The Class Meeting

The Class Meeting
Maarrrccceeeellll



Marcel masih tiduran di kursi malas ketika untuk ke dua kalinya Marcya kembali menengok ke dalam taman. Olivia menyuruh Marcya untuk memanggil Marcel ke ruang makan.


Ada beberapa macam menu masakan yang sudah di siapkan oleh Olivia.


Khusus di sediakan buat adiknya yang akhir-akhir ini tampak sedih.


"Cel.. bangun. Di cari Olivia tuh."


Akhirnya Marcya membangunkan Marcel dengan menggoyang-goyangkan tubuh Marcel.


Lelaki yang akhir-akhir ini terlihat menjauh darinya, menggeliat lalu membalikan badan ke arah Marcya.


Muka mereka hampir bersentuhan bila Marcya tidak cepat-cepat menariknya.


Mengalihkan perhatian ke arah lain. Menghindari kontak mata yang tidak dia inginkan. Ada sebalur rasa yang masih tertinggal tapi Marcel tak mau Marcya mengetahuinya.


Bukan karena sebuah nama tentang gengsi atau jaim. Sudah bukan jamannya lagi memelihara ego. Marcel ingin perempuan yang di kasihinya itu punya inisiatif sendiri.


Agar hasil akhirnya tidak menambah luka di hatinya.


Jika apa yang aku rasakan adalah luka tapi dia tidak menganggapnya sama... apakah harus memaksakan narasiku sendiri. Membacakan sesuatu pada mata dan telinga yang tertutup. Hanya menambah sesak di dada.


Marcya buru-buru kembali ke meja makan. Sampai dia tidak menangkap sudut mata Marcel yang tergenang air.


Luar biasa ... satu karir bisa menghancurkan sensitifitas seseorang. Hatinya berdegup kencang hingga menyebabkan energy di dalam tubuh seolah terhisap sampai lemas.


Tidak lagi bertenaga. Bahkan untuk meneruskan sisa kepedihannya.


Beranjak dari kursi malas. Setidaknya dia harus menghormati Olivia sebagai kakak tertua. Bila Ia memanggil Mascel biasanya ada sesuatu istimewa yang akan di berikan kepadanya.


Sampai di meja makan..


"Kly... Kakak bawakan beberapa masakan khas dari beberapa negara. Makaniah.."


"Wah banyak sekali. Lagi banyak uang ya?"


"Iyaa.. Kakak dapat orderan baju pesta banyak."


"Hmm.."


Membahasakan diri dengan nama panggilan, kadang dengan panggilan kakak... membuat Marcel merasa semakin dekat dengannya. Apalagi tatkala hatinya sepi begini.


Marcel mengambil tempat duduk di sisi Olivia. Menarik kursi dan menjumput sepotong sushi dengan isian udang.


Ternyata Marcya masih bisa merasakan perbedaan juga. Berarti dugaanku tadi salah.


Kata hati Marcel.


Tanpa menoleh ke arah Marcya dari sudut matanya dia bisa melihat Marcya yang sedang menatapnya dengan jelas sekali.


Marcya gemes melihatnya.


Cool sekali dia. Padahal dari ekor matanya terlihat dia sempat melirikku. Walaupun cuman sedetik. 


"Ceelll!!"


Saking penasaran Marcya berteriak memanggil lelaki terdekatnya.


Olivia tersentak melihatnya.


"Kenapa teriak-teriak sih?"


Tanyanya.


Marcya gelagapan karena ulahnya sendiri. Benar juga jarak dekat kenapa musti teriak-teriak.


Karena tidak ada alasan yang masuk akal Marcya hanya terdiam.


Sementara lelaki yang tiba-tiba tampak cool di hadapan kekasihnya asik menikmati makanan di meja.


Olivia tidak membahas teriakan Abigail lagi.


Dia pergi ke kamarnya. Kebetulan ada terbitan novel baru yang dua jam lalu di belinya saat pulang kantor.


"Ceellll... Ada novel baru nih kalau mau membaca."


Olivia berteriak dari dalam kamar.


"Iyaaa..nanti aku ambil."


Jawab Blekly.


Olivia berbaring di kasur. Membuka segel plastik di buku. Halaman demi halaman di bacanya. Tak terasa matanya jadi berat sekali. Rasa kantuk menyerangnya. Dia tertidur dengan novel berada di atas dadanya.


Setelah makan dan bersantai sejenak di ruang makan, Marcel berjalan ke kamar Olivia.