The Class Meeting

The Class Meeting
Zahra Rosetta



Zahra Rosetta... gadis asli Italia yang berkulit coklat dan berambut pirang. Matanya yang besar dan bulu mata yang lentik menyorotkan kepolosan pribadi yang beranjak dewasa.


Memang sejak dulu mempunyai kebiasaan selalu mengekor sahabatnya Castela.


Tinggal berdua bersama Mamanya. Seorang janda bernama Nyonya Aurora Rosetta. Sudah hampir 10 tahun menjanda. Suaminya meninggal karena sakit serangan jantung.


Di tengah-tengah kesendiriannya Aurora pernah dekat dengan seorang seniman Italia yang sedang merintis karirnya sebagai pelukis. Namanya Alessandro Ottavio.


Saat itu Alessandro sedang mencari obyek lukisan untuk skripsinya. Aurora menawarkan dirinya. Dengan alasan hanya iseng saja. Karena pada dasarnya Aurora hanya menyukai lukisan dirinya yang ada di kanvas. Rencananya lukisan itu mau di pasang di rumah.


Alessandro menyetujui tawaran itu. Dia mengambil background di tepi jembatan Scaligero Verona.


Di bawah pohon zaitun Alessandro mulai melukis Aurora yang cantik menawan menggunakan dress warna putih tulang. Gaun tanpa lengan itu menunjukan kemulusan kulit tubuh Aurora.


Rambut panjangnya yang sepinggang terurai lepas di atas dada kiri. Poninya yang cantik jatuh menyamping menutupi kening kecil Aurora dan hampir menutupi mata.


Dengan bertelanjang kaki dia duduk di atas kursi penjalin sedikit lebih maju menjauh dari senderan kursi. Kaki kiri menyilang bertumpu pada lutut kaki kanan.


Anggun... Begitulah penilaian Alessandro pada obyek lukisannya.


Di tangan yang trampil lukisan Aurora telah sempurna di pukul 4 sore. Menunggu sebentar sampai cat di kanvas mengering.


Sambil menunggu...


"Aurora... Kamu tinggal bersama anakmu?"


"Iya.. Suamiku sudah meninggal 10 tahun yang lalu."


Hhmm... Jadi dia menikah muda.


Batin Alessandro di hati.


"Aku menikah umur 20 tahun."


"Ooh.."


Alessandro tidak ingin membahas kematian suaminya. Tapi energi bumi memang luar biasa.


"Trus biaya hidup?"


Tanya Alessandro.


"Aku jualan bunga di pasar."


"Beli dimana Bunganya?"


"Tetanggaku punya kebun bunga yang luas. Aku dapat harga murah darinya."


"Oohh.."


Alessandro melirik Aurora. Memang pantas berjualan bunga. Penampilannya yang lembut dan sederhana itu mampu mengundang pelanggan.


Lagipula hampri semua festival di Italy baik budaya maupun acara formal dapat di pasttikan menggunakan rangkaian bunga. Belum lagi dengan banyaknya gereja di Italy. Yang mengganti bunga di altar setiap 3 sampai 4 kali sekali.


Pemilihan profesi yang tepat. Di mana satu buket bunga biasa di hargai 4-8 euros.


"Mau pulang sekarang?"


"Yuuk."


Jawab Aurora.


Mereka pulang menggunakan sepeda motor milik Alessandro.


+++


Sampai di rumah Aurora...


"Aku langsung pulang ya?"


Kata Alessandro sambil menunggu Aurora turun dari sepeda motor.


"Baiklah.. Terima kasih."


"Sama-sama."


Alessandro menarik tangan Aurora dan menyelipkan sebuah amplop dan menggegamkannya di telapak tangan Aurora.


Lalu dengan cepat melarikan motornya.


Aurora membuka amplop itu dan melihat isinya. Ternyata uang 30 euros.


Ouh.. Alhamdulilah.


Kata Aurora di dalam hati.


Ibu muda yang cantik memasuki rumahnya. Mendapati anak perempuannya sedang mendendangkan lagu kebangsaan negaranya.


....Fratelli d'Italia I'Italia s'e desta


dell"elmo di scipio s'e cinta la testa


dov'e la vittoria....


Lagu kebangsaan yang selalu di nyanyikan saat acara resmi kenegaraan.


Aurora tersenyum saat melihat Zahra.


"Kamu.sudah makan Zahra?"


"Sudah Mam.. Mama darimana?"


Aurora mengacungkan amplop di depan wajah anaknya.


"Apa itu?"


"Mama jadi model lukisan salah satu mahasiswa IIF."


"Asik dong. Dapat komisi ya? Zahra bagi dong Ma.."


"Ntar makan di street foods di dekat rumah."