The Class Meeting

The Class Meeting
Admirer



"Akuu manaaa Booss??"


Tiba-tiba beberapa karyawan produksi keluar dari ruang kerja. Berteriak meminta jatah coklat.


Abigail hanya membawa coklat satu saja. Yang sebenarnya hanya untuk makan siangnya nanti. Karena dia sedang diet ketat untuk menurunkan berat badannya yang naik drastis akibat sering lembur mendesign sambil ngemil.


Abigail mengambil sejumlah uang dari dompet.


"Beli saja. Aku hanya membawa satu coklat."


Sambil menyerahkan uang kepada salah satu karyawan.


"Aasiiikkk.."


Reaksi mereka tampak kegirangan.


*


*


Olivia membuka buku yang berisi design baru.


Tapi pikirannya melayang pada Mario Luca.


Sudah beberapa kali mengiriminya buket. Terkadang sekotak coklat. Atau perhiasan mahal. Sering datang juga ke butik dan sudah memesan banyak setelan jas.


Tapi tak tergerak juga hatinya. Dan Mariopun tak mudah menyerah. Pantang mundur terus mencoba mendekati Olivia. Seorang duda beranak satu yang mantan istrinya meninggal dalam sebuah kecelakaan naas.


Setahun setelah mereka berdua bercerai.


Mario menceritakan semua kisah masa lalu tanpa Olivia memintanya. Tak menyangka dia begitu percaya dengan Olivia.


Tak mungkin memaksakan cintanya pada Olivia. Atau kredibilitasnya akan terjatuh hanya karena masalah perempuan.


Baru kali ini bertemu dengan pria yang tidak patah semangat seperti itu. Olivia sudah menolak bertemu dengannya belakangan ini. Walaupun secara tidak langsung. Selalu menghindar dan kadang sampai bersembunyi jika dia datang.


Menghindari hal-hal yang tidak di inginkan terjadi belakangan. Semua hadiah-hadiah yang di kirimkan tidak bernilai sedikit. Bisa di katakan mahal. Bukan buket biasa dan bukan pula coklat murahan. Apalagi perhiasan-perhiasannya. Yang paling berat adalah barang-barang ini yang bernilai jutaan.


Olivia ingin melihat. Apa Mario merasa kalau sedang di hindari. Dan berhenti mengirimkan hadiah-hadiahnya.


Abigail masuk ke dalam ruang kerja Olivia sambil membawa kertas-kertas design baru.


"Ini design barunya."


"Iya. Letakkan saja di situ."


Pandangan Olivia menunjuk ke arah sisi meja depan.


"Mario telefon. Kakak tidak membalas pesan dan mengangkat telefonnya kenapa?"


Olivia memang mendengar telefonnya bergetar dari dalam tasnya. Tapi di biarkan saja. Karena dia bisa menebak. Pasti telefon dari Mario.


"Kak?? Malah diam saja."


Olivia tidak menggubris pertanyaan Abigail. Bicara tentang Mario saja sudah malas sekali. Entah karena terbawa mood yang kemarin atau yang lainnya.


Hafal dengan tabiat sang Bos sekaligus kakaknya itu, Abigail kembali keruangannya.


Kalau Olivia sudah tidak mau bicara lagi berarti dia sudah mencapai batas maksimalnya.


Olivia ingin menghindar dari Mario. Apalagi dengan kekecewaannya yang kemarin. Semakin enggan berdekatan dengan pria lain. Aku lihat Olivia malah semakin memanjakan Marcel. Pagi tadi Marcel di beri uang banyak sekali. Di taruh di mejanya karena Marcel masih tertidur.


+


+


To my lovely brother... I love you so much.


With love, Olivia.


Setumpuk uang di atas meja Marcel dengan note kecil tulisan tangan Olivia.


Marcel tercengang melihat uang setumpuk itu di berikan kepadanya. Olivia sayangnya bukan main. Mungkin dari luar terlihat hanya sebatas materi saja. Tapi Marcel tidak melihat itu dalam tujuan Olivia memberi hadiah.


Menurutnya itu sebagai pengganti waktu Olivia yang tidak banyak meluangkan waktu bersama Blekly. Meski waktu tidak bisa tergantikan dengan uang.


Sebagai kakak sulung dan pengganti orang tuanya. Olivia harus extra perhatian. Untuk membuktikan bahwa dia bisa di percaya.