The Class Meeting

The Class Meeting
Fotografer



Marcel memandang Marcya. Kilatan matanya tidak mampu menipu perasaannya. Melihatnya tidur lebih membahagiakan dibandingkan merasa tertantang dengan segala hal yang membuatnya bersemangat.


Marcel masih terjaga. Padahal mata sudah hampir tidak bisa diajak kompromi lagi. Mengalihkan perhatiannya dengan membuat istana pasir.


Anak-anak kecil di pantai melihatnya dan menghampirinya. Mereka juga membuat cetakan pasir dari batok kelapa.


Berapa lama perjalanan ini akan berakhir? Takdir Tuhan yang tak terelakkan. Istana pasir yang dibuatnya diambil alih oleh anak-anak kecil.


Biarkan mereka bersenang-senang sebentar.


pikir Marcel.


Dengan tubuh setengah telanjang, anak-anak menambahkan bangunan-bangunan kecil di sekitar istana yang mereka buat.


Marcel menarik napas dalam-dalam. Tarik napas dalam-dalam lalu hembuskan.


Nafasnya bercampur dengan semilir angin laut yang sebentar lagi menjelang senja.


Matahari memancarkan sinarnya ke segala arah. Dan membias di lautan.


Sangat cantik.


Fotografer pantai sibuk mengabadikan momen yang terjadi setiap hari.


Berkeliling menawarkan fotonya dalam bingkai kecil. Mungkin seseorang akan membelinya.


Begitu harapannya.


Ada berbagai cara untuk mendapatkan penghasilan.


Foto matahari terbenam dalam bingkai kayu dengan ukiran indah di setiap bingkainya.


Karya seniman yang ingin maju dalam segala karyanya.


Sebuah tas berisi bingkai kecil menemani perjalanannya.


Beberapa pengunjung menggunakan jasanya. Satu hal yang bisa meningkatkan pendapatannya.


Foto keluarga di pantai dengan latar belakang laut atau matahari terbenam. Pengunjung sangat menyukainya.


Marcel memandang fotografer itu dari kejauhan. Ternyata tidak semua karier fotografer berjalan mulus. Padahal biaya sekolah dan membeli peralatannya saja tidak semurah itu.


Untungnya... hampir semua fotografer menekuni bidangnya hanay karena sesuai dengan hobinya. Tidak semua hasil jepretan bisa dinilai mempunyai seni yang tinggi.


Ketika konsumen menyukai sebuah foto, alasannya belum tentu soal nilai seninya. Mungkin ada nilai yang lebih besar dari sekedar seni.


Satu keluarga telah mengambil foto. Kemudian pengunjung lain mengikuti mereka. Mereka minta difoto juga.


Indahnya matahari terbenam membawa keberuntungan bagi sang fotografer.


Fotografer itu tersenyum lebar. Setelah ini, dia bisa pulang dengan membawa rejeki yang telah diusahakannya untuk istri dan anak-anak di rumah.


Kalau belum menikah, mungkin untuk tabungan masa depannya.


Tampan. Dia masih seperti anak muda.


Tidak terlihat tua. Padahal celananya seperti celana kain yang disukai oleh para orang tua.


Kemejanya berlengan panjang. Ditekuk sampai setengah siku.


Topi sport bertuliskan nike membuatnya tampil lebih kasual serasi dengan model kain bajunya.


Masih sibuk membereskan perlengkapan alat foto. Sesekali ada anak kecil yang menggoda sang fotografer.


Melambaikan daun lontar yang setengah kering yang ia temukan di pinggir pantai ke badannya.


Anak kecil itu berlari mengelilinginya. Fotografer itu tersenyum mendengar lelucon dan nyanyian mereka.


Pria itu telah selesai membereskan perlengkapan foto. Berjalan keluar menuju gerbang pantai.


Beberapa anak kecil mengikutinya. Sambil bercengkrama satu sama lain.


Mengantarkannya ke gerbang pantai.


Dari jauh terlihat pria itu memberikan sesuatu kepada anak-anak kecil itu. Mereka bergembira menerima hadiah. Menari dan berputar-putar dengan suka ria.


Marcel memandang tengah lautan.


Senja memang indah


Tiada pernah bosan memandangnya


Selalu dan selalu kembali


Melihat dari kejauhan


Hangatnya terasa begitu dekat


Ada anak kecil yang menghampiri Marcel. Menjajakan makanan kecil dan minuman kaleng dingin.


"Om tolong di beli Om."


Ucap anak itu.


Sebenarnya Marcel masih kenyang dan tidak haus. Tapi biarlah.. Tidak tega juga jika tidak membelinya.


Marcya terbangun dengan gigitan nyamuk di tubuhnya. Gigitan nyamuk sangat gatal.


Plaakkk


Seekor nyamuk mengeluarkan darah karena tepukan tangan Marcel.


Pria yang peka sekali dengan keadaan kekasihnya yang sedang menggaruk betis kaki jenjangnya.


Ucap Marcel.


"Pulang ke rumah?"


"Ya."


"Kemana?"


Marcel meringis mengingat mereka masih berpetualang di dunia lain.


Tiba-tiba seorang wanita berusia sekitar 27 tahun menghampiri mereka.


“Abigail, ayo pulang.”


kata wanita itu.


Marcya dan Marcel saling berpandangan.


"Kenapa kalian bengong? Ayo pulang."


Gadis itu menggandeng tangan Marcya dan Marcel. Berjalan menuju gerbang pantai.


Di luar...di tempat parkir, seorang pria terlihat berdiri di dekat sebuah mobil.


Melihat mereka bertiga langsung tersenyum dan...


"Selamat malam nona nona ...tuan..."


kata pria itu.


Seragamnya menunjukkan bahwa dia adalah seorang sopir pribadi. Setelan safari yang serasi dengan banyak kancing.


"Selamat malam pak. Ayo langsung pulang."


Kata wanita itu.


Marcya dan Marcel masih terheran-heran. Mencoba memahami momen mereka saat ini. Sebagai siapa mereka di sini.


"Blakely... tolong buka pintunya."


Tangan wanita itu penuh membawa belanjaan yang diambil dari bagasi mobil.


Sebagian belanjaan diserahkan kepada Marcya.


Marcel membuka pintu rumah yang tidak terkunci.


Hebat sekali... dimana aku dan Marcya saat ini?


Marcel berkata pada dirinya sendiri.


Benar saja, saat pintu terbuka tidak ada yang menyambut mereka.


Rumah itu benar-benar dibiarkan tidak terkunci.


“Abigail, ini makanan yang kamu pesan. Ayo makan sekarang.”


Marcya sudah paham kalau dia adalah Abigail...


"Ayo..mari kita habiskan makanan ini."


Ternyata nama wanita tersebut adalah Olivia.


Ketika Abigail dan Blakely sedang berada di pantai, Olivia pergi ke supermarket untuk membeli barang-barang untuk kebutuhan keluarga mereka. Ketiganya merupakan kakak beradik yang ditinggal orang tuanya bekerja di luar negeri.


Meja makan penuh dengan makanan dan minuman instan yang dibelikan Olivia.


Sepertinya sudah terbiasa seperti itu.


Marcya dan Marcel dengan cepat beradaptasi dengan situasi tersebut. Mereka bercanda dan tertawa terbahak-bahak mendengar candaan yang mereka lontarkan satu sama lain.


Seolah-olah mereka sudah mengenal Olivia sejak lama.


Tidak ada lagi kecanggungan. Mereka bertiga dengan cepat menjadi teman dan mengungkapkan perasaan mereka satu sama lain.


“Aku akan tidur sebentar, oke?”


kata Olivia.


"Ya. Tidurlah."


Jawab Blakely.


Olivia memasuki ruangan di sudut ruang makan.


Terdapat dekorasi ruangan berbentuk nama O.L.I.V.I.A. Di gantungkan di depan pintu kamar tidur.


Sangat cantik.


"Sayang, jangan lupa nama asli kita."


Marcya berbisik pada Marcel.


Marcel tertawa pelan agar Olivia tidak terganggu dengan suara tawa mereka.


Marcel dan Marcya duduk di kursi taman dekat kolam renang di rumah.


"Kita terdampar di surga lagi sayang."


Ucap Marcya sambil melihat sekeliling rumah dengan desain interior yang mendekati mewah.