The Class Meeting

The Class Meeting
Kata Hati



"Kllyyy...kamu di manaaa??"


Teriak Olivia.


Tiba-tiba dia kangen berat dengan adik laki-lakinya itu. Setelah mengalami kekecewaan yang teramat dalam pada malam ini.


Blekly muncul dari dalam kamarnya. Dengan celana piyama polos dan tshirt polos juga.


"Aduuhh gantengnya adikku sayaanngg."


Olivia memeluknya dan mengecup.kedua pipi Blekly.


Blekly terdiam. Sudah beberapa kali Olivia melakukan hal itu. Dia terbiasa menjadi sebagai adik Olivia.


Abigail terliihat keluar dari pintu garasi bagian dalam.


Melihat Olivia memeluk Marcel dan menciuminya. Tidak ada getaran lagi di hatinya. Tidak lagi mencuri-curi waktu untuk sekedar mengumumkan bahwa dia cemburu melihat wanita lain mencium dan memeluknya.


Marcel memandang Marcya dari jauh. Hanya mampu membaca sorot mata Marcya dari jauh.


Kamu pasti tidak cemburu lagi kan? Aku yakin itu. Kesibukanmu mampu menghapus rasa cintamu. Luar biasa. Aku ingin marah. Sumpah! Aku ingin marah sekali.


Marcel kembali ke dalam kamarnya. Takut amarahnya akan meledak saat itu juga. Dan itu sangatlah tidak lucu.


"Wooyyy mau kemanaaa... Kakak bawakan spaghetti kesukaanmu!"


"Aku makan nanti saja. Tadi barusan makan."


"Sama apa?"


"Burger online."


"Ya sudah."


Olivia berjalan ke arah kamarnya.


Marcya yang tadi sempat mematung di tempatnya, beranjak pula menuju kamar.


Marcel terlihat marah sekali. Untung Olivia tidak melihatnya.


Sebenarnya waktu di dalam perjalanan tadi Marcya sudah berniat ingin menemui Marcel. Beritikad baik untuk menjalin hubungan kembali. Melihat kesedihan Olivia di depan matanya membuatnya berpikir apa mungkin seperti itu juga kesedihan Marcel yang tak terungkap.


Tapi melihat Marcel yang sudah bad mood duluan, Marcya tidak jadi menemuinya.


Di dalam kamarnya Marcya langsung tertidur pulas. Memang tidak nampak kalau dia punya masalah serius.


Dengan di temani alunan musik country.


Akhirnya dia bangkit menyambar sweater wol tebal dan melangkah ke garasi.


Berpapasan dengan Olivia di ruang makan.


"Mau kemanaaa??"


Tanya Olivia.


"Mau keluar cari angin."


Sambil menyambar kunci mobil.


"Di bawa spagettinya."


Olivia meraih bungkusan spagetti dan memaksa Blekly untuk membawanya.


"Apaan sih kak?!"


Seru Blekly sambil menyembunyikan tangannya ke belakang.


Olivia tetap memaksa Blekly. Menggenggamkan tali tas pada telapak tangannya.


"Keburu basi naantiii."


Teriak Olivia.


Akhirnya Blekly mengalah. Karena takdir pria memang di haruskan mengalah pada wanita.


+++


Marcel berjalan mendekati pantai. Tidak jauh-jauh dari mobil yang di parkir di belakangnya.


Hanya mendengar debur ombak dan lautan yang tidak nampak jelas di tengah malam ini. Namun anginnya mampu mendinginkan suasana hati Marcel yang sedang tidak baik.


Sambil menghisap sebatang rokok dia merenung. Kembali mempertanyakan. Sampai kapan ini berakhir. Petualangan yang sungguh mengerdilkan jiwanya. Menghadapi realita Marcya yang tak kunjung memahami perasaannya.


Seakan hatinya sudah membatu dengan duniawi. Tak ada celah lagi baginya untuk sekedar memberinya kehangatan. Dan memudarkan kekerasan hati Marcya.


Atau aku yang terlalu egois? Hanya memikirkan perasaanku saja. Haruskah aku memaklumi kesibukannya? Seperti itukah arti cinta dalam pengertiannya.


Ikut berbahagia ketika pasangannya bahagia.


Tidak ingin menjadi munafik Kenyataannya aku tidak bahagia sama sekali.


Ketidak pastian yang membelenggu segalanya. Inginku mempertegas hubungan ini. Tapi Marcel masih bimbang.