
Tiba di Sitges. Marcya dan Marcel berjalan menuju hutan. Di tengah perjalanan, Marcya tersandung batu yang ditumbuhi semak belukar.
Dia hampir terjatuh jika Marcel tidak segera meraih lengannya.
"Hati-hati."
kata Marcel.
“Saya tidak melihat batunya.”
jawab Marcya.
Tidak ada luka, namun kaki Marcya terkilir
karena dia menjaga keseimbangan tubuhnya.
Kaki Marcya terseok-seok melanjutkan perjalanannya. Marcel ingin memeluknya. Namun dia malah memilih alternatif lain.
"Jentikkan saja jarimu lagi."
kata Marcya.
"Apakah kamu sudah memikirkannya dengan baik?"
“Apa yang bisa kita lakukan? Jalan menuju hutan masih jauh.”
"Kita bisa kembali ke desa. Dan tinggal di sana. Uangnya masih banyak."
Marcya menatap kekasihnya.
Dalam situasi tersulit kadang kita bisa melupakan peluang yang tersedia dengan begitu mudahnya. Seolah kesadaran hilang begitu saja.
Masih ada beberapa kartu debit yang bisa digunakan.
Marcya dan Marcel memiliki tingkat keberuntungan yang tinggi. Semua pin kartu debit ditulis secara detail di notebook Fito pemilik rumah pohon.
Keberuntungan seperti itu jarang terjadi di dunia ini. Keberuntungan tidak selalu berpihak pada semua orang.
Lebih banyak yang sial daripada beruntung.
Rintangan hidup yang tak terlihat. Memiliki indra keenam saja tidak selalu bisa memenangkan kehidupan.
Ibaratnya separti orang yang taat beribadah tapi belum tentu juga bisa masuk surga.
Bergantung pada keberuntungan, juga tidak selalu mendapatkan solusi.
"Bagaimana? Kenapa diam saja?"
kata Marcel.
"Baiklah... Ayo kita kembali ke rumah penduduk dan mencari hotel disana."
"Ya, begitu saja."
Marcel memapah Marcya dan berjalan kembali menuju desa.
Sebaiknya aku menggendongnya saja. pikir Marcel.
Marcel menggendong Marcya.
Marcya hanya diam saja. Dia tahu apa yang dipikirkan Marcel.
Kembali ke Hotel Paramount. Pesan kamar dan menghubungi tukang pijat.
Tukang pijit adalah penduduk asli yang masih mengenakan pakaian khas Spanyol. Rok panjang sampai mata kaki dan lengan panjang. Model roknya seperti kurungan. Ngepas di pinggang dan memanjang ke bawah. Kebanyakan lebih memilih kain bermotif daripada kain polos dan menggunakan kain katun atau wol.
Rok khusus untuk pesta memiliki banyak rempel yang menumpuk di bagian tengah hingga bawah rok. Begitu pula dengan lengannya. Cantik sekali dengan rempel kecil yang melingkari lengan pendek gaun.
"Silahkan masuk, Bu."
kata Marcia.
"Permisi..."
Tukang pijat berjalan ke arah tempat tidur. Memijat kaki Marcya yang terkilir. Lalu di baluri dengan rempah tradisional Spanyol.
Setelah satu jam, Ibu pijat turun dari kasur. Lalu Marcel menyerahkan ongkos pijat dan mengantarnya sampai ke pintu.
Marcya tertidur lelap. Dipijat hingga tertidur ibarat menaiki kereta kuda yang bisa terbang ke awan.
Marcel duduk di sofa kamar. Menyetel pemutar musik yang tersedia di hotel. Memilih musik klasik untuk menemani Marcya tidur.
Perlahan matanya terpejam. Rasa lelah membuatnya cepat tertidur dalam beberapa detik.
Malam tiba. Diiringi suara kicau jangkrik yang menggema di luar kamar hotel. Lebih kontras dengan musik klasik Mozart.
Hotel Paramount... Walaupun bukan hotel terkenal tapi sangat bagus pelayanannya. Tempatnya bersih dan rapi. Hampir tidak ada debu yang melekat di sisi-sisi dinding.
Customer servis dan roomboy yang ramah-ramah selalu menyambut para tamu dengan senyumannya yang friendly.
Tidak heran selalu banyak pelanggan yang selalu kembali. Contohnya seperti Marcel dan Marcya.
+++
Wajah Marcya kembali cerah setelah mandi dengan garam relaksasi. Berbaring di sofa sambil menonton televisi. Tiba-tiba bangkit dari sofa dan berkata,
"Sayang, jentikan jarimu."
Marcel menatapnya, suasana hati Marcya yang tiba-tiba berubah membuatnya bingung. Semenit yang lalu dia tampak menikmati kesegaran setelah berendam.
"Oke."
kata Marcel. Kali ini dia tidak menanyakan apakah Marcya akan merasa lebih nyaman setelah meninggalkan tempat ini.
Dapat dimengerti bahwa kita lebih bahagia berada di kediaman pribadi.
Klik..klik..
Duduk di tepi trotoar. Marcel melihat pakaiannya compang-camping dan berantakan. Marcya duduk di sampingnya. Dengan memegang sebuah kaleng yang berisi beberapa koin dan uang kertas.
Mereka berdua saling memandang. Tidak menyangka akan berada di tempat seperti ini.
"Bagaimana? Aku akan menjentikkan jariku lagi, oke?"
Marcya masih kaget walaupun mereka tahu mereka tidak akan bisa mendeteksi dengan jelas bagaimana dan di mana tempat baru yang akan mereka kunjungi. Namun tetap saja terkejut.
Sama seperti saat cuaca mendung. 90% kemungkinan hujan. Semua jalan…menjadi basah. Dan masih bertanya kenapa air berkumpul di tengah jalan menjadi genangan.
Marcel berjalan ke samping toko. Yaitu toko emas. Marcel menjulurkan kepalanya ke dalam toko.
Pemilik toko melihatnya. Kemudian menegurnya dan mengusirnya.
Marcel kembali duduk di samping Marcya. Marcya geli sendiri hendak menangis atau tertawa. Tapi melihat pacarnya terlihat sedih, dia menahan diri untuk tidak tertawa.
Suatu peristiwa yang tidak pernah dibayangkan dalam hidup. Tiba-tiba menjadi pengemis jalanan. Harus mengemis hanya untuk sesuap nasi.
Marcel memandang kekasihnya. Masih beruntung memiliki di sampingku. Marcel mencium kening Marcya. Tidak peduli dengan orang-orang yang memperhatikan mereka berdua.
"Bagaimana denganmu sayang?"
Marcel bertanya.
Marcel memandang Marcya lekat-lekat.
"Apakah kamu tidak mengkhawatirkan tempat baru kita?"
"Heheh...apa lagi yang bisa kita lakukan? Jentikkan jarimu lagi jika kamu merasa tidak nyaman."
"Hehehe, benarkah?"
Marcya menatap Marcel dalam-dalam.
Situasi yang sangat tidak nyaman bagi Marcel. Tapi masih memikirkan keinginan pacarnya. Meskipun itu terdengar seperti keinginan yang aneh.
pikir Marcya.
"Bagaimana??"
Marcel mengulangi kata-katanya.
"Apakah kita akan pindah sekarang?"
Emmm..
Jika Marcya melanjutkan, apakah dia mau menunggu hardikan lainnya? Hanya karena pakaiannya.
Tidak...
"Jentikkan..."
kata Marcya.
klik..klik..
Wah.. pantainya indah sekali. Marcya dan Marcel setengah telanjang berbaring di atas matras pantai. Berbaring telungkup sambil memandangi keindahan laut.
Seorang penjaga pantai wanita mengolesi seluruh tubuhnya dengan tabir surya.
Marcya membelakkan matanya untuk mencegah kantuk. Tapi tidak bisa. Semilir angin pantai memaksanya hanyut ke dunia mimpi.
Baru lima menit yang lalu dia dan Marcel berada di tempat yang menggelikan sekaligus mencemaskan.
Sekarang sudah berselancar di alam mimpi. Berada di tepi pantai yang indahnya bukan main.
Di bawah rerimbunan pohon palem Marcya tertidur. Sejuknya mata yang terpejam, tak kalah sejuk dengan rimbunnya pohon pakis yang melindunginya dari terik siang hari.