The Class Meeting

The Class Meeting
Back Street



Pukul 7 malam... Marcel dan kekasihnya pulang.


Marcel sudah memperkirakan kalau mereka berdua sampai di rumah, Olivia akan memarahi mereka habis-habisan.


Marcel sudah siap untuk semua itu.


+++


Sesampainya di rumah, Olivia sudah menunggu di teras depan. Melihat mobil Blekly muncul, dia langsung berdiri dari tempat duduknya dan mengacak tangan di pinggang.


Keluar dari mobil, Marcya mendorong tubuh Marcel ke arah Olivia. Dia juga tahu Olivia akan marah. Karena Abigail adalah orang terpenting dalam bisnis fashion Olivia.


Tak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut Olivia. Dia menunggu klarifikasi dari Blekly.


"Maaf Olivia.."


Hanya itu kata-kata Marcel.


Olivia mengerutkan alisnya. Menunggu alasan dari Marcel.


Marcel juga tidak menjelaskan alasannya. Dan juga tidak mungkin untuk mengatakan yang sebenarnya.


Karena Marcel terus diam sambil berdiri di hadapannya dan menatap dalam-dalam, Olivia merasa sungkan. Pada akhirnya dia tidak menuntut satu alasan pun dari Marcel.


Olivia masuk ke dalam rumah diikuti Marcel dan Marcya. Atau Abigail dan Blekly.


Jantung Marcya berdebar kencang. Tidak masuk akal jika dua kakak beradik nongkrong seharian. Sementara proyek bisnis keluarga menunggu untuk segera diselesaikan.


Olivia sering menyebutnya sebagai bisnis keluarga. Dan Blekly sudah sering dimintai bantuan untuk mengambil bagian di perusahaannya. Namun dia selalu menolaknya.


+++


Marcel menemukan kamera fotografer di kamar Blekly. Kebetulan dia juga menyukai fotografi sebagai hobinya yang dulu sempat berhenti.


Persamaan karakter yang nyaris identik dengan Abigail inilah yang membuat Marcya betah berada di sini.


Merasa dihargai dan diterima dengan segala kelebihan dan kekurangannya.


Tidak semua orang bisa mengapresiasi karya seni kita. Dan sebagai seniman mereka lebih suka mengalir seperti air.


Menbuat iklan untuk bisnis mereka sudah di lakukan. Namun tidak terlalu intensif.


Mereka lebih mementingkan kualitas dibandingkan periklanan yang pastinya membutuhkan banyak biaya.


Iklan yang paling sering mereka lakukan adalah menyebarkan brosur dari pintu ke pintu. Lebih hemat. Tidak memerlukan biaya yang mahal. Dan langsung mengenai sasarannya.


Sebab sasarannya adalah ibu-ibu rumah tangga dan remaja putri.


Setiap remaja putri selalu memiliki ponsel, namun tidak semua ibu rumah tangga memilikinya.


Penyebaran informasi di lakukan secara merata dan mencakup seluruh wilayah dan pelosok kota.


"Aku ingin tidur ?"


Marcya berpamitan pada Marcel yang masih duduk di ruang tamu.


Sementara itu, Olivia sudah menuju kamar tidurnya dan tertidur lelap karena lelah.


"Tidur di sini."


Marcel menarik tubuh Marcya hingga terjatuh ke pelukannya.


Marcya menjerit kecil karena terkejut. Lalu dengan cepat menarik tubuhnya dari pelukan Marcel.


Marcel berkata,


"Tidakkah kamu merasa kita seperti kencan back street yang sering terjadi pada anak-anak sekolah."


Marcya tertawa sambil menutup mulutnya. Dia takut Olivia akan terbangun dengan cekikikannya.


Melihat ekspresi wajah Marcel yang datar, Marcya terdiam.


Sepertinya Marcel serius. Dia tidak menyukai kesibukanku yang membuat hubungan mereka berdua menjadi renggang.


Apa yang salah dengan wanita karir? Ada banyak perempuan yang bekerja sebagai karyawan di luar sana. Pagi berangkat, sore pulang.


Marcya tak habis pikir dengan kemarahan Marcel. Bukankah dia suka wanita yang menyukai talenta tersendiri. Seperti saat memandang Olivia yang sedang bermain gitar dengan mata yang tak berkedip.


Kenapa dia mendadak marah dengan kesibukkanku?


Begitu cara laki-laki marah. Hanya sepatah dua patah kata untuk mengekspresikan kemarahannya. Sehingga masih ada ganjalan di hatinya.


Paling beruntung adalah jomblo. Mau marah kek mau sedih kek atau senang sekalipun.


IDGAF.


Wanita Italia sangat bangga dengan profesi sebagai wanita karir ini. Dimana dia merasa diakui keberadaannya dan tidak dianggap remeh. Dikenal sebagai wanita mandiri secara finansial merupakan sebuah kebanggaan tersendiri.


Wanita Italia berdiri tegar tanpa bantuan pasangannya.


Mereka sangat percaya diri. Dan dibiasakan untuk diajari secara mandiri dan tidak manja.


"Tidurlah."


kata Marcel.


Marcya segera menuju kamarnya dan langsung tidur karena lelah.


Seperti seorang murid setelah di beri hukuman oleh gurunya.


Yang sebenarnya diinginkan Marcel adalah Marcya tidur di pangkuannya seperti kemarin di kehidupan mereka sebelumnya.


Harapan yang tidak mungkin terwujud di peradaban ini.


Batin Marcel lirih.


Marcel hanya duduk di depan televisi. Menyaksikan banyak film yang ditawarkan dari berbagai saluran televisi. Ada aksi, drama, komedi atau dokumenter.


Marcel menekan tombol saluran secara acak.


Ia tidak lagi antusias mengikuti jalan cerita yang ditampilkan.


Sekadar mengisi waktu malam. Gara-gara insomnia akibat terlalu memikirkan Marcya.


Yang jelas suatu saat Marcya pasti akan mencariku saat dia bosan.


Dan yang lebih pasti dia akan meninggalkan atau mengurangi jadwal sibuknya.


Dan pada hari itu Marcya akan menempatkanku sebagai prioritas utamanya.


Sambil tertidur, Marcel masih memikirkan Marcya. Tak menyangka status hubungan saudara bisa mengganggu hubungannya dengan Marcya.


Menantinya adalah wujud cinta yang terdalam. Sedalam kepeduliannya terhadap kerenggangan hubungan mereka.


Marcel tertidur di sofa dengan pikiran yang masih melayang-layang di otaknya.


+++


"Halo selamat pagi."


Marcya muncul di hadapan Marcel yang masih menahan kantuknya.


"Hmmm.."


"Mau tidur lagi?"


Marcya membetulkan selimut yang dipakai Marcel. Menarik sampai di dadanya.


Marcel membuka matanya sejenak lalu menutup matanya kembali.


Marcya mencium keningnya dengan lembut.


Dia mengerti bahwa Marcel masih marah padanya.


"Hei...Abigail, ayo pergi. Kenapa kamu terus melihat Blekly? Dia tidak akan berubah menjadi Batman, karakter masa kecil favoritmu."


"Hahhahh.."


Marcya tertawa geli mendengar lelucon Olivia. Untung lagi... Olivia tidak curiga melihatku dengan Marcel yang hanya berjarak sejengkal saja.


Mereka berdua, Olivia dan Abigail pergi melakukan aktivitasnya.


Setumpuk desain busana menanti keduanya untuk segera direalisasikan.


Butik sudah sibuk dengan para pelanggan yang memilah milah baju untuk acara sepuluh hari yang berlangsung di bulan Juli. Stok baju otomatis berkurang banyak.


Ada pagelaran seni atau sering di sebut festival Jazz Umbria.


Festival yang membuat jiwa menari-nari dan tergila-gila mengikuti irama jazz.


Stok baju otomatis berkurang banyak.


Masyarakat Italia selalu memperingatinya secara rutin.


Mengejar dateline agar stok pakaian kembali seperti semula dalam jangka waktu lebih cepat.


Hanya seorang profesional yang dapat mewujudkannya.


Yang membuat tim bisa mencapai target secepat mungkin adalah kekompakan mereka dalam bekerja.


Setiap orang telah mendapat bagiannya. Karena sudah terbiasa dan sudah menjadi rutinitas sehari-hari, mereka bisa menyelesaikan targetnya lebih cepat dari jadwal.


Mereka bisa menyelesaikan 5 hingga 6 desain pakaian dalam sehari.


Baju yang dijual juga antara 5-6 potong.


Produktivitas yang patut diacungi jempol.


Sell out, sell in.