
"Kembalikan ponselku. Itu tidak akan merubah apapun mulai dari sekarang." Aku menengadahkan tanganku padanya.
"Carla...."
"Kubilang kembalikan!"
Teriakan putus asaku membuatnya melihatku. Aku sudah berlinang air mata. Dan dia terpaku di depanku. Kali ini dia bergerak memelukku sampai sesak.
"Carla aku salah, aku minta pengampunanmu. Kumohon jangan tingalkan aku. Sekali ini saja, syarat apapun yang kau minta padaku akan kukabulkan. Aku bersumpah tidak akan terjadi lagi."
Aku meraung menangis patah hati. Ayahku berjanji di depan altar, dia punya 4 anak tapi apa yang terjadi, Ibuku tetap menjadi janda! Aku memberinya kesempatan tapi dia mengkhianatiku hanya selang dua bulan. Memberinya kesempatan?! Aku sudah bodoh membuat diriku sendiri jatuh cinta padanya
"Kumohon jangan menangis, kau bilang kau akan menikah denganku. Kau bilang begitu semalam. Kita lupakan apapun yang terjadi kemarin, maafkan aku sekali ini saja. Kumohon Carla..." Dia memelukku begitu erat sementara aku menangis sampai mataku kabur.
"Aku tak akan pernah percaya lagi padamu David. Kita sudah selesai, kembalikan ponselku. Aku akan kembali ke LA. Tak ada lagi yang bisa kau lakukan."
"Mereka menjebakku Carla, tidakkah kau percaya padaku!" Dia melihatku dan memegang lenganku dengan erat. Aku tertawa sambil menangis mendengar perkataannya.
"Yang aku percaya adalah saat itu kau senang terjebak dengan mereka. Lalu mungkin kau merasa bersalah padaku. Jika tidak kutahuan mungkin di lain waktu kau akan mengulanginya. Aku bukan orang yang tidak pernah menyaksikan semua ini. Percuma memohon padaku David. Kembalikan ponselku, kau bisa bersenang-senang dengan gadis manapun yang kau inginkan. Aku tak perduli lagi. Aku tak perduli lagi padamu!" Kudorong dia sekuat tenaga karena marah.
Aku berhasil melepaskan diri dan terduduk diam di sofa. Kami semua diam. Pikiranku buntu, semua rasanya seperti mimpi, mimpi yang buruk. Aku tak percaya semua ini akan terjadi. Kupikir matahari akan masih terus bersinar dan pelangi masih bertahan di musim dingin pertamaku di NY, tapi ternyata ... entah dari mana datang badai ini.
"Kembalikan ponselku. Tak ada gunanya kau menahannya. Tak akan merubah apapun." Aku lelah bicara, seluruh badanku lemas, aku hanya ingin memejamkan mata.
"Mereka menjebakku, saat aku datang mereka merekan pertunjukan On*lyFans di depanku. Aku merasa aku entah bagaimana diberi obat perangsang juga, tujuan mereka adalah kau bukan aku. Kau pergi mereka menang. Itu yang terjadi ..."
"Mungkin di masa depan ada lagi jebakan seperti ini yang rela kau masuki. Gadis-gadis mengelilingimu dan kau merasa punya hareem. Aku tak sanggup harus hidup di dunia seperti itu, lain kali mungkin seorang wanita membawa hasil tes DNA dia punya anakmu muncul di depan rumahku. Lagipula aku tak akan mempercayaimu lagi. Aku tidak akan menikah dengan seorang yang tidak aku percaya David."
"Kumohon beri aku kesempatan sekali lagi. Kita menikah, jika kau mau kita pindah ke LA. Melupakan semua ini, atau pindah ke Eropa."
Aku tak mendengarnya lagi, pikiranku kosong. Masih belum menerima kenyataan bahwa tiba-tiba pelangi berganti awan kelabu.
"Carla apa kau mendengarku." Aku menatapnya.
"Kembalikan ponselku. Kita tonton videonya bersama."Aku tertawa, kurasa aku sudah gila tertawa di saat seperti ini.
Dia berdiri, menatap ponselku yang sudah terkunci.
"Tak ada yang bisa kau lakukan lagi David. Apa yang kau ingin lakukan dengan ponselku? Itu terkunci."
"Tidakkah kau pikirkan ini, mereka hanya iri padamu. Kenapa kau harus menyerahkanku kepada mereka."
"Yang iri padaku banyak David, tapi kau sudah berjanji yang bisa menyentuhmu cuma aku. Apa setiap yang iri padaku bisa menyentuhmu? Bukan orang lain, tapi ini antara kau dan aku. Aku tak sanggup membayangkan setiap yang iri akan membuat kesempatannya sendiri."
"Ini tak akan terjadi lagi. Dengarkan aku Carla, aku bersumpah demi apapun setelah kita menikah ini tak akan terjadi lagi."
"Aku bahkan tak akan percaya sumpahmu lagi."
Kami berdua terdiam lagi. Aku melihatnya dan dia melihatku.
"Berapa orang gadisnya? Ini lucu... bagaimana mereka menjebakmu. Mereka melakukan show On*lyFan*s di depanmu kau bilang. Dan kau bergabung dengan shownya, kau pasti terlihat bagus di depan kamera." Aku tertawa tapi tak lama air mataku menetes. Aku memang sudah gila karena patah hati.
"Aku tak mengajak mereka menikah, tak ada yang kupanggil kekasih. Hanya kau yang kucintai."
"Hal ini tidak akan terulang lagi, mereka memasukkan obat perangsang untuk menjebakku. Setelah itu mereka mengirimkannya padamu untuk membuat kita putus, kau ingin mengalah dengan mereka?"
"Sudah kubilang itu bukan tentang orang lain, tapi kau dan aku. Berikan ponselku."
"Tidak, kau hanya sakit hati melihat ini."
"Itu lebih bagus, aku akan lebih mudah melupakanmu." Aku menatapnya dengan tatapan datar. Aku ingin lihat apa yang ada di video kiriman itu, agar aku lebih membencinya.
"Berikan aku ponselku." Itu ada di kantong celananya. Aku maju menggapainya.
"Tidak, berikan passwordnya akan kuhapus video ini."
Aku menjangkau ke kantong celananya. Dia menahan tanganku. Aku harus mendapatkan ponselku, itu tiketku pulang ke LA dengan tetap mempertahankan jabatanku. Dia menahan tanganku dan aku menjangkau dengan tangan lainnya. Aku tak menang, dia tetap menahan ponselku.
"Carla, kita bicarakan ini dulu."
Tiba-tiba aku ingat aku bisa mengaksesnya dari komputerku. Aku mendengus kesal memandangnya dan mengambil komputerku. Sesaat dia tidak sadar kemudian dia sadar apa yang aku lakukan.
Hanya beberapa klik dan aku melihat video apa itu.
"Lima orang... David Montgomery, kuakui kau sangat hebat." Awalnya dua tapi ada tiga lagi yang datang. Semua wajah wanitanya di blur, hanya David yang jelas. Dan jelas dia menikmati semua itu. Para wanita itu menjadikannya mangsa mereka dan memang video itu ditujukan untukku.
Tapi seperti yang kubilang wajah David yang menikmatinya ditunjukkan di sana dengan sangat jelas. Itu membuat darahku naik ke ubun-ubun.
"Carla kau tak perlu melihatnya." Dia menutup layar laptopku. Aku berdiri dan sebuah tamparan melayang.
"Kau bajingan! Kau memang sangat menikmatinya! Dijebak?! Kau dengan sukarela masuk ke jebakannya!" Aku mendorongnya sekuat tenaga. Dia mundur. Dia sangat tahu dia salah! Video itu membuatku ingin menghajarnya habis-habisan.
"Kembalikan ponselku atau aku akan mencakarmu!" Sekarang kupukul dia! Emosiku meluap tak terkendali, sekarang aku sangat membencinya, aku berharap melihat dia menolak, dan mencoba pergi tapi pada kennyataannya dia menyerahkan diri sendiri kepada mereka. Aku membenci apa yang kulihat, aku membenci Iblis ini, dengan bodohnya masih ada sedikit harapan di hatiku dia benar-benar di jebak dan aku bisa membuktikannya di video itu. Ternyata yang kubuktikan sebaliknya.
"Baik-baik..." Dia menyerah karena memang tak ada gunanya lagi menyembunyikan apapun.
Aku mengambil ponselku dengan cepat. Membereskan barang-barangku di kamar dengan cepat, yang kulakukan dengan marah bercampur linangan air mata karena sangat kecewa.
"Carla... kita tak harus begini." Dia melihatku kacau dengan tangisan dan semua yang terjadi dalam setengah jam terakhir. "Kita bisa bicarakan ini baik-baik." Dia mengikutiku ke kamar sejak tadi.
"Tak harus begini! Kau yang harusnya berpikir kenapa jadi begini!" Aku mendatanginya dengan marah dan memukulnya dengan membabi buta. Emosiku tak bisa kukendalikan karena melihat video yang tak pantas itu. Dia hanya menahan tanganku, tapi apa arti tenagaku yang hanya terbiasa memegang pulpen baginya. Menyebabkan merah saja tidak.
Aku menyerah, berbalik dan merasa aku lebih baik tak melihat wajahnya lagi secepatnya.
Aku selesai membereskan barangku. Sejenak terdiam karena ini seperti mimpi, setengah jam yang lalu hariku masih di penuhi pelangi dan sekarang dipenuhi mimpi buruk.
"Carla,..." Dia memanggilku lagi. Aku melihat lagi sosoknya, Iblis tampan yang membuatku jatuh cinta dan kemudian menghancurkanya hanya dalam sekejab.
"Sayang sekali, kita bahkan tak melewati autumn pertama. Kau bahkan tak bisa menempati janjimu melewati akhir tahun. Kau memang lebih parah dari Ayahku. Harusnya aku mendengar pikiran logisku sendiri, ... tapi terima kasih untuk beberapa bulan ini."
Dengan kata-kata itu aku menutup pintu. Tirai air mataku turun segera. Dadaku sakit menangisi cinta yang sudah hancur bagai pasir dan terserak di tanganku.
Aku begitu kecewa, sangat kecewa....
🌀🌀🌀🌀🌀🌀🌀🌀