
Menikmati sore hari di pelataran Pescara. Memandangi beberapa pasangan yang terlihat sedang di landa jatuh cinta. Saling berpelukan atau bergandengan tangan mesra sekali.
Membuat Pescara semakin romantis. Burung-burung seakan ikut berbahagia dengan kebahagiaan para pasangan itu.
Marcel duduk sendiri di bangku pinggir jalan. Tampaknya hanya dia yang tidak di singgahi dewa amor. Sang cupid yang menghujamkan anak panahnya ke dalam setiap hati manusia.
Menurut legenda yunani tentang asal muasal manusia di landa cinta.
Teringat kali pertama Marcel jatuh cinta dengan Marcya. Pertemuan tanpa di sengaja itu berlanjut dengan sendirinya.
Sama-sama menyukai kisah klasik dari pertunjukan theater yang selalu di adakan setiap tiga kali dalam seminggu di halaman tengah Sapienza University of Rome.
Gedung tinggi dan besar dengan banyak jendela yang tampak dari luar itu lebih terlihat seperti benteng kerajaan. Dengan patung goddes of wisdom berdiri gagah di depan gedung. Patung yang membawa tombak di tangan kanan dan tameng besi di tangan kiri.
Di depannya ada sebuah kolam yang tidak begitu besar. Berwarna jernih dan tidak terdapat pancuran sebagai mana umumnya sebuah kolam.
Duduk di pelataran sambil menikmati pagelaran seni sejarah-sejarah yunani kuno. Hampir sama dengan novel yang Marcel baca kemarin.
Saat itu kebetulan Marcel dan Marcya duduk berdekatan. Sambil menikmati seni drama tragedi yang terkenal di yunani. Dengan penulis naskah yang termasyur seperti Plato atau Scpocles.
POV.
"Halo? Cantik sekali scarf mu?"
Tanya Marcel sambil melihat scarf cantik yang di kenakan Marcya.
"Hey.. Terima kasih."
Marcya tersenyum mendengar pujian itu.
"Boleh tahu namamu?"
"Boleh. Kenalkan namaku Marcya."
"Namaku Marcel."
Keduanya saling berjabat tangan di tengah riuhnya pagelaran drama yang maaih berlangsung.
"Mahasiswa disini?"
Marcel melanjutkan obrolan.
"Iyaa...kamu?"
"Aku di University of Bologna."
"Iyaa.."
"Temanmu?"
"Suka sendirian sih."
"Hhmm.."
"Kamu juga sendirian."
"Heheh... Temanku nyasar duduk di sebelah sana."
Hari itu pas sabtu malam. Penikmat drama banyak yang datang di pelataran Sapienza.
Wajar saja kalau Marcya terpisah dengan teman-temannya.
"Ini aku punya tacos dua bungkus... Nih.."
Marcel menyerahkan satu bungkus tacos pada Marcya.
"Wah kebetulan sekali perutku sedang lapar."
Marcya langsung menerima bungkusan itu lalu menyantapnya.
Marcel memandanginya... Baru kali ini bertemu dengan gadis yang tanpa sungkan mengatakan bahwa dirinya sedang lapar.
Marcya mengunyah tacos sambil melihat kembali ke pagelaran.
Sedangkan Marcel masih sibuk memperhatikan anak rambut Marcya yang berkibar-kibar terkena angin.
Rambut panjangnya di kuncir kuda. Dengan ikat rambut yang terbuat dari tali gunung yang sering di pakai pendaki untuk tali temali saat pendakian.
Hey cewek cute... Aku juga suka tali gunung seperti yang kamu pakai di rambutmu itu. Hhmm sudah dua hal yang sama-sama kita sukai. Walaupun kamu sudah berhasil merebut konsentrasiku terhadap teater kesukaanku itu.
Marcel bercerita dengan hatinya. Karena Marcya sudah kembali larut dalam drama tragedi yunani kuno yang masih berlangsung di depan matanya.
Tak tega mengganggu kesenangannya di saturday night ini. Ketika hampir 70% penonton drama datang bersama pasangan masing-masing.
+++
Akhir-akhir ini Marcel seringkali menghela nafas. Terlebih saat ini. Mengingat pertemuannya dengan Marcya. Terbersit keinginan untuk segera pulang dan menemuinya.
Tapi kembali di urungkan niatnya itu.