
Dua bulan berlalu. Marcya dan Olivia semakin disibukkan dengan bisnis fashionnya. Beberapa kali menggelar acara fashion show di beberapa kota. Seperti Istana Pitti atau Palazzo Borromero.
Marcel disibukkan dengan hobi petualangannya sambil memperdalam fotografinya. Sejumlah destinasi wisata telah ia kunjungi.
Beberapa foto yang diambilnya sudah terjual. Sama seperti pria yang ditemuinya di pantai saat pertama kali Marcel dan Marcya bertemu Olivia.
Penghasilannya pun tidak banyak namun cukup untuk menambah aktivitas sehari-hari.
Marcya memiliki kesibukan yang membuat mereka tak lagi sedekat dulu. Kebersamaan pun berkurang.
Hubungan mereka benar-benar seperti kakak beradik yang tinggal serumah dengan aktivitasnya masing-masing. Tidak jauh, tidak dekat.
Marcel sedang berada di Scala Dei Turchi. Pantai ini terkenal dengan bukit-bukit berbatu seperti tangga.
Ada wisatawan yang meminta untuk mengabadikan momennya.
Marcel mengambil beberapa foto mereka.
Kamera Canon EOS 1DX BODY yang beresolusi tinggi ini sungguh keren dalam menghasilkan gambar yang bagus dan hidup.
Kameranya dibandrol 74 jutaan untuk menghasilkan gambar yang memuaskan. Foto laris manis. Meski Marcel bukan fotografer senior, namun hasil jepretannya hampir sama.
“Pak, tolong ambil foto balita saya?”
Ucap seorang ibu sambil menunjuk anak kecil yang sedang bermain di pantai.
"Iya bu."
Marcel segera mengarahkan kameranya ke arah anak kecil itu. Dia sedang bermain-main dengan air laut . Viewnya terlihat sangat natural.
"Ini fotonya."
"Oh iya."
Sang ibu menerima foto anaknya.
“Hmm, indah sekali fotonya ya, Pak?”
"Iya bu."
“Ini uangnya, Tuan.”
"Terima kasih."
"Terima kasih kembali."
Wanita itu pergi menemui anaknya. Lalu membawanya pulang.
Hari sudah sore, Marcel pun hendak pulang.
Marcya sudah sampai rumah belum ya?
Marcel berbisik dalam hatinya.
Lama tidak berdekatan membuatnya merindukannya.
Saat Marcel sampai di rumah, biasanya Marcya belum datang.
Menunggunya pulang sampai Marcel tertidur.
Setelah Marcya pulang dia tidak tega membangunkannya.
Akhirnya Marcya tertidur di kamarnya.
Pagi harinya Marcya harus berangkat. Karena dia harus mengejar target bersama Olivia.
Dan Marcel masih tidur di sofa.
Alhasil mereka tidak pernah bertemu.
Saat akhir pekan jadwal seminar sudah menumpuk. Marcya dan Olivia sudah siap sejak pagi.
Sementara rencana Marcel untuk bangun pagi gagal total. Di tengah malam dia terbangun dan tidak bisa tidur lagi.
Setelah jam 4 pagi... baru bisa tidur. Dan terbangun di siang hari.
Sehingga mereka berdua kesulitan untuk saling bertemu. Bahkan di hari Minggu pagipun. Saat biasanya banyak keluarga yang berkumpul.
Mengadakan acara bersama atau sekedar bermalas-malasan di rumah.
Aura hari Minggu cenderung lebih malas. Membawa tubuh untuk berbaring terus menerus. Mata ingin menutup secepat mungkin. Cahaya yang terpancar dari layar tv membuat mata pedas dan perih.
Marcel kembali tidur. Terbang di alam mimpi. Dimana tidak ada yang bisa mengganggunya.
Televisi sibuk menayangkan berita dan film. Marcel tidak sempat mematikannya.
Rumah sebesar itu hanya terdengar suara televisi saja. Dengan dengkuran Marcel yang mengiringi.
Bagaikan biola dengan basnya. Merangkai alunan nada nan merdu. Kontras sekali di hari minggu ini.
Hingga dering dari telfon kabel tidak terdengar di kuping Marcel. Terus terusan berdering. Mungkin dari Marcya.
Marcel hanya menggeliat di sofanya.
POV.
Marcya adalah salah satu siswa favorit di sekolah. Saat itu Marcya dan Marcel bersekolah di sekolah yang mengharuskan siswanya tinggal di asrama.
Seperti biasa mereka punya geng sendiri-sendiri. Salah satunya adalah geng Marcya yang dijuluki geng Cantik. Pasalnya, anggotanya adalah tiga orang gadis yang cantik dan dikenal pandai. Prestasi mereka di atas rata-rata.
Dan sudah lumrah jika satu geng mempunyai geng lain yang menjadi lawannya. Namanya adalah geng Biasa. Kedua geng ini bersaing dalam berbagai hal. Kecuali mengenai prestasi dalam mata pelajaran sekolah.
Siswa yang pandai-pandai di jadikan satu kelas. Sehingga menimbulkan kecemburuan sosial setiap harinya.
Ada pro dan kontra terhadap perbedaan kelas ini. Terutama dari pihak wali dan orang tua murid. Dimana di setiap lingkungan terdapat 2 grup yang berlawanan, di tempat ini terdapat 3 kelompok. Satu kelompok itu adalah kelompok yang tidak mau ambil pusing.
Mereka tak ingin mencampuri urusan kedua kelompok tersebut. 2 geng memiliki pendukungnya masing-masing. Mereka mati-matian membela kelompoknya. Siswa yang datang terlambatpun ikut ikutan bertarung. Meski tak tahu ujung pangkalnya.
Marcya adalah pemimpin geng saat itu. Sebenarnya dia adalah orang yang tidak menyukai konflik. Namun demi solidaritas, dia akhirnya mengikuti kompetisi yang tiada akhir itu.
Kalau kita artikan secara riil, persaingan yang sebenarnya bukanlah konflik. Persaingan atau kompetisi dalam meraih prestasi bisa dikatakan merupakan hal yang lumrah. Penuh sportifitas. Score yang paling banyak yang menang. Menang ya menang. Tidak bisa di ganggu gugat.
Lain lagi dengan perselisihan yang sudah pasti akan meninggalkan 2 perasaan. Jika tidak marah ya ingin balas dendam. Atau menerima dengan lapang dada. Menangpun bisa di sulap jadi kekalahan.
Kejadian membingungkan yang sering terjadi pada masa sekolah, tidak terselesaikan hingga seorang guru mendatangi mereka dan menegur seluruh siswa tanpa terkecuali.
Guru tidak mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah.
Yang bisa dilakukan guru adalah menghentikan mereka dan menyuruh mereka kembali ke kelas masing-masing.
Di sekolah itu ada dua orang siswa yang sangat usil. Mereka suka memicu geng satu sama lain. Mengingatkan mereka akan kekalahannya agar terpancing emosinya karena menganggap persaingan tidak adil.
Walaupun sebenarnya tidak ada persaingan yang tidak adil. Yang ada hanya persaingan secara positif dan negatif.
Akhirnya kedua geng kembali bentrok. Saat itu kelas ada jam kosong. Karena para guru sedang mengadakan seminar penting tentang kurikulum sekolah di yayasan pusat.
Seketika persaingan kedua kelas menjadi heboh. Mereka keluar dan bertarung di lapangan. Anak laki-laki saling memukul. Gadis-gadis saling berdebat.
Sangat memprihatikan bagi para murid yang menonton. Siswa siswi yang berhati lembut. Mereka menyayangkan konflik kedua geng tersebut.
Tim yang tidak mau terlibat akhirnya menangis juga.
Sedih rasanya melihat mereka selalu bertengkar setiap kelas ada jam kosong..
Sementara itu, kedua anak nakal itu tertawa kegirangan.
Sayangnya kedua anak ini tidak terlihat. Mereka berdua bersembunyi di ruang kelas.
Pertarungan akan selesai ketika para guru telah tiba dari seminar.
Marcel terbangun dari tidurnya. Sedikit cerita dari masa SMA muncul dalam mimpinya.
Kenapa aku tiba-tiba bermimpi tentang masa sekolahku dan Marcya?
pikir Marcel.
Saat itu Marcel berada di tim yang tidak mau ikut campur.
Ah, mungkin itu hanya bunga mimpi.
Marcel berbisik dalam hatinya.
Marcel mengambil air dari wastafel. Mencuci wajahnya beberapa kali. Rasa kantuknya langsung hilang.
Dia meminum seteguk air dingin yang diambil dari lemari es. Sangat menyegarkan tenggorokannya yang kering setelah beberapa jam tidur.