The Class Meeting

The Class Meeting
Alrm Kerinduan



Tertegun sendirian di pojok teras rumah. Rasa rindunya semakin memuncak. Membuat Marcel tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Tiba-tiba dia berdiri dan segera meraih jaketnya.


Pergi ke garasi lalu mengendarai mobilnya keluar.


Tujuannya adalah butik Olivia. Dia ingin menculik Marcya dari kesibukannya yang membuat hubungan mereka renggang.


"Hei, tumben kamu sampai datang ke sini?"


Olivia bertanya.


"Iya. Dimana Marcya?"


jawab Marcel.


"Apa?!"


“Maksudku Abigail.”


Marcya cepat-cepat menarik kata-katanya.


"Oh... dia ada di ruang ganti."


Olivia memperhatikan wajah Marcel.


Kenapa dia salah mengeja. Ah, mungkin dia baru saja bertemu dengan temannya. Dan pertemuan itu masih terpatri dalam ingatannya.


Marcel berjalan menuju ruang ganti.


Dari dinding kaca ia melihat Marcya sedang memilih pakaian.


Dia sengaja ingin memberikan kejutan padanya. Marcel melihat sekeliling.


Sepi...tidak ada orang di sini.


Ia segera memeluk kekasihnya sejenak lalu melepaskannya lagi. Karena jika ada yang melihatnya, kan tidak lucu.


Marcya kaget dengan pelukan yang tiba-tiba mendarat di tubuhnya.


Sebelum Marcya berteriak keras, Marcel menutup mulutnya dari belakang agar Marcya tidak berteriak.


Dengan cepat Marcya menoleh ke belakang.


Ia melihat Marcel yang sedang merajuk, menatapnya dengan mata berbinar penuh kerinduan.


"Ahh, kamu mengagetkanku."


"Heheh... ayo jalan-jalan."


"Apa?!"


“Ayo keluar sebentar.”


"Tetapi...


Sebelum Marcya selesai berbicara, Marcel sudah menariknya keluar kantor.


"Oliv... aku akan mengajak Abigail keluar sebentar."


"Mau kemana? Masih banyak pekerjaan di sini."


"Ya aku tahu."


Marcel menggenggam tangannya erat-erat. Penyebab Marcya tidak mengucapkan sepatah kata pun agar Olivia tidak curiga dengan adegan mereka yang seperti adegan sinetron kesayangan.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama."


"Terima kasih... Olivia cantik."


Olivia memutar wajahnya ke arah Marcel.


Mungkin dia membutuhkan adik perempuannya untuk diajak bicara. Aku menyuruhnya untuk segera mencari pacar. Namun Marcel selalu menanggapinya dengan acuh tak acuh.


Olivia menggerutu di dalam hati.


+++


Marcel mengarahkan mobilnya menuju pantai.


Di sore hari, semilir angin laut yang sepoi-sepoi mampu menenangkan hati yang galau.


Seperti biasa mereka berteduh di salah satu gazebo.


Aura pantai selalu menarik pengunjung untuk datang kembali.


"Kenapa menculikku? Merindukanku ya?"


Marcya menyerocos.


"Tidak."


“Apakah itu benar?”


"Hmmm."


"Bohong?"


Marcel tidak menjawab pertanyaannya. Ia malah meraih tubuh Marcya dan memeluknya erat.


Marcya memahami perasaannya. Sudah lama sekali mereka tidak menghabiskan waktu bersama.


Memainkan peran dalam kehidupan baru ini memaksa hubungan mereka menjadi renggang.


"Aku akan menjentikkan jariku lagi, oke?"


kata Marcel.


Marcya tampak terkejut. Setahunya kini, Marcel sudah bisa menerima kehidupan barunya.


Ternyata perkiraannya salah. Meski Marcya sudah tahu apa penyebabnya, dia tetap bertanya pada Marcel.


"Mengapa?"


"Jangan pura-pura bodoh. Kamu tahu betul kalau aku lebih memilih kita berdua tetap dekat dalam keadaan apa pun. Dari pada terpisah jauh. Meski rasa saling percaya itu akan tetap tinggal selamanya."


Marcya terdiam. Tak perlu dijelaskan lebih detail, Marcya sudah tahu arah pembicaraannya.


Action protes dari Marcel membuatnya semakin mengerti dalamnya cinta Marcel kepadanya.


Semakin jauh jarak semakin terlihat dalamnya perasaan.


Entah ujian entah tidak. Pada akhirnya semua akan tampil sebagaimana peran yang dipilih oleh masing-masing.


Aksi Marcel sungguh mencengangkan. Karena tidak pernah ada kejadian seperti ini di dalam kehidupan cinta mereka sebelumnya.


+++


"Bagaimana?"


Marcel bertanya.


"Emmm...kita sudah hampir 4 bulan di sini. Bukankah kita menikmatinya?"


Marcel menatap mata kekasihnya.


“Kamu kesulitan melepaskan kesibukkanmu bukan?”


Kata-kata Marcel sungguh mengena. Marcya berbalik untuk melihatnya. Sebuah dilema yang tidak mudah untuk mengambil keputusan.


Ibarat mainan anak-anak, Marcya baru memainkannya.


Layaknya kekasih baru, dia baru saja jatuh cinta.


Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Marcya. Dia hanya terdiam menatap karpet.


Marcel tak tega memaksakan jawaban dari Marcya.


Akhirnya mereka berdua hanya diam. Melihat udara laut yang memanas. Deru ombak terdengar lirih dari gazebo tempat mereka berteduh.


Melihat jauh ke depan. Seolah ada sesuatu yang menarik di tengah laut.


Satu jam...dua jam...berlalu. Marcel tidak cukup kuat menghadapi situasi itu.


Marcel menyerah kalah.


"Aku akan melakukan apa pun yang bisa membuatmu bahagia."


Marcel mencium kening Marcya.


Meski mungkin kebahagiaanmu tidak bersamaku.


Marcel melanjutkan perkataannya dalam hati.


Marcya tersenyum lebar mendengar pernyataan Marcel. Lalu membalas ciuman Marcel.


Saat ini senyum Marcya adalah kesedihan baginya. Betapa tragisnya berkorban demi cinta.


Cinta membebaskan kita.


Kata internet.


Namun kenyataannya sangat sulit untuk menerapkannya di dunia nyata.


Marcel hanya bisa menikmati sorot mata Marcya yang berbinar-binar kegirangan mendengar keputusan Marcel.


Setidaknya setelah ini Marcya akan menghabiskan waktunya, meski hanya satu atau dua hari saat akhir pekan tiba.


Marcya tidak akan sekejam kemarin untuk menjaga kedekatan.


"Bagaimana kalau kita kembali ke butik sekarang?"


kata Marcya.


"Nanti."


Jawaban Marcel sangat singkat.


Marcya terdiam.


Tampaknya Marcel masih marah.


Marcya pun kembali mengambil es kelapa mudanya. Porsinya terlalu banyak untuk tubuh kecil Marcya.


Kebetulan buah kelapanya besar. Marcya jadi sedikit kembung saat meminumnya.


Marcya perlahan menyendok daging kelapa yang sangat lembut itu. Sesendok demi sesendok.


Air kelapanya sangat enak dan manis. Rasa haus segera hilang.


Itu sudah menjadi rahasia umum. Hanya buah kelapa saja yang memiliki banyak manfaat mulai dari akar, batang, daun, hingga buahnya.


Dari daun kering hingga daun segar. Tempurung kelapa yang sudah tidak mengandung daging kelapapun sangat dihargai sebagai arang sebagai bahan bakar alternatif untuk memasak.


Janur melengkung untuk pernikahan adat jawa juga harus menggunakan daun pohon kelapa.


Menurut cerita dahulu kala, lambang pramuka menggunakan gambar tunas kelapa karena pohon kelapa mempunyai banyak manfaat.


Pikiran Marcya melayang ke sejarah buah kelapa.


Pasalnya jawaban singkat Marcel membuatnya tak beranjak dari tempatnya.


Marcya hanya menunggu sampai Marcel mengajaknya pulang.


Sudah terlalu lama mereka hidup bersama dengan kedekatan yang kontinyu. Jadi ketika terjadi sesuatu yang berbeda, Marcya tetap menganggap bahwa tidak terjadi sesuatu apapun.


Marcya merasa semuanya baik-baik saja. Padahal kerinduan Marcel sepertinya tak terbalaskan hanya dengan kebersamaan sehari saja.


Marcya memandangi Marcel dengan penuh perhatian. Berharap Marcel mengucapkan beberapa lelucon lagi. Walaupun itu lelucon ulangan. Alias sudah pernah di dengar.


Seperti rantai makanan yang selalu bergerak mengikuti circle. Seperti jam dinding yang terus berjalan.


Satu hal yang tak pernah di harapkan kehadirannya mendadak muncul dan harus mengiba untuk tetap tinggal.


Terkadang hidup selucu itu. Tidak mau dan harus mau. Di mana roda terus berputar menyentuh tanah yang selalu berada di bawah.