
Sudah hampir jam 4 pagi. Marcel kembali ke dalam mobil dan beranjak pulang.
Jalanan sepi mempermudah mobil Marcel meluncur dengan kecepatan tinggi. Menembus malam menjelang pagi. Seperti hatinya yang ingin segera terbebas dari beban itu.
Apakah harus menunggu sampai rasa itu benar-benar hilang? Pasti sulit sekali. Tapi harus menegaskan diri sendiri. Atau Marcel terus terombang ambing dalam ketidakpastian .
Tapi apa mungkin mengakhiri hubungan di kehidupan mereka yang tidak sebenarnya ini?
Pasti akan ada penyesalan di belakang.
Marcel memukul stir mobil dengan keras. Hatinya yang tadi sudah tenang kembali berkecamuk dengan dasyat. Hampir saja dia menabrak tong sampah di pinggir jalan. Segera di membanting setir untuk meluruskan arah mobil. Untungnya jalanan masih sepi. Tidak ada mobil dari arah berlawanan ataupun dari belakang yang mungkin saja menabraknya ketika dia membanting setir dengan tiba-tiba.
Karena ngebut tidak sampai lama Marcel sampai di rumah. Matanya sudah berat sekali ingin segera tidur. Dan Marcel bersyukur sekali atas hal itu. Karena sesampainya di rumah dia bisa cepat melupakan masalahnya.
Keinginannya terkabul. Olivia dan Marcya masih tertidur. Sehingga dia tidak perlu bertemu dan ngobrol yang bisa menghilangkan rasa kantuknya.
Jika Olivia terbangun pasti dia akan menanyakan banyak hal. Bla Bla Bla...
Kalau Marcya yang terbangun, walau tak ada sepatah kata yang terucap pasti dapat memancing emosinya kembali.
Ternyata tidur mampu mengobati walau untuk sementara saja. Betapa berharganya waktu itu.
+++
"Boss.. Ada kiriman bunga nih."
Kata Zahara sekretarisnya.
"Pagi-pagi seperti ini?"
Olivia mengangkat kedua alisnya..Sambil menerima kiriman itu.
Mengambil kartu ucapan dan membacanya.
Just for Olivia.
"Hello beautiful...
Your looks as warm as my heart when I see you."
Love,
Mario Luca.
Kiss & Hug
"Ciee...pagi-pagi sudah ada yang romantis.."
Celutuk Abigail menggoda kakaknya.
Olivia memalingkan mukanya ke arah Abigail.
Menyerahkan rangkaian bunga yang harumnya semerbak di seantero ruangan.
"Untuk kamu."
Olivia berkata.
"Mana bisa?! Ini kan tertulis buat kakak?!"
Olivia mengambil pena di atas meja Zahara. Lalu mengambil kartu ucapan dan mencoret nama Olivia kemudian menggantinya dengan nama Abigail.
Melihat tingkah lakunya yang konyol Abigail tertawa keras. Tidak mau kalah dengan action si kakak, Abigail merebut pena dan mengganti namanya dengan nama Zahara.
Di serahkan bunga itu di atas meja Zahara.
Zahara termangu dengan tingkah laku kedua bosnya.
Dengan konyol pula Zahara membalas kelakuan mereka dengan memeluk erat rangkain bunga mawar merah yang masih segar itu. Di ciuminya sambil menghirup wangi mawar merah tersebut. Yang tragisnya lagi kartu ucapan romantis di pegang lalu di cium sampai lama sekali dengan mata terpejam. Seolah-olah dia sedang mencium sang pengirim. Mario Luca.
Kontan Abigail dan Olivia ngakak menyaksikan kekonyolan Zahara. Semangat pagi yang di awali dengan humor ringan ala Olivia. Karena kejengahannya yang hampir setiap hari menerima kiriman bunga.
"Bahlul kau!"
Seru Abigail menirukan logat pemilik toko parfum kepunyaan seseorang bardarah Arab.
Zahara tertawa geli melihat reaksi Abigail.
Ternyata bawahannya bisa lebih konyol dari atasannya.
Abigail mengambil sepotong coklat dari dalam tasnya. Di serahkan pada Zahara.
"Hadiah apa ini Boss?"
"Hadiah atas kekonyolan kamu yang sudah menghibur kami berdua di pagi ini."
"Waduh terima kasih ya Boss.. Sampai segitunya deh."
Abigail dan Olivia memang terkenal royal terhadap semua bawahan.