
"Sayang, apakah kamu bersenang-senang di sini?"
Marcel bertanya pada kekasihnya.
"Tebak?"
“Bertemu teman baru juga bisa memperbarui semangatmu.”
"Heheh...bisa melupakan masalah kita untuk sementara waktu?"
"Ya begitulah."
"Atau mencoba mengalihkan perhatian dari kenyataan bahwa kita sudah menyerah?"
“Setidaknya kita sudah berusaha. Meski hasilnya tidak sesuai ekspektasi.”
“Upaya apa lagi yang bisa lebih dari ini?”
Marcel menatap mata Marcya yang penuh kesedihan. Bagaimana bisa mengabaikannya? Sementara mereka sadar bahwa mereka masih mempunyai keluarga.
Walaupun pihak keluarga tidak menyadari bahwa putra dan putrinya telah menghilang.
Anak-anak tetaplah anak-anak. Sejauh apapun mereka bepergian, suatu saat mereka akan merindukan orang tuanya.
Tempat bagi mereka untuk memanjakan diri dan tetap nyaman serta aman ketika rintangan kehidupan menghadang.
Ikatan darah memang bisa dipisahkan namun tetap tidak bisa diputuskan.
Tanggung jawab yang akan dipertanyakan pada saatnya nanti. Dimana kita tidak bisa menghindar atau mencari pembelaan.
Dimana semuanya sudah berkumpul menjadi satu, namun tak ada kekuatan untuk saling melengkapi.
Hanya penyesalan. Dan penyesalan itu sia-sia. Tidak ada jalan untuk kembali.
Ketika semuanya telah terungkap, manusia terkuat pun tidak akan mampu menolak kehadirannya.
Nirwana menyebarkan awan
Kelembutannya tidak bisa dirasakan
Terkadang hujan menghanyutkannya
Hingga menjadi satu warna
Keagungan yang tak terelakkan
Kebesaran yang tidak dapat disangkal
Sebagai pengingat rasa
Diantara ada dan tiada
"Hei kalian...kenapa wajah kalian sedih sekali?"
Olivia datang dari pasar sambil membawa beberapa tas belanjaan.
"Heheh, benarkah?"
Marcya dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya.
Melihat Marcya kembali ceria, Olivia tidak membahasnya lebih jauh.
Meski berstatus sebagai kakak perempuan, Olivia tak berhak mempertanyakan suasana hati sang adik terlalu dalam. Sebelum Abigail membahasnya terlebih dahulu.
Rasa hormat masih berada pada level tertinggi di Italia.
Uniknya, ungkapan kata-kata kasar tersebut tidak dimaknai sebagai pengurangan rasa hormat terhadap orang lain.
Misalnya,
Cazzo dalam bahasa inggris artinya **** atau bedebah.
Satu kata yang menjelaskan,
Ketika niat Anda adalah untuk menunjukkan keterkejutan, kemarahan, kekecewaan dan dalam beberapa kasus.
Marcel kembali menatap Marcya dalam-dalam.
Setidaknya kita masih bisa keliling dunia bersama.
Marcel berbisik pada dirinya sendiri.
Membahagiakan diri sendiri menurut versi kita sendiri adalah self love.
Hanya diri kita yang bisa merasakan apakah kita bahagia atau tidak.
Banyak sampul untuk menutupi buku. Namun hanya buku itu sendiri yang memahami isinya. Dimana penulis menjelaskan keseluruhan cerita.
Menjadi bahagia adalah sebuah keputusan. Orang lain hanya membantu menjelaskan arti kebahagiaan sebenarnya.
"Abigail, aku membeli bahan untuk adonan roti. Apakah kamu ingin membuatnya?"
kata Olivia.
"Roti apa?"
"Ada macam-macam...ada black forest, spongecake, brownies, dll. Biasanya kamu suka spongecake."
Marcya setuju. Padahal sebenarnya ia lebih menyukai cup cake berukuran mungil yang bisa dihias dengan berbagai macam topping.
Marcya dan Olivia sedang sibuk di dapur. Dari cara Olivia mengolahnya terlihat bahwa ia termasuk orang yang menyukai kebersihan. Setiap butiran gandum yang tumpah selalu dibersihkan segera.
Spongecake sudah jadi. Marcya menghiasinya dengan toping parutan keju yang tebal seperti black forest. Tak lupa menambahkan irisan buah cherry.
Dua macam toping itu saja sudah membuat spongecake bertambah kelezatannya. Teksturnya yang lembut tidak membuat tenggorokan menjadi seret.
"Oliv.. Kamu pandai sekali membuat kue?"
"Yee.. Kan sudah dari dulu. Gimana sih?"
Ups..
Marcya langsung membekap mulutnya.
+++
Sepasang kekasih itu sudah tinggal di rumah Olivia selama sebulan. Marcya sepertinya menikmatinya. Seolah lupa kalau ini bukan dunianya.
Kesibukan Olivia di dunia fashion melibatkan Marcya di dalamnya. Dan membawanya terhanyut dalam menjajal dan mengeksplorasi passionnya dalam mendesain pakaian.
Suatu kebetulan yang sempurna. Selama ini Marcya hanya mendampingi Marcel yang hobi berpetualang. Sampai dia melupakan kesenangannya sendiri.
Real Abigail ternyata adalah asisten Olivia di bisnis fashion. Padahal hubungan mereka adalah saudara kandung.
Hasil desain Marcya direalisasikan oleh Olivia. Beragam model gaun baik untuk pesta maupun gaun rumahan dipajang di butik Olivia.
Beberapa sudah terjual. Terutama gaun rumah.
Sebab frekuensi pemakaiannya lebih sering dibandingkan gaun pesta.
Olivia mendapat banyak keuntungan. Selain mempunyai langganan toko kain murah, ia juga tidak perlu membayar sewa toko.
Butiknya menjadi favorit anak-anak sekolah. Karena selain harganya yang murah, Butiq Olivia juga sering mengadakan give away dan diskon besar-besaran.
Bukan sekedar diskon untuk baju stok lama. Bahkan baju model baru pada waktu-waktu tertentu ada juga program diskonnya.
Misalnya khusus hari Sabtu, model baru mendapat diskon 40%. Selama dua hari Sabtu dan Minggu. Setelah hari Senin harga kembali normal.
Program discount ini sangat populer di kalangan pelajar sekolah dan perguruan tinggi. Dimana kantong mereka pas-pasan, namun tuntutan gaya hidup sangat tinggi.
Sudah menjadi rahasia umum tentang hukum perdagangan fashion. Keuntungannya 100% dari modal. Dengan pengurangan 40% untuk program discount, tidak akan membuat butik Olivia bangkrut.
Saat pertama kali bertemu, Olivia sedang beristirahat dari bisnis fashionnya.. Rehat sejenak beberapa hari. Sementara butik dipegang oleh orang kepercayaannya yang lain.
Gaun merk Abigail sudah menjadi populer di kalangan remaja dan ibu rumah tangga.
Desain Abigail tak jauh berbeda dengan Marcya. Ciri khas desain Abigail tertulis di setiap kancing atau resletingnya.
Sore harinya Olivia dan Marcya jalan-jalan di street food dekat rumah.
Saat mereka berjalan mereka bertemu dengan seorang remaja yang mengenakan gaun dari butik Olivia.
Kemeja itu merupakan desain Marcya seminggu yang lalu.
Tampak cantik dengan tubuh langsing dan berkulit putih. Renda di bagian bawah, menjuntai hingga mata kaki. Gaun tanpa lengan membuat gadis dengan rambut ala Demi Moore itu tampil seksi.
Hhmm...ternyata hasil desainku menarik juga. Lebih cantik di pakai di tubuh orang lain.
Pasalnya, kulit Marcya tidak semulus gadis yang mengurai rambutnya. Dan badannya tidak seramping gadis yang bermata biru itu.
Marcya takjub melihat hasil karyanya.
"Kenapa kamu terus memandangi gadis itu? Kamu bangga? Itu pekerjaanmu kan?"
Olivia bertanya.
Marcia terkekeh. Mendengar gurauan Olivia.
“Ternyata aku juga berbakat jadi desainer ya?”
Marcya berbisik pelan.
Tapi Olivia mendengarnya.
"Apa?!"
"Heheh.. tidak apa-apa."
Marcya menjawab dengan wajah konyolnya.
Berkali-kali untung. Olivia bukanlah type yang suka penasaran. Dia terlalu cuek. Sibuk dengan pikirannya sendiri. Apalagi kalau mengenai suatu hal yang menarik dan di sukainya. Olivia akan menjelma menjadi makhluk yang tidak perduli akan sekitarnya.
Berkutat dengan kesibukannya dari pagi hingga malam.
+++
Marcya dan Olivia pulang.
Malam telah tiba. Pejalan kaki sudah mulai berkurang. Street foods mulai sepi.
Pulang ke rumah dengan membawa dua bungkusan tapas dan curros kesukaan Blekly.
Karena di kulkas masih ada spongecake.