
Makan malam dengan David Montgomery.
Tak mau terlihat orang lain dan membuat gosip tak perlu aku turun duluan dan akan menunggunya di restoran hotel langsung bukan di lobby hotel tempat kami bekerja.
Tapi mataku menangkap sesosok orang yang kukenal di lobby hotel. Richard Blunt, seorang assisten dosen yang kukenal di masa kuliahku karena membantuku mempersingkat masa kuliahku. Dia salah satu yang terbaik dalam di jurusan master Financial Analyst.
Dia orang yang baik hati dan sabar. Aku tak akan lupa kebaikan hatinya membantuku selama masa kuliah.
"Richard,... " Aku berhati-hati memanggilnya, sudah belasan tahun kami tak bertemu. Apa dia masih ingat padaku.
Dia menatapku sebentar, nampak mengumpulkan ingatannya. Sebelum matanya membulat dengan pengenalan.
"Carla Winston!" Aku tersenyum dia mengenalku, wajah ramahnya masih seperti yang dulu. Dia merentangkan tangan memeluk ringan. Aku menyambutnya dengan cepat. "Kau terlihat hebat. Kejutan yang sangat menyenangkan bertemu denganmu."
"Kau juga terlihat hebat." Aku membalas pelukan singkatnya.
"Bagaimana kabarmu? Ahh bagaimana jika kita duduk sebentar, kau ada janji? Aku ada janji tapi masih ada waktu mengobrol, bisa?"
"Tentu saja."
Kami dengan cepat menemukan tempat di lobby hotel itu. Dia belum terlalu banyak berubah, dia dua tahun lebih tua dariku. Di usia 37, sama seperti David.
"Kau bekerja di NY? Atau di menginap di sini untuk bisnis?"
"Sebenarnya... aku bekerja di hotel ini. Aku Direktur Keuangan jaringan hotel ini."
"S*hit. Direktur keuangan, aku tahu kau hebat! Tak sia-sia aku membantumu lulus dengan cepat" Aku langsung tertawa dengan reaksinya. Itu pujian, sungguh sebuah pujian.
"Kau pasti lebih hebat lagi, mana mungkin aku mengalahkan otakmu."
"Aku bekerja di JPMorgan Chase, kantorku di Brooklyn, bidang yang aku pahami. Finance Analysts." Aku mendapat kartu namanya, Head of Financial Analyst and Market Planning. Posisi Mid Level Management di bank terbesar di US. Itu hebat, sesuai dengan apa yang dipahaminya seperti dia bilang.
"Kau pasti sudah banyak bertemu orang-orang hebat di posisi ini."
"Itu benefit bekerja di bank besar. Tapi kau pasti sudah keliling dunia dengan faselitas di posisi Direktur ini " Aku tertawa. Dia benar posisi di sini memungkinkanku untuk keliling dunia dengan hemat.
"Itu jelas keuntunganku."
Dari pantai barat kami sama-sama ke timur. Ini adalah pertemuan yang tidak disangka-sangka.Aku bertanya tentang kariernya sekarang. Kami terlibat pembicaraan yang seru. Bagaimanapun kami sudah lama tak bertemu.
"Carla." Aku mendengar suara memanggilku. Menoleh untuk mendapatkan David sudah berdiri di sampingku.
"David." Aku kembali lagi ke Richard. "Ohh, maaf kolegaku sudah datang."
"Tak apa, bagaimana jika kita bertemu lagi nanti. Aku juga harus menemui klien."
"Boleh tentu saja, banyak yang harus kita ceritakan lagi. Kau chat ke nomorku oke." Aku memberinya kartu namaku. Dia menerimanya.
"Baiklah. Kalau begitu sampai ketemu lagi nanti."Pertemuan ini harus ada lanjutan pastinya.
Dia pergi aku melambai padanya mengantar kepergiannya dengan senang hati. David melihat senyum lebarku saat aku berbalik padanya.
"Teman?"
"Teman baik saat kuliah. Tak kusangka aku bertemu lagi dengan Richard."
"Ohh. Teman kuliah."
"Ayo makan."
Aku berjalan dengan riang ke arah restoran yang kutuju. Efek pembicaraan menyenangkan sebelumnya. Dia ikut berjalan di sampingku. Wangi parfumnya itu menerpaku lagi. Aku menyukai wangi parfumnya lebih dari orangnya.
"Penyihir, kau nampaknya senang sekali bertemu teman kuliahmu itu?" Rupanya nama resmiku sekarang benar-benar adalah 'penyihir'.
"Dia itu dulu assisten dosen, dia membantuku menghemat semester kuliahku, aku tak menyangka bisa bertemu dengannya lagi setelah sekian lama."
Tadi aku lupa bertanya apa dia masih sendiri. Tapi dia mengajakku makan malam dengan gampang, berarti mungkin dia masih single. Aku memikirkan itu dengan sekarang. Mungkinkah dia masih single orang sebaik dia...
"Pernah pacaran dengannya." Tiba-tiba dia bertanya.
"Kenapa kau ingin tahu?"
"Hanya menebak kenapa kau terlihat begitu bahagia bertemu dengannya."
Aku cuma tersenyum, tak menjawabnya. Membiarkan dia penasaran saja. Lebih baik tak membiarkan dia tahu urusan pribadiku. Kami berjalan dan mengambil tempat duduk.
"Ayo pesan..." Aku langsung membuka buku menu restoran.
"Kenapa kau menunggu di lobby hotel, bukan lobby kantor?" David bertanya hal lain kemudian.
"Aku tak mau di cakar oleh klub penggemarmu di kantor." Dia meringis mendengar jawabanku.
"Tak ada yang berani mencakarmu, penyihir, kau Direktur Keuangan. Kau wanita dengan jabatan tertinggi di sini. Siapa wanita yang berani mencakarmu di sini. Bahkan kau berani mencakarku jika perlu, aku mendapatkan makan malam ini dengan menjaminkan 20% gajiku." Aku tersenyum dengan sindiran yang tepat pada sasaran itu.
"Aku tidak menyuruhmu makan malam denganku. Wanita bisa berbuat apa saja jika cemburu." Aku juga tak tahu kenapa dia mau makan malam denganku. Dia tahu dia tidak akan mendapatkan apapun padahal.
"Iya aku tahu."
"Lalu kenapa kau mau makan malam denganku? Aku tidak akan memberikanmu apapun."
"Kau memang menganggapku sangat buruk. Ini cuma makan malam, memangnya apa yang ku mau darimu." Dia menghela napas dan aku senang mendapat kesempatan menjelek-jelekkan iblis ini. "Aku hanya ingin berterima kasih."
"Terima kasih untuk apa? Apa yang sudah aku lakukan?" Sekarang aku heran.
"Ohh... itu bagus untukmu." Jadi ini penyebab perubahan sikapnya yang baru kulihat hari ini. Dia memaafkan Ibunya semuanya terlihat lebih baik.
"Ya, bagus untukku."
Aku melihat sisinya yang lain sekarang. Nampaknya dia mengundangku makan malam memang untuk berterima kasih.
"Ayo makan. Aku sudah lapar, kita langsung pesan saja." Kami memesan beberapa menu kemudian. Dia berusaha membicarakan hal yang umum. Sedikit membahas masalah pekerjaan kami. Dia menempati janjinya tidak menggodaku.
"Jadi sekarang kau berbaikan dengan Ibumu." Di akhir makan malam aku penasaran tapi aku kemudian sadar bahwa itu juga urusan pribadinya. "Maaf aku bertanya hal pribadi, kau tak usah menjawabnya."
"Tak apa, aku berbaikan dengan Ibuku juga karena kau." Dia diam sebentar sebelum melanjutkan.
"Dia minta maaf saat itu dia meninggalkanku. Saat itu dia tidak mengatakan alasannya, tapi itu ternyata karena Ayah dan mantannya berhubungan lagi, dia bilang dia sudah berusaha memaafkan mereka dan meminta mereka putus tapi berkali-kali wanita itu bisa kembali berhubungan dengan Ayah secara sembunyi-sembunyi. Dia minta maaf dia emosi dan meninggalkanku, dia memilih temannya yang mengharapkannya, keluargaku hanya tahu dari Ayah dia yang meninggalkanku, Ayah menutupi perselingkuhannya sendiri dari keluarganya dengan membayar nilai yang besar untuk Ibu atas perceraian mereka. Ibuku bahkan tak hadir di sidang perceraian dan hanya mengirimkan pengacaranya. Apa yang bisa kukatakan dia minta maaf padaku, aku memaafkannya, Ayahku yang memulai semua ini dan aku bersikap tak adil selama bertahun-tahun menutup komunikasi dan menimpakan semua kesalahan padanya."
"Kenapa kalian tak pernah bertemu selama bertahun-tahun."
"Saat aku diadopsi oleh Ayahku yang sekarang, tahun ke tiga setelah Ibuku berpisah, aku dibawa keliling dunia dalam pelayaran dan kami hidup berpindah mengunjungi beberapa negara Eropa, Karibia, Mediterania. Aku jarang kembali ke NY selama bertahun-tahun, sekolahku home school, bahkan sebenarnya aku kuliah di Eropa. Baru 6 tahun belakangan aku kembali ke NY. Dan baru mungkin 4 tahun-tahun belakangan Ibuku tahu aku kembali ke NY."
"Hmm... yang penting semuanya sudah baik-baik saja sekarang bukan." Aku kasihan padanya, selama bertahun-tahun dalam hidupnya dia mendendam pada Ibunya kerena mereka menyudutkannya dengan tak adil.
"Iya nampaknya begitu." Aku melihatnya, dan ingin mengomentari sesuatu.
"Ya ternyata cerita kita sama. Semua dimulai dari pria yang berkhianat."
Dia diam. Aku tak bermaksud mengatakan dia juga akan berkhianat, setiap orang punya pilihannya masing-masing. Dulu aku 100% menganggap dia berpotensi begitu, tapi sekarang entahlah... apa dia belajar sesuatu dari keluarganya sendiri sekali lagi itu pilihannya.
"Aku tak bilang kau akan begitu. Kau jangan tersinggung. Aku hanya bilang, mungkin wanita-wanita yang patah hati karenamu itu tidak bersalah. Mungkin mereka memang mencintaimu. Tak pernahkah kau pikirkan itu. Seperti Margie...."
"Aku punya penilaian sendiri soal Margie. Kau memang tak bilang begitu. Jika aku berkeluarga aku juga tak akan menaruh anakku di posisi yang sama denganku."
"Itu bagus. Kau bisa bilang ingin berkeluarga sekarang. Memaafkan sesuatu memang membuatmu merasa jauh lebih baik bukan."
Dia melihatku dan nampak ingin mengatakan sesuatu, tapi kemudian dia tak jadi mengatakannya.
"Terima kasih kau sudah memberiku saran."
"Bukan hal yang besar. Aku senang kau ... jadi berbeda sekarang."
"Aku jadi berbeda?"
"Iya. Kau bahkan bisa bercanda dengan staffmu menertawakan mereka. Nampaknya ada sesuatu yang berubah darimu." Dia menghela napas.
"Yang berubah adalah aku lega apa yang kupikirkan selama bertahun-tahun salah. Tak ada lagi kemarahan dalam diriku,... itu membuat segalanya lebih mudah."
"Itu bagus " Aku menggangguk.
"Mau jadi kekasihku?" Tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan saktinya tanpa ada kata pembukaan apapun.
"Kau memang gila?"
"Tidak, aku hanya tak suka basa-basi. Ini kekasih. Bukan teman tidur."
"Kau, 20% akan kupotong bulan ini."
"Fine." Đia tersenyum padaku.
Jawaban entengnya membuatku tertawa, ketika dia berlagak 20% itu seperti donasi untukku. Itu ancaman, tapi seperti yang kuduga dia melanggarnya.
"Carla,..." Dia mulai merayuku.
"Stop di sana. Aku tak mau mendengarmu. Aku sudah cukup mendengar reputasimu."
"Aku tak akan ..."
"Ayahku berkata dia tak akan lagi melihat wanita lain saat menikahi Mom, mereka sedang jatuh cinta, lalu apa yang dia dapatkan? Hanya sakit hati setelah fase jatuh cinta itu selesai."
"Aku bukan Ayahmu."
"Kurasa kau lebih parah dari dia. Dan wanita pengejarmu lebih banyak dari Ayahku. Kau lebih kaya, lebih tampan, lebih banyak wanita yang bersedia menjadi teman sementaramu. Aku tak mau jadi kekasihmu, tak mau jadi teman tidurmu. Jelas, sudah kutegaskan padamu. Kenapa aku harus menerima makan malam ini. Dam*n."
Aku menghela napas panjang. Hidupku yang sudah berada di laut yang tenang, kenapa muncul playboy ini membuat hidupku kacau lagi.
"Kau bahkan langsung menghakimiku tanpa memberiku kesempatan."
"Kita sudahi pembicaraan ini David."
"Ya baiklah-baiklah." Dia mengangkat tangannya dan tersenyum melihat kegusaranku. Aku menghela napas panjang. Dia kelihatan sama sekali tak terganggu dengan penolakanku.
Aku diam. Dia melihatku.
"Sorry, kau terganggu dengan ini. Anggap saja aku tak pernah mengatakannya." Anehnya dia yang malah minta maaf. Jika laki-laki lain ditolak pasti sudah dengan kondisi canggung, tapi dia bersikap biasa saja seakan panolakanku itu hanya hal yang biasa.
"Aku mau pulang saja oke."
"Oke. Kau ingin membungkus sesuatu untuk sarapan besok?"
"Tidak terima kasih."
"Ya baiklah, kita pulang."
Sisa malam itu aku kembali. Dia mengatakan mau menjadikan aku jadi kekasihnya. Aku menolaknya, aku berusaha mengenyahkan pikiran tentang dia, tapi jelas aku yang malah masih memikirkan itu sampai sekarang.
David Montgomery yang tidak bisa dipercaya itu. Mungkin aku harus punya pacar agar aku terhindar darinya.