The Class Meeting

The Class Meeting
Tarantella



Pagelaran seni tari kali ini di hadiri oleh hampir setengah mahasiswa dan mahasiswi kampus. Auditorium penuh sesak. Panitia dan promotor sibuk bersliweran kesana kemari.


Tarian tradisional bernama tarantella menjadi tarian pembuka pagelaran. Tarian yang biasanya dibawakan dengan memegang bendera Italy atau rebana ini mendapat tepukan tangan yang meriah.


Jiwa dan semangat cinta negara seketika berkobar mendengar musik pengiring tarian tarantella yang khas Italia sekali. Sepintas terlihat seperti gerakan senam aerobik. Di mana kaki dan tangan bersama-sama bergerak mengiringi musiknya.


Marcel sibuk mengambil foto. Begitu juga dengan Castela. Momen yang tak ingin di lewatkan begitu saja. Semangat para mahasiswa yang meletup-letup di wakilkan dengan gerakan mereka yang mengikuti tarian.


"Castelaaa... Aku kesana sebentar ya?"


Teriak Marcel dari kejauhan sambil menunjuk sisi sebelah depan kampus.


"Iyaa.."


Jawab Castela.


Marcela berjalan ke arah depan. Ada panggung yang sangat besar di hias dengan megahnya. Menggambarkan budaya Italy kuno yang terkenal dengan pilar-pilar besar dan tinggi sebagai background panggung.


Marcel hampir mendekati panggung ketika salah seorang mahasiswi menabrak dirinya. Dia sendiri yang menabrak dan terjatuh menubruk Marcel. Seorang mahasiswa yang berdiri di dekatnya terlihat marah. Mungkin itu pacarnya. Melihat pacarnya ingin marah dan gerak-geriknya mau memukul Marcel, wanita itu menarik lengan sang pria.


"Aku yang menabrak dia."


Kata wanita itu.


Marahnya menjadi surut seketika lalu menarik lengan perempuannya menjauh dari Marcel.


Ketidak sengajaan sampai membuat mukanya sangat serius seperti itu. Salah mengartikan, salah memahami, salah sasaran. Sesudah kejadian orang-orang lebih suka menjauh dan menghindar.


"Heeyy... Kamu kenapa?"


Zahra muncul tiba-tiba dengan menepuk punggungnya.


"Tidak kenapa-kenapa. Kamu sendirian?"


"Iya. Castela di sana dengan mahasiswi junior."


"Junior?"


"Iyaa. Mereka banyak bertanya padanya."


Marcel tersenyum lebar. Melihat wajah Zahra yang biasa saja tanpa ekspresi.


"Kalau banyak pertanyaan berarti mereka tidak tahu. Bukan berarti mereka masih junior."


"Yang di bahas itu masalah-masalah kampus. Kalau tidak junior apa dong?"


"Oo kirain masalah tarantella."


"Yaa kalau tarantella semua orang Italy juga tahu."


"Mungkin saja ada yang tidak tahu."


"Iya sih. Orang tidak tahu mau bagaimana lagi ya?"


"Iya. Kamu juga tidak tahu semua senior kamu. Ya kan?"


Zahra tergelak.


Benar kata Marcel. Tidak semua orang tahu tentang satu hal yang di pandang orang sudah umum.


Dua orang panitia menghampiri mereka dengan membawa sekerdus kotak makanan dan minuman botol. Memberikan 2 kotak untuk Marcel dan Zahra berikut 2 botol minuman.


"Thank you.."


Ucap Marcel dan Zahra bersamaan.


"U're welcome."


Jawab kedua mahasiswa.


"Aku makan dulu ya?"


Zahra membuka tutup kotak makanan.


"Okee."


Jawab Marcel.


Di lihatnya Zahra yang sedang makan nasi kotak dengan lahapnya. Sepertinya memang sudah lapar sekali. Ada juga mahasiswi yang tidak terlalu menjaga image seperti dia.


Melihat di sekitar mereka belum ada yang terlihat memakan nasi kotaknya.


"Ini.. Makanlah kalau kamu masih lapar."


Sergah Marcel melihat Zahra sudah menghabiskan nasi kotaknya.


Zahra memukul lengan Marcel dengan gemas.


Tiba-tiba ada kilatan cahaya mengenai mereka berdua. Keduanya menengok ke arah sumber sinar tersebut. Terlihat Castela baru saja memotret adegan mereka berdua. Marcel merebut camera polaroid di tangan Castela dan melihat hasil jepretannya.


Marcel dan Zahra nampak seperti 2 orang yang sedang berpacaran. Wajah mereka tampak berhadapan. Saling tatap layaknya pasangan kekasih.


Kamera bisa merubah makna satu gambar dengan mudah. Castela tertawa melihat wajah Marcel yang sedang melongo memandang fotonya dengan Zahra.


"Kamu jahil amat Tel!"


Sentak Marcel.


Castela terpana melihat kekesalan di wajah Marcel. Tidak menyangka akan sekesal itu. Padahal simple saja. Jika dia tidak suka foto itu bisa langsung di sobek atau di bakar.


Marcel berlalu dari hadapannya tanpa pamit. Melihat kemarahannya Castela langsung mengejarnya. Dan berusaha menahannya untuk tidak pergi.


"Mau kemanaa Ceelll??"


Marcel diam saja. Dia terus melangkah menjauh.


Melihat Marcel tidak memperhatikannya Castela berhenti mengejar.


Menatap punggungnya yang berjalan ke bagian lain auditorum.


Zahra mendekati Castela,


"Makanya jadi orang jangan terlalu iseng. Tidak semua bisa menerima kejahiliyahanmu."


"Biasanya Marcel its ok kalau di jahili."


"Buktinya dia marah."


"Yang penting dia masih di sini. Tidak pulang meninggalkan kita."


"Yeee takut ya di tinggalin??"


"Enggaa ngalain takut??"


"Alalaahhh kamu! Masih gengsi saja buat pengakuan."


"Pengakuan apaa??"


"Takut di tinggalin kan?"


"Iya. Emang kenapa?"


Untung perselisihan mereka berdua terdengar pelan. Tidak mampu menandingi speaker dari pagelaran tari yang sedang berlangsung di panggung.


Tapi tak di temukannya.


Seperti layaknya seorang pacar yang mencari kekasihnya yang hilang.


Zahra menepuk pipi Castela.


Z: "Cari siapaa??"


Tanyanya.


C: "Si marcel dimana ya?"


Sambil kepalanya celingukan mencari sosok Marcel.


Z: "Sedang marah kenapa di cariin?"


C: "Siapa tahu kangen mendadak sama aku."


Z: "Hahhah.. Percaya diri banget sih kamu?"


C: "Why not?"


Z: "Marcel terlihat biasa-biasa saja. Tidak ada yang spesial."


C: "Tidak ada yang tahu isi hatinya."


Z: "Tapi kamu bukan penyelam."


C: "Tapi aku pendaki gunung."


Z: "Gunung kan tinggi. Nanti kamu kecapian."


C: "Kan ada kamu."


Z: "Aku alergi hawa dingin."


C: "Masih ada Marcel."


Z: "Dia tidak suka mendaki gunung."


C: "Sok tahu kamu."


Z: "Ayo taruhan?"


C: "Wanita alim seperti kamu?"


Z: "Hahhah.. Buat iseng-iseng saja."


C: "Siapa tahu berhadiah ya?"


Z: "Iya. Ayoo berani ga?"


C: "Siapa takut?"


Z: "Sekarang atau nanti?"


C: "Sekarang saja."


Zahra dan Castela melihat ke segala arah. Mencari Marcel untuk mempertanyakan kesukaannya.


"Kalau aku yang menang, dapat apa?"


Tanya Zahra.


"Apa saja."


Jawab Castela.


"Benar ya?"


"Benar dong."


"Ayo buruan kita cari."


Zahra dan Marcel berjalan mengitari auditorium. Meski pagelaran masih berlangsung dan para mahasiswa masih asik menikmatinya, mereka berdua tidak memperdulikannya.


Sebagian dari mahasiswa melakukan sesuatu yang sama dengan apa yang di lakukan oleh mereka berdua. Berbincang tentang hal lain yang tidak sealur dengan pagelaran.


Ada juga yang berjalan-jalan mengitari panggung. Tidak seluruhnya konsentrasi dengan pertunjukan. Mereka memilih untuk mengisi weekend sesuka hati mereka.


"Itu diaa... Marcel di pojok sana sedang berbincang dengan Lulu mahasiswi tingkat akhir."


Kata Zahra.


"Kamu tahu dari mana dia mahasiswi tingkat akhir?"


Tukas Castela.


"Dia kan sangat terkenal. Masuk majalah anak kampus edisi terbaru."


"Ooh baru tahu ini."


"Fotografer kok tidak up to date?"


"Memangnya itu majalah apa?"


"Hahhah.. Majalah bisnis."


Castela menepuk jidat Zahra.


Lalu berjalan ke pojok auditorium. Berjalan cepat menghampiri Marcel.


"Ceeeeellllllll.."


Castela berteriak.


Marcel menoleh ke arahnya. Wajah itu masih menampakan kekesalan terhadap Castela.


Berhubung Marcel terlihat masih masam, Castela menyenggol lengan Zahra.


Mengerti apa yang dia maksud, Zahra mengajukan pertanyaannya.


"Ceelll... sedang sibuk tidak?"


Zahra berbasa-basi.


"Tidak. Kenapa?"


"Aku mau bertanya."


"Silahkan."


"Kamu suka mendaki tidak?"


Marcel terdiam. Menatap wajah Zahra. Menurutnya itu sebuah pertanyaan di saat yang tidak tepat. Tapi Marcel tetap menjawabnya.


"Tidak."


Jawaban singkat itu membuat Zahra berjingkrak melampiaskan kegembiraannya seperti anak kecil.