajimu." Dia tertawa dengan perkataan terus terangku.
"Deal Nona penyihir." Dia menerima tanganku.
"Jam 6.30, ketemu di lobby. Makan malam di restoran Italia di bawah. Ingat 20%." Aku mengingatkannya lagi.
"Ya baiklah-baiklah, 20%. Terserah kau saja. Jam 6.30."
Dia tersenyum dan berbalik pergi. Astaga Iblis ini entah apa maunya. Padahal sudah kukatakan aku tak akan jadi teman tidurnya. Mungkin dia mau mempertaruhkan 20% gajinya.
Kuterima saja. Tak ada ruginya.