
Hingga semangatmu bangkit kembali setelah beberapa tahun berlalu. Sahabat terbaik dan terpilih dengan tulus ikhlas membuatmu berdiri kembali. Menjadi dirimu sendiri. Perlahan tapi pasti kamu telah menjadi seperti sekarang ini. Sukses dan banyak yang mencintai. Kamu tidak akan di tinggalkan lagi. Mereka akan lebih memilih kamu dari pada lainnya. Begitulah takdir pria sukses.
"Pulang yuk."
Ajak Kemed.
Ahmed segera bangkit dari duduknya.
Dasar cowok cuek. Langsung berdiri saja di ajak pulang. Dan semakin memperlihatkan bahwa tidak menikmati pertemuan ini.
Kemed dan Ahmed hendak beranjak keluar ketika Olivia berseru,
"Ntar malam jangan lupa ambil jas kamu ya?"
"Okee.. Di rumah kan?"
"Iyaa."
"Sip.. See you all my beautiful ladies."
Kemed berpamitan sambil ber-kiss bye ria.
Di ikuti oleh Ahmed yang hanya menganggukan kepalanya pada kedua wanita itu.
Mereka berempat pergi meninggalkan cafe.
Di dalam mobil Olivia terlihat murung. Abigail menyetir sambil beberapa kali melirik ke arahnya.
Ada apa dengan Olivia. Apa dia benar-benar patah hati? Padahal hampir setiap hari banyak pria yang mengiriminya bunga di butik. Dengan bermacam-macam kata-kata romantis. Dan mengajaknya berkencan. Tapi semua di tolaknya. Dalamnya hati seorang wanita tak bisa dijangkau ketika sudah terpaut pada seseorang.
Abigail menyulut sebatang rokok. Rokok milik Blekly yang ketinggalan di mobil. Lalu di serahkan rokok itu pada Olivia.
Olivia mengambil rokok tersebut dan menghisapnya. Mukanya terlihat agak tenang sekarang. Walaupun pikirannya pasti masih kacau.
"Tidak mau cerita nih?"
Tanya Abigail.
Dia tak tahan melihat muka Olivia.
Olivia terseyum kecut.
"Memang bukan keberuntunganku."
"Masih ada waktu yang lain."
"Hahahh... Memang apa yang kau tahu?"
Olivia diam. Dengan kejadian tadi, Abigail pasti sudah tahu perasaanku yang sebenarnya. Menjawab semua pertanyaannya ketika hari itu aku menolak lamaran pelanggan butik yang tajir dan terpandang di kota ini. Berkali-kali dia mendesakku dengan banyak pertanyaan.
POV.
"Apa lagi yang kurang? Aku menunggumu untuk berbahagia."
Kata Abigail pada saat itu.
Harapan seseorang yang telah dekat. Secara tidak sengaja sudah mewujudkan impiannya. Walaupun Marcya bukan Abigail yang seutuhnya.
Olivia masih terdiam. Menghabiskan rokok sambil memegangi kepalanya yang mendadak pusing.
Marcya teringat dengan Marcel. Hubungannya sendiri masih kacau. Semakin lama semakin terasa menjauh. Hampir tidak ada lagi komunikasi di antara mereka berdua. Tenggelam dalam dunia masing-masing.
Bisa di pastikan akan lepas dengan sendirinya. Jika hal ini mengendap terlalu lama.
Ketika Marcya berusaha memperbaiki Marcel malah terpancing emosinya. Dan usaha Marcya jadi gagal.
Ketika Marcel berusaha mendekat, Marcya ada deadline yang harus segera di selesaikan. Maksud sebenarnya bukan mau menolak usaha Marcel. Tapi memang dia harus profesional dalam bisnisnya.
Dan seolah.. waktu memang tidak merestui hubungan mereka.
Dilema antara kembali bersama atau tetap di masa kini masih mengganjal di benaknya. Sementara Marcya tahu, Marcel sedang menunggunya. Menunggu keputusannya untuk segera kembali bersama.
"Hey! Kenapa gantian kamu yang bengong?"
Seru Olivia.
"Heheh..."
Hanya itu jawaban Abigail.
Mana mungkin aku cerita sama kamu? Kamu pasti menganggapku gila.
Abigail menghentikan mobil tepat di hadapan rumah mereka.
"Biar Blekly saja yang memasukkan ke garasi."
Ujar Olivia sambil siap-siap mau turun.
"Kalau dia sudah tidur bagaimana?"
"Ya sudah. Aku bukakan dulu pagarnya."