The Class Meeting

The Class Meeting
Jujur



"Halooo...my lovely lil brothaaaa.."


Olivia datang dengan wajah yang sangat sumringah. Mencium pipi Blekly yang sedang duduk di teras.


Kali ini Marcel.diam saja. Tidak berusaha mengelak. Marcya yang melihatnya dari belakang tubuh Olivia mendelik ke arah Marcel. Marcel hanya melirik sekilas ke arah Marcya.


"Nih aku bawain pizza. Kamu pasti belum makan kan?"


"Hhmm.."


Marcel menerima dus pizza yang di serahkan kepadanya.


Membukanya lalu mengambil sepotong dan pizza masuk dengan sukses ke lambungnya.


Olivia yang sayang sama adiknya. Ternyata tidak hanya sekali memanjakan dia.


Marcya duduk di samping Marcel.


"Kamu belum mandi?"


Tanya Marcya.


"Belum..Mau mandi bersamaku?"


Jawab Marcel.


Marcya tertawa ngakak. Memukul bahu Marcel yang atletis.


Tentu saja kepalan tangan Marcya tidak berasa di badan besar Marcel. Gigitan semutpun masih terasa sakit di banding pukulannya.


Marcel bimbang antara mau berterus terang atau menyembunyikan perkenalannya dengan teman baru. Selama ini tidak ada sesuatu yang disembunyikan darinya. Meskipun itu hal yang sepele.


Marcya beranjak ke kamar. Melihat Marcel termenung tidak jelas.


Marcelpun mengurungkan niatnya. Tidak penting juga punya teman baru atau tidak. Marcyapun pasti sudah punya kenalan banyak di dunia fashion. Dia juga tidak pernah cerita.


Marcel ngedumel sendiri di dalam hatinya.


Moodnya uring-uringan begitu mereka datang. Pertanda tidak baik bagi hubungannya.


Marcel melangkah ke kamarnya. Mengunci pintu dan mendengarkan musik kesukaannya. Menutupi wajahnya dengan bantal. AC di kamar tidak mampu membendung rasa panas di hatinya. Karena dia lagi sensitif atau Marcya yang keterlaluan.


Aarrgghhh...


Mana bisa tidur dengan kondisi otak seperti ini. Marcel mengambil jaket kulitnya dan beranjak keluar. Mengambil kunci mobil dan melangkah ke garasi.


"Hey mau kemana?"


Tanya Olivia.


Marcyapun kaget. Tidak biasanya Marcel keluar malam.


"Mau keluar sebentar?"


Jawab Marcel.


Menghargai dirinya sebagai kakak tertua. Walaupun sebenarnya Marcel enggan menjawab.


Bisa begitu mood swing yang timbul karena alasan yang tidak jelas. Masalah yang menimpa Marcel tidak ada hubungannya sama sekali dengan Olivia. Tapi semua kena imbasnya. Untung Marcel type pendiam. Kalau tidak mungkin Olivia sudah jadi sasaran amarahnya.


Marcya berlari ke arahnya. Dia tahu Marcel sedang marah.


"Abigaaiiilll... Kamu mau pergi dengan Blekly juga?!"


Marcya tidak menjawabnya.


Melihat kedua adiknya yang aneh itu Olivia hanya ngedumel di hati.


Dasaarr anak-anak aneh.


Sampai di garasi Marcya menahan lengan Marcel yang akan memasuki mobil.


"Berhenti dulu..."


Marcel seperti tidak mau mengindahkan permintaan Marcya.


"Pliiiiissssss.."


Kata Marcya.


Melihat Marcya yang merengek Marcel jadi tidak tega.


Dia membalikkan badan lalu berkata,


"Ada apaa?"


"Kamu masih marah?"


"Engga."


Marcel kembali melangkah ke dalam mobil.


Marcya mencoba menahannya lagi.


Tapi Marcel sudah tidak perduli. Dia tetap mengemudikan mobil keluar garasi.


"Pliiisss... Katakan saja mau kemana?"


"Ke street foods."


Walaupun jawaban Marcel tidak logis setidaknya Marcel sudah mau bicara.


Marcya kembali ke kamarnya. Sementara Marcel sudah melarikan mobil ke jalan raya.


Dia berhenti di dekat jembatan Santa Trinita.


Turun dari mobil dan melihat pemandangan jembatan renaisanc di Florence.



Air sungainya yang jernih tidak sejernih pikirannya.


Terus melayang-layang memikirkan hubungannya dengan Marcya.


Tidak kecil tidak besar. Tapi cukup memusingkan.


Marcel melamun sambil menghisap rokok camel berbrandol 4 euros. Marcel suka dengan aroma wanginya. Enteng dan selama ini tidak pernah menemukan tembakaunya yang membantu.


Larut dalam pengembaraannya Marcel sampai tidak menyadari hadirnya seorang wanita di dekatnya.


"Hey!"


Wanita itu menepuk punggung Macel.


Marcel menoleh ke belakng.


"Heyy Castela.. Kenapa di sini?"


Senyum Marcel langsung merekah begitu melihat Castela.


"Hehehh... Aku ingin memotret jembatan ini."


"Malam-malam begini?"


"Hey you lil Photograper.... Dont you see a very beautiful pictures here? Sooo amazing you know?!"


Castela berbicara dengan mimik yang benar-benar seperti melihat milky way di atas langit. Matanya membelalak indah. Dengan bulu matanya yang lentik. Dan wajahnya yang berpipi sedikit gembul. Tulang pipi terangkat ke atas ketika dia tersenyum lebar.


Seketika Marcel tertawa terbahak-bahak. Asik banget melihat ekspresi wajahnya. Dengan spontanitasnya yang mampu membuat Marcel sedikit bahagia.


Entah ungkapan bahagia yang sebenarnya atau sekedar pelarian karena sedang sedih.


Setidaknya bisa merubah moodnya yang lagi jelek. Begitu menguras energi sehingga badan terasa tidak berdaya. Letih lunglai.


"Heheh... Iya kamu benar."


Marcel melihat ke arah jembatan yang lampunya tampak berkilauan dari jauh.


"Gimana cantik ga? Lihatlah.."


Castela memperlihatkan foto yang baru di potretnya.


Marcel melihat foto-foto itu. Memang bagus-bagus. Tinggal di kasih pigura sudah menjadi hiasan dinding yang cantik.


"Cantik..Hebat kamu."


"Allaahh jangan terlalu dermawan begitu memberi pujian. Kita semua kan tahu kalau kameranya bagus hasil fotonya juga pasti bagus."


"Hahhahh.. Terserah kamu sajalah."


Marcel melanjutkan obrolannya dengan Castela. Tentang rencana mereka yang mau berkunjung ke Basilicata. Merancang tempat-tempat mana yang hendak di foto.


Asik berbincang sampai tak terasa malam telah menjemput. Jam 12.30am ... Marcel kaget melihat jam tangannya.


"Sudah malam sekali. Mari kita pulang. Maaf aku sampai kelupaan tidak mengingatkan dirimu untuk pulang dari tadi. Apakah orang tuamu tidak marah?"


"Heheh... Panjang banget narasimu, Kly?"


"Hahahaahh.. Iya nih. Tapi itu jujur dari hatiku yang terdalam."


"Duh makasih ya.. Sudah percaya kepadaku dengan kejujuranmu itu."


"Biasa saja.. Apa kamu sering di bohongi Ca?"


"Hahhah.. Menurutmu?"


"Hehehh entahlah. Ayo kita pulang."


Kalau tidak di stop bisa ngobrol terus sampai nanti. Jadi lupa pulang lagi.


Batin Marcel.


Mereka berdua melangkah ke arah mobil masing-masing.


Saling mengucapkan salam dan menjalankan mobilnya pulang ke rumah.


Di dalam perjalanan pulang Marcel kembali termenung. Pertemuan tak terduga dengan Castela mirip dengan pepatah yang mengatakan ada kesempatan di dalam kesempitan.


Apakah alam semesta selalu seperti ini? Mempertemukan dua orang yang sedang di landa kesepian. Di lihat dari Castela yang lupa waktu bisa di prediksi bahwa dia juga di posisi yang sama. Walaupun mungkin dengan alasan yang berbeda.


Benih-benih sejenis ini biasanya tumbuh subur. Tanpa berusaha keras untuk menyiraminya. Pada saat musim berbunga tiba baru terlihat bahwa warna bunga mereka berbeda.


Marcel mengetahui ilmu ini juga dari membaca buku. Dia baru sekali pacaran dengan Marcya. Dan sudah berlangsung begitu lama. Hingga tahunan.


Marcel tidak ingat sudah tahun keberapa. Atau dia memang malas mengingatnya.


Sentilan kecil itu membuat perasaannya bercabang menjadi dua. Antara rasa bersalah dan bingung. Apakah benar perasaannya sudah up date?


Marcel masih seperti yang dulu. Hanya Marcya saja yang terlalu mencintai kesibukannya. Jadi dia enggan untuk mengajak seseorang yang sudah berubah tapi tidak menyadari perubahan itu berasal dari dirinya sendiri.