The Class Meeting

The Class Meeting
Dinner



"Oliv... Gimana kalau kita jodohkan Ahmed dengan Abigail?"


Tanya Kemed.


Ahmed yang mendengar namanya di sebut mengarahkan pandangannya ke Kemed dan Olivia.


"Hahaa serius? Kita saja jomblo keren kenapa sibuk jodo-jodoin orang?"


Jawab Oliv.


Sedetik kemudian Abigail sudah kembali duduk di sebelahnya.


Sedikit banyak dia mendengar perbincangan mereka.


Apaan sih jodo-jodoin aku? Trus Marcel gimana?


Tapi Abigail pura-pura tidak mendengar. Dia kembali menyantap hidangan yang sangat lezat di depannya.


Benar juga sih. Pengalaman pacaran saja belum sudah jodo-jodoin orang. Atau rumah tangga saja belum pernah berhasil tapi menjadi jembatan percintaan seseorang. Kisah percintaan yang akan tumbuh dengan sendirinya. Dengan atau tanpa bantuan dari pihak ketiga.


Tuhan akan mempertemukan satu pasangan dengan caranya sendiri. Dengan kedua tangan besarnya. Tidak ada satu manusiapun yang mengetahui rencananya. Tidak juga malaikat.


"Gail...mau ga?"


Tanya Kemed pantang mundur.


"Apa?"


"Aku jodoin sama adikku ini. Ahmed namanya."


Olivia tertawa melihat muka bengong Abigail.


"Engga."


Dengan tegas Abigail menjawab.


Olivia semakin terbahak-bahak mendengar jawaban adiknya.


Marcya kembali menyantap makanannya. Sambil melirik Oliv dan Kemed bergantian.


Mereka serius?


Batin Marcya.


"Gaiill....


Kemed terlihat akan menggoda Abigail kembali. Melihat wajah Abigail yang bersemu merah. Buru-buru Ahmed menyodok pinggang Kemed dengan sikunya.


Kemed meringis dan balik memukul lengan Ahmed. Sambil meledek dengan muka lucu ke arah adik sepupunya.


Marcya sempat melihat adegan keduanya.


Mesra sekali kakak beradik itu.


Sorot mata yang sangat ramah. Ada kelembutan yang menenggelamkan di sana.


...Mungkin itu yang membuat Kemed tidak percaya dengan penolakan Abigail.


Dan berniat ingin menggodanya kembali...


Rani berspekulasi di dalam otaknya.


Kembali matanya menatap dalam ke mata Ahmed. Yang kebetulan juga sedang menatapnya.


Niatnya cuman sekilas saja.Tapi sorotan itu bagai menyihirnya untuk tetap menikmati sebuah kelembutan.


Bagai terkena ilmu gendam. Ilmu magic yang paling terkenal di Indonesia. Marcya pernah membaca satu artikel yang membahas lengkap tentang ilmu itu.


Tengah asik memandang alam yang teduh, tangan Olivia melayang di pipinya. Tidak keras tapi cukup mengejutkan. Membuatnya terbangun dari permadani yang sedang melayang di udara.


Begitulah kira-kira penjabarannya.


"Kenapa?? Ternyata naksir ya??"


Olivia meledek dirinya.


Abigail hanya tersenyum. Diam.. Sambil menjawab di dalam hati.


Iyaa. Memangnya kenapa?


Pernyataan yang tak mungkin di keluarkan saat ini. Setelah tadi dia menolaknya.


Jika tidak ada Marcel mungkin dia akan menyesal. Ternyata hanya dengan matanya saja mampu membawanya terbang dan melayang.


Sesuatu yang di yakini sebagai jendela hati. Di mana segumpal darah itu tidak bisa di prediksi dengan jelas.


Kemed menyaksikan semuanya. Dia tertawa kecil. Kini Olivia yang berubah serius. Kemed mengira Olivia sibuk menikmati makan malam mereka. Ternyata menaruh perhatian juga pada sepasang remaja yang hampir di jodohkan itu.


"Apa mau di ulangi lagi perjodohannya?"


Tanya Kemed dengan senyuman menawannya.


Abigail kembali tersentak. Dia menatap Kemed tapi tidak berani memandang Ahmed.


Olivia cengar cengir saja.


Karena Abigail kesal merasa di goda sejak tadi, dia berkata..


"Kenapa bukan kalian berdua saja yang menikah??"


Sambil bersungut-sungut meneguk segelas wine yang dari tadi belum di minumnya.


Olivia tertawa dengan keras sekali.


Bagi mata hati yang jeli mereka akan menangkap satu makna yang tersirat. Olivia mencoba menutupi sesuatu.