
"Boleh aku jadi assistenmu?" Aku belum menjawab pertanyaannya tadi. Sengaja berlama-lama untuk mengatakan jawabannya. Tapi memang menyenangkan apabila ada seseorang yang mengurus semuanya. "Kalau aku malah menyusahkanmu kau boleh mengusirku."
Hanya aku tak tahu dia benar mengurusnya atau menambah kacau. Tapi kurasa dia hanya ingin tahu apa benar aku hamil besok.
"Fine. Itu kamar tamu. Rapikan sendiri. Semua selimut dan seprai baru ada di lemari." Aku menyerah akhirnya. Jika ini benar, aku hamil, dia juga harus menanggung kesulitanku. Ini perbuatannya, aku akan membuatnya benar-benar jadi assisten. Awas saja jika rumah tak bersih. Malah aku yang harus membereskan kekacauan karena ada dia, dia akan tahu bagaimana diamuk bosnya.
"Oke. Kau assistenku, kau harus ingat itu." Senyumnya terkembang sempurna sekarang. Tangannya terbuka ingin memelukku.
"Eits! Siapa bilang kau boleh memelukku, aku masih marah padamu!" Dia mundur. Tapi senyumnya belum selesai dari wajahnya.
"Baik, aku akan siapkan kamarku sendiri. Kau ingin makan sayang, cicipi sedikit. Mungkin lasagnanya?"
"Tidak, nanti saja. Aku sedang makan ini." Dia membeli salad buah dengan greek yogurt. Ini enak sekali, sekarang aku tak tertarik dengan makanan asin tapi yang ini sangat enak.
"Apa itu enak?" Dia bertanya karena aku hampir menghabiskan setengah porsi yang ukurannya cukup besar itu.
"Enak. Aku mau ini lagi besok."
"Akan aku belikan besok. Itu salad buah yogurt bukan."
"Iya."
Dia masih tersenyum melihatku, sementara aku tidak memperdulikannya. Aku hanya ingin bersandar di sofa dan istirahat.
"Aku membereskan kamarku dulu."
"Iya." Kamar kedua yang lebih kecil ukurannya itu biasa ditempati Mom. Itu juga ada kamar mandi jadi seharusnya nyaman.
Dia sibuk di kamar. Aku melihat gayanya membereskan kamar, tanpa kuduga dia membereskan menganti seprai ukuran queen itu dengan cepat, hampir dengan keahlian dan kecepatan housekeepers hotel menyelesaikan tugasnya.
Dia membawa seprai kotor keluar dan aku menunjuk ruang laundryku. Masih ada baju kotor yang belum dibereskan di sana. Tak lama aku mendengar suara orang menyalakan mesin cuci. Hmm...dia benar-benar serius dia bisa jadi housekeepers?
Aku meringis lebar. Baiklah, awas saja dia membuat kekacauan. Aku tetap tenggelam di sofa panjangku dengan kaki terangkat beristirahat.
"Kau berbakat jadi housekeepers. Pernah jadi housekeepers?" Aku menyindir orangnya yang lewat di depanku.
"Pernah tentu saja. Kau pikir aku tak pernah jadi manager hotel, tak pernah jadi front manager. Aku juga tahu merangkak di jenjang karier, 2 tahun aku jadi GM di hotel, kau pikir aku ditaruh di tempatku sekarang karena aku anak pemilik. Ayahku dengan senang hati menendangku jika aku tak becus jadi profesional."
"Ohh? Benarkah, kau pernah jadi housekeeper?" Kupikir dia di jabatannya sekarang karena dia anak pemilik. Ternyata dia tahu bekerja juga? Kejutan yang tidak kuduga.
"Kau lihat buktinya bukan. Aku menganti bedsheet lebih cepat darimu." Aku tersenyum padanya.
"Baiklah aku percaya padamu."
"Kau tidak ingin berbaring di kamar saja? Kepalamu masih pusing?" Dia berlutut di depanku, mengamatiku dengan mata gelapnya dengan perhatian. Dia membuatku salah tingkah. "Mau kuambilkan makanan sedikit, setelah makan kau boleh tidur. Aku akan membereskan rumah untukmu."
Aku tersentuh sekarang, dia benar-benar berusaha untuk meminta maaf. Iblis ini membereskan rumah untukku. Aku melihatnya dengan perasaan campur aduk. Mungkin dia melakukannya karena anaknya yang mungkin sekarang ada padaku.
"Kau begini berusaha apa yang kau harapkan. Bagaimana jika aku hanya benar sakit flu."
"Tak apa, aku ke sini hanya untuk mengusahakan maaf darimu. Jika sesuatu terjadi di test besok pagi, itu mungkin keajaiban untukku. Aku akan sangat bersyukur, tapi untukku sekarang adalah maaf darimu. Kalau tidak terjadi sekarang akan ada saatnya kau hamil juga nanti, kita punya waktu dan banyak kesempatan untuk melakukannya. Tapi yang kulakukan sekarang adalah menebus kesalahanku padamu. Itu saja." Dia tersenyum kecil dan mengenggam tanganku. Aku tak bisa melepas mataku dari matanya yang seperti tersenyum padaku. "Bagaimana kalau kau coba lasagnanya? Kuambilkan oke. Coba makan sedikit, atau mau coba yang lain?"
"Belakangan aku memang malas makan, aku mungkin baru sadar kemungkinan itu hari ini. Aku tak tahu apa yang salah."
"Tak apa, kau sudah makan banyak salad, makan saja apa yang kau mau. Jika tak suka jangan dipaksakan."
"Kau tak makan?"
"Iya nanti aku makan. Kau tak usah khawatir. Kau mau tidur saja?"
"Ehm, aku ingin tidur saja. Tapi baru jam 7. Rasanya aneh tidur sepagi ini."
"Anggap saja tidur siang. Tidak ada yang salah. Pergilah tidur. Jika kau perlu apapun aku ada di luar sini." Aku beranjak lalu memandangnya dengan banyak pikiran berlalu lalang di kepalaku. "Yang bersih, aku akan marah jika kau tidak bebersih dengan rapi."
"Mengerti Nyonya. Anda bisa beristirahat."
Iblis itu membuatku tersenyum. Dia manis, jika dia berlaku baik dalam masa hukumannya akan kupertimbangkan untuk memaafkannya.
Kutinggalkan dia, aku jatuh tertidur dengan cepat.
...Mak mau tanya, kenapa ya mukanya porno banget?ðĪŠ...
...Pembaca : ...
...Yee lu aja yang otaknya perlu dirinso mak ðĪĢ...
...\=\=\=\=\=ððððð\=\=\=\=\=...
Jam 6.30 alarmku berbunyi. Aku adalah orang yang tidak punya kesulitan bangun pagi. Tapi beberapa hari ini memang aku malas bangun. Harus ke kantor aku memaksa diriku untuk bangun.
Aku ternyata bisa tertidur pulas sampai pagi, itupun masih perlu waktu untuk bangun. Aku menegakkan tubuh, aku harus melakukan test itu pagi ini. Kuambil alat tes yang dibelikan oleh David kemarin.
Masuk ke kamar mandi dan melakukan prosedur testnya. Saat waktu yang ditentukan aku melihat hasilnya.
Garis dua.
Iblis itu berhasil membuatku hamil. Aku duduk melihat pregnancy test itu. Bukan hal yang kuharapkan sama sekali, tapi inilah yang terjadi. Aku harus menelepon Ibu bicara dengannya.
David. Yah dia harus tahu. Jika terjadi pernikahan antara kami, harus ada jaminan. Aku benar-benar akan meminta jaminan untuk anakku dan diriku sendiri. Kika dia berakhir seperti Ayahku aku tak akan punya kesulitan yang sama seperti Ibuku.
Aku keluar kamar. Dia melihatku keluar. Nampaknya dia sudah menyiapkan sarapan, baru toast, telur dan sausage, makanan yang semalam dan kopi. Dia berdiri melihatku. Di tanganku ada alat test itu.
"Sayang? Kau ... kau sudah tahu hasilnya?" Aku merasakan ketegangan dalam kata-katanya. Aku menghampirinya, berdiri di depannya dan mengambil tangannya dan menyerahkan alat tes kehamilan itu.
"Ini artinya...kau... hamil bukan?" Dia melihat bacaan alat itu. Padahal sudah tertulis garis dua berarti hamil.
"Iya. Aku hamil, kau berhasil. Kau puas sekarang." Secepat itu dia memelukku dengan erat.
"Thanks God. Clara kita akan punya bayi. Aku berhasil-aku berhasil-demi Tuhan ini berhasil." Dia bahkan nampaknya terharu, sangat senang dia berhasil rupanya.
Aku yang tidak antusias. Merasa dipaksa menerima ini, moodku naik turun seperti rollercoaster dari kemarin. Aku merasa bersalah pada diriku sendiri dan anak yang ada di dalam kandunganku. Seharusnya aku lebih gembira dari Ayahnya.
"Bisa lepaskan aku." Dia melepaskanku, meneliti wajahku yang datar saja.
"Clara, kau tidak gembira sama sekali, ini anak kita." Aku menatapnya, tak tahu harus berkata apa.
"Entahlah ... aku tak tahu. Aku belum merencanakan anak denganmu. Kita tidak menikah. Aku perlu waktu kukira untuk menerimanya."
"Kita menikah kalau begitu..." Membuat pesta pernikahan, atau pergi ke catatan sipil untuk menikah tidak sulit. Tapi apa yang terjadi setelah itu adalah hal yang sulit.
"Aku bahkan tak punya kepercayaan padamu. Apa aku harus tiap kali kau keluar kota pikiranku bergerak liar memikirkan apa kau akan main perempuan di luar sana."
"Carla,..." Dia memegang tanganku.
"Aku harusnya yang paling gembira. Aku merasa bersalah pada bayiku sendiri. Mungkin aku Ibu yang buruk."
"Dan aku juga Ayah dan suami yang buruk memaksamu menerima keadaan ini. Aku yang harus minta maaf padamu. Maaf kau harus melewati ini..." Dia memelukku dan aku menangis, aku tak tahu kenapa aku menangis, mungkin karena dia meminta maaf, atau aku yang merasa bersalah. "Sayang, aku pernah di posisi tak mempercayai kedua orang tuaku. Aku tak ingin anak kita mengalaminya. Jika kau tak percaya padaku, percayalah aku tak akan menghancurkan anakku sendiri. Jangan menangis bukankah harusnya ini berita bahagia."
Dia bilang jangan menangis padaku. Tapi pada kenyataannya dia memelukku juga dan menangis bersamaku.
"Kenapa kita menangis begini."
"Entahlah." Kami mulai bisa tersenyum dan tertawa kecil.
Aku melihat padanya. Kata-kata itu menghibur, mungkin aku bisa berpegang pada itu. Mungkin aku terlalu banyak berpikir. Seseorang bisa menyesali apa yang dilakukannya sebelumnya, buktinya dia sampai di sini dan rela menjadi housekeepersku.
"Tuan housekeepers, kenapa kau menyelesaikan sarapan ini sepagi ini." Aku melihat pada sarapan yang dia selesaikan dan duduk di meja.
"Aku tak bisa tidur lelap sebenarnya. Terlalu banyak yang aku pikirkan. Makanlah ..." Pandanganku menyapu ruangan, dia benar membereskannya. Iblis ini ternyata housekeepers yang berbakat. Senyumku mengembang melihat rumah yang rapi. Dia bahkan menambahkan bunga lavender dan lilac yang wangi ke pot.
"Terima kasih sudah membereskan rumah. Kau housekeepers yang baik." Dia tertawa dengan komentarku.
"Apapun untuk membuat perasaanmu lebih baik."
Setidaknya anak ini punya Ayah yang memperhatikannya saat ini. Walaupun di masa depan aku harus memikirkan meminta jaminan yang lebih pasti.