
POV.
Pagi itu sangat mendung. Awan hitam tampak menyelimuti kota. Mungkin sebentar lagi hujan.
Olivia semakin menarik selimut tebalnya. Di hari minggu ini dia ingin beristirahat total dengan tidur sepanjang hari.
Baru saja memejamkan mata tiba-tiba terdengar dering handphonenya. Ring tone Hero milik Mariah Carey mengalun di volume 9. Tidak terlalu keras tapi membuat Olivia bangkit dari tidurnya.
"Halo?"
Suara dari sebrang terdengar.
"Iya?"
Jawab Olivia dengan suara masih serak.
"Dengan Olivia?"
"Iya benar. Ada yang bisa saya bantu?"
"Maaf... Saya membawa kabar duka. Kedua orang tua anda meninggal dalam kecelakaan pesawat menuju Italia. Jenazahnya ada di Mater Olbia Hospital. Di tunggu kedatangannya. Terima kasih."
Suara telefon terputus.
Olivia terhenyak di kasur. Ait matanya menetes. Ingin berteriak sekencang-kencangnya. Tapi tak ada suara yang keluar sama.sekali. Sampai lama dia terus menangis di atas pembaringan.
Hingga Abigail masuk ke dalam kamarnya. Mendapati kakaknya sedang menangis sesunggukan. Badannya sampai terguncang.
"Kenapa kak???"
Olivia sulit sekali untuk berbicara. Abigail tak sabar melihat Olivia terus diam.. Di raihnya handphone yang di pegangnya. Lalu di bukanya call terakhir. Kemudian dia telefon balik.
Setelah tersambung dan berbicara dengan pemilik nomer telefon beberapa menit, Abigail menutup telefonnya. Badannya melemas seketika. Walaupun dia belum pernah bertemu tapi itu kedua orang tua Olivia. Sedikit banyak dia ikut merasakan kesedihannya.
Abigail segera memeluk Olivia. Di peluknya erat-erat. Berharap bisa memberi kekuatan bagi Oliv.
Bagaimana tidak sedih? Butik yang di besarkan dengan kerja keras selama ini niatnya ingin di tunjukan oleh kedua orang tua Oliv ketika pulang ke Italy nanti. Ternyata rencana Tuhan berbeda.
Karena Olivia tidak juga bergeming dari tempatnya, Abigail menuju kamar Blekly.
Kebetulan dia sudah terbangun. Marcya dan Marcel merundingkan rencana berikutnya dan mengabari kerabat terdekat.
"Kamu tunggu di rumah saja bersama Olivia. Aku ke rumah sakit bersama Aldo. Istrinya akan kumintai tolong mempersiapkan ruangan."
"Yakin kamu bisa sendiri?"
"Kan ada Aldo yang sudah lama mengenal keluarga ini."
"Iyaa.."
Marcel bergegas pergi ke Mater Olbia bersama Aldo. Seperti biasa setiap hari Minggu Aldo selalu datang ke rumah mereka.
Marcya masuk lagi ke kamar Olivia. Di lihatnya Olivia terbaring di atas kasur.
"Makan dulu kak. Nanti sakit."
Olivia menggelengkan kepalanya. Tidak berhasrat untuk apapun. Abigail menyelimuti tubuh Olivia karena melihatnya tampak menggigil kedinginan.
Badannya panas saat Abigail menyentuh lengan Olivia.
"Kakak mau ku ambilkan minum?"
Olivia menggelengkan kepala lagi.
"Gail tongal ke depan dulu ya?"
Olivia menganggukan kepala.
Di ruang tamu keluarga Aldo sedang mempersiapkan ruangan. Menggelar beberapa karpet besar.
Sejumlah dus air mineral sudah tersedia di ruangan itu.
Tidak berapa lama suara sirine ambulan terdengar. Mobil jenasah datang dan berhenti di depan rumah.
Kedua jenasah di angkat ke dalam. Para kerabat langsung menangis melihatnya.
Olivia berteriak histeris dari.dalam kamar. Menuju kedua jenasah kedua orang tuanya yang berbaring di meja panjang.
Menangis di atas tubuh keduanya. Blekly dan Abigail mendekati Olivia. Mereka juga ikut menangis. Padahal separuhnya mereka berdua bukan siapa-siapa.
Semua tetangga berdatangan. Menyalami Abigail dan Blekly secara bergantian.
+
+
Suasana berkabung waktu itu masih teringat jelas di ingatan Olivia.
Sudah setahun lamanya sejak kecelakaan itu terjadi.
Semua aset sudah di simpan Olivia di tempat yang aman. Semenjak merasa kehilangan Olivia semakin sayang dengan kedua adiknya.