The Class Meeting

The Class Meeting
BOREDOM



“Ke mana lagi kita akan pergi?”


Marcel bertanya pada Marcya.


“Ayo pergi ke kota.”


"Aku bosan dengan keramaian."


"Kenapa? Keren...biasanya kamu suka ditantang dengan semua hal baru."


"Kita ini manusia. Bahkan seorang pendaki senior pun masih beristirahat di base camp sebelum mencapai puncak gunung."


"Ya, tentu saja. Tapi kamu bukan seorang pendaki, kan?"


"Hahhahh... Ya, kamu benar."


Marcel membelai rambut Marcya dengan lembut.


“Lalu kita akan pergi kemana?”


“Ayo kita coba ke Barcelona dulu.”


"Begitu banyak orang di sana."


"Tentu saja itu kan tempat wisata."


Marcel menghela nafas pelan. Sangat malas. Sebenarnya lebih nyaman di rumah pohon. Meski selama di kota tidak ada yang mengganggu mereka, namun suasana di dalam hutan lebih tenang.


"Kenapa melamun?"


Marcya bertanya.


Andai Marcya bisa membaca pikirannya, dia pasti akan membatalkan keinginannya pergi ke Barcelona.


“Tidak masalah.”


jawab Marcel. Dia tidak bisa menolak permintaan kekasihnya.


"Kalau menjentikkan jari harus mencantumkan alamatnya juga, pasti kita tidak akan sesestres seperti ini ya?"


Marcel menoleh ke arahnya mendengar pernyataan Marcya. Mungkin dia merasakan kecemasannya.


Bertualang bebas tanpa syarat ternyata bisa menimbulkan kebosanan juga. Karena tidak menikmatinya atau kurang bersyukur.


Aaarrghhh


Marcel stag dalam pikirannya sendiri. Karena selama ini tidak ada masalah yang serius dalam kehidupannya selama ini.


"Sayang, ayo pergi sekarang."


“Oke… ayo pergi!”


Mereka mencegat taksi yang lewat di depan mereka. Di desa ini jarang sekali ada taksi yang lewat. Kecuali jika taksi tersebut datang dari kota yang mengantar penumpang desa ke tempat asal.


"Selamat siang, Tuan. Anda ingin pergi ke mana?"


Tanya supir taksi.


"Ke Barcelona, Pak."


jawab Marcel.


"Oke. Argo mulai dari sekarang ya Pak?"


Kata pengemudi sambil menekan argometer di bawah dashboard.


"Ya pak."


Ucap Marcel sambil melihat argometer taksi di depannya.


“Supir taksi di sini lebih memilih menggunakan argo dibandingkan tawar menawar.”


Marcya berbisik pada kekasihnya.


"Kenapa kamu begitu khawatir? haha."


Marcel mencolek pipi Marcya.


Romansa cinta Marcel kerap membuat hatinya luluh.


Hal ini sering dilakukan Marcel saat Marcy sedang marah.


Berbeda dengan apa yang dirasakan Marcel. Kelelahannya hilang seketika saat ia menggoda Marcya.


"Perut mual."


Marcya tiba-tiba berkata lalu berbaring dengan kepala di pangkuannya.


Sudah menjadi kebiasaan Marcya jika bepergian dengan mobil. Selalu ingin muntah. Lain jika menggunakan sepeda. Namun bagaimana mungkin melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan sepeda?


Sesampainya di Barcelona, Marcel membayar 8 euro.


“Ambil saja kembaliannya Pak.”


kata Marcel.


"Terima kasih banyak, Pak. Selamat datang di Barcelona. Saya harap liburan Anda menyenangkan."


Sopir taksi itu tersenyum dan memasukkan uang ongkos taksi ke dalam saku bajunya.


Berjalan-jalan di sepanjang Font De Canaletes. Ada mitos yang mengatakan seseorang yang minum air di sini akan kembali ke Barcelona.


Sebagian orang tidak begitu saja menelan mentah-mentah mitos ini karena air yang keluar adalah air mentah.


Tapi banyak juga yang percaya. Sampai rela mengantri giliran untuk meminum air ini.


Barcelona yang menajubkan. Banyak sekali patung-patung bersejarah yang di pahat oleh para seniman di sini.


Setiap patung membawa cerita sejarah sendiri-sendiri. Seperti Escultura Carmela di Sant Piere Santa Catarina yang unik.


Banyak pejalan kaki di font de caletes. Berbagai suku dan bangsa bercampur menjadi satu. Sebuah destinasi wisata yang terkenal dengan arsitekturnya yang megah dan klasik.


Bagi Marcel, mitos terkalahkan dengan kemampuan.


Barcelona penuh dengan hasil karya yang sangat indah. Puluhan patung bersejarah dan penghargaan memperingati tokoh-tokoh yang berjasa atau terkenal di tanah air.


Sebuah penghargaan yang tersimpan dalam sebuah karya monumen. Sehingga baik pengunjung maupun penduduk asli mau tidak mau akan teringat akan hal tersebut ketika mereka lewat.


Bukan sekadar untuk mengenang kemampuan mereka. Lebih kepada tentang menyebarkan kekayaan intelektual yang dapat bermanfaat.


"Sayang, ayo kembali lagi."


kata Marcya.


"Di mana? Ke rumah pohon?"


"Hmm senangnya berada di tempat sepi ya?"


“Bukan seperti itu. Aku hanya ingin pergi ke sana.”


"Alasannya?"


"Tidak ada alasan. hanya ingin saja. Seperti sungai yang mengalir."


"Hahhah... baiklah, ayo kita kesana."


Kembali memesan taksi. Di Barcelona banyak sekali taksi yang berseliweran. Satu menit cukup untuk mendapatkan taksi. Tidak seperti di desa.


Jalanan yang padat membuat perjalanan sedikit macet.


Marcya tertidur di pangkuan Marcel.


Arus lalu lintas yang padat tidak mempengaruhi tidurnya.


Kemacetan arus lalu lintas membuat AC di dalam mobil naik turun. Terkadang sejuk, terkadang panas. Keringat menetes dari kepala Marcya. Marcel menyekanya dengan tisu yang diambilnya dari kotak taksi.


Mobil taxi bermodel klasik namun mesinnya tetap bisa diandalkan. Bagaimana tidak, jika mesinnya tidak sekuat mobil baru tentu tidak bisa dijadikan sarana akomodasi perjalanan.


Bentuk capnya unik meski tergolong tipe kuno. Menjadi keindahan tersendiri di tengah hiruk pikuk kota. Jadi wajar jika AC di mobil naik turun.


Marcel menyuruh sopirnya berhenti di depan penjual hot dog di trotoar.


Di sini penjual hot dog atau nama lain yang sering disebut perritos, menggunakan alumunium foil sebagai pengganti kertas yang menyerap minyak untuk membungkusnya.


Toppingnya pun bermacam-macam. Dari berbagai macam jamur, paprika, mayo, keju, sayur mayur dan lain-lain.


Hanya dengan 10 euro mereka bisa makan siang. Meski masyarakat pribumi lebih menyukai nasi yang disebut paella, namun beberapa penjual makanan cepat saji masih memiliki banyak penggemar.


Ya, mungkin karena pengunjung menghemat waktu mereka. Itu sebabnya banyak terdapat tenda jajanan di pinggir jalan dengan berbagai jenis makanan cepat saji.


Seperti tortilla espanola, empanada, phincitos dan masih banyak lainnya.


Marcya membuka matanya melihat Marcel yang masih mengantri di depan penjual street food.


"Belikan aku dua bungkus, ya?"


"Iya."


jawab Marcel.


Marcya menjulurkan kepalanya ke luar jendela mobil. Di cuaca yang terik ini, masih banyak pedagang yang menjual makanan.


Sekedar melanjutkan lingkaran kehidupan.


Marcel masuk ke dalam taksi.


Marcya menggigit hot dog yang masih panas. Makanannya sangat lezat. Topping jamur dengan saus barbeque. Ditaburi dengan keju leleh yang dicampur mayo.