The Class Meeting

The Class Meeting
Matahari terbit bersama Castela



"Ini.. Makanlah dulu. Sudah larut malam. Perut harus di isi karena kita bergadang."


Ucap Marcel.


"Iyaa."


Sambil mengambil piring berisi masakan Marcel.


"Tadi aku panasin sebentar. Kamu jadi sedikit menunggu agak lama."


Marcel melihat muka Castela yang pucat.


"Its ok.."


Castela mengunyah makanan yang masih hangat.


"Wajahmu pucat."


Marcel kembali melihatnya.


"Aku ketakutan melihat hutan di samping. Gelap sekali."


"Kenapa tidak menyusulku ke dapur?"


"Tak ada pikiran ke situ. Pikiranku seperti kosong tak jelas."


Marcel tersenyum.


"Tenanglah. Aku sudah di sini."


"Hehehh.."


Castela menyantap makanannya dengan lahap. Mencoba menghilangkan kecemasannya.


Tidsk tahu kenapa. Castela seperti paranoid dengan yang gelap-gelap. Dan phobia dengan ruangan yang gelap. Nafasnya langsung sesak jika berada di dalamnya.


"Zahra tidak kamu bangunkan?"


"Coba kamu yang bangunkan."


"Masa aku?"


"Aku malas membangunkannya."


"Ya sudah. Kalau begitu biarkan saja dia tidur."


"Iyaa..Nyanyi lagi dong."


"Mau lagu apa?""


"Terserah."


"Kamu mengantuk?"


"Hemm."


"Tidurlah.. Aku temani di sini"


Castela memandangnya.


"Kenapa malah melihatku?"


Marcel menyeringai lucu.


Menurut Castela seringainya itu membuatnya semakin tampan.


Sudah beberapa kali camping dengan beberapa temannya. Tapi malam ini berbeda. Seharusnya menjadi malam yang romantis. Karena mereka hanya berduaan saja.


Apa iya? Dia harus cilok dengan Marcel? Alias cinta lokasi.


Castela masih memandanginya. Rasa kantuk sudah menggelayut di mata.


Bagaikan penghantar tidur yang mengiringi, Marcel terus memainkan gitar.


Tidak menghiraukan tatapan mata Castela. Sorot matanya yang penuh dengan kekaguman dia anggap sebagai kekaguman seorang sahabat. Perasaannya menjadi lebih nyaman dengan status yang dia putuskan sendiri.


Dan tidak mau berpikir yang bukan-bukan. Fase hubungannya masih terombang ambing. Dan tidak mau menambahnya jadi lebih buruk lagi.


Di liriknya Castela yang berbaring di karpet. Tampak sudah tertidur lelap.


Harus bersyukur atau malah bersedih. Kehadiran Castela ternyata membuat moodnya di rumah jadi lebuh baik.


Entahlah..


Kenyataannya memang tidak ada rasa spesial yang aku rasakan.


Mendongakkan kepalanya ke atas. Melihat rembulan yang utuh di atas sana. Sinarnya memancar ke seluruh muka bumi. Kolam renang menjadi agak terang dengan sinarnya.


Menghayalkan jika aku jemtikan jariku saat ini apakah aku akan pindah sendiri? Atau Castela juga ikut pindah?


Tidak berani berspekulasi. Terlalu beresiko tinggi. Dan tidak sampai hati meninggalkan Marcya di sini. Walaupun sudah dapat di pastikan bahwa Olivia akan memperlakukan dia dengan baik. Siapa lagi tempat bersandar jika kedua orang tua sudah tiada.


Tenggelam dalam dilema sangat menyedihkan. Bukan sedih yang membuat hati menangis sampai tidak berhenti. Tapi sedih yang mengosongkan hati.


Hati ingin segera berlari dari hal yang sangat mencengangkan ini. Melihat kejadian tadi, ketika Marcya masih bisa menangis karena diriku. Tapi mengapa dia tidak berani mengambil keputusan?


Sudah jelas sekali kalau aku bukanlah yang terpenting baginya. Dan buat apa aku menunggunya. Jika aku mau seegois dia aku bisa menenggelamkan diriku dalam dunia bisnis seperti dirinya.


Karena aku masih menunggunya kembali.Menunggunya sampai dia menyesal telah mengutamakan karirnya. Menunggunya sampai dia merasa aku sangat berarti baginya.


Terdengar seperti lelaki yang kalah dalam percintaan. Bukan seperti itu takdir seorang laki-laki. Lelaki bukan untuk menunggu. Walau masih ada pengecualian tertentu.