The Class Meeting

The Class Meeting
Sedih



Marcel berjalan ke lemari. Mengganti pakaiannya yang basah karena keringat.


Mimpi yang mengerikan. Semoga saja hal itu tidak terjadi di kehidupan nyata.


Marcya terbangun karena suara pintu lemari yang berderit.


"Apa yang kamu lakukan di malam hari, sayang?"


Marcel menoleh padanya.


"Berganti pakaian."


Marcel kembali ke tempat tidur.


“Mengapa kamu mengubahnya?”


Marcya menyipitkan matanya.


"Saya mengalami mimpi buruk dan terbangun dengan keringat bercucuran di tubuh saya."


Marcya memeluk tubuh kekasihnya.


"Merasa lebih baik sekarang?"


Marcya bertanya.


"Ya. Ayo kembali tidur."


Kata Marcel.


Marcya dan Marcel kembali memejamkan mata.


Karena takut bermimpi, Marcel memeluk Marcya erat-erat.


Marcya bisa memahami apa yang dirasakan Marcel. Marcya balas memeluknya. Mencium kening Marcel dengan lembut.


Mereka tidur sambil berpelukan. Di bawah selimut wol tebal.


****


Matahari pagi bersinar terang. Saat Marcel terbangun dengan ciuman Marcya di kepalanya.


Begitu melihat wajah kekasihnya begitu dekat, Marcel memeluk tubuh mungilnya di dadanya.


Nafas mereka beradu dan bersaing dengan udara dingin yang masuk melalui jendela. Ternyata Marcya sudah membuka jendela sejak dia bangun.


Aroma rerumputan yang basah oleh embun tercium dari ranjang.


Aromanya meresap ke dalam. Jernihkan hati dan pikiran.


"Aku rindu rumah kita."


Marcya berkata dengan suara lembut.


Berbaring di dada Marcel sambil memainkan rambut Marcel.


“Apakah kamu ingin kembali?”


“Apakah kamu sudah menenangkan pikiranmu?”


“Tidak apa-apa. Tapi bukan itu masalahnya.”


"Jadi?"


"Tempat berikutnya."


"Ya... aku tahu maksudmu."


Harus memilih sesuatu yang tidak terlihat. Seperti merasakan udara. Jika terlalu fokus, pasti ada dua kemungkinan di depan. Kalau tidak menguntungkan atau sebaliknya.


Seperti bermain judi. Sebelum bermain, Anda harus siap kalah atau menang.


Tapi ini bukan perjudian.


Pilihan yang sulit bagi Marcya dan Marcel. Mereka bertanya hampir setiap hari namun selalu berakhir dengan penundaan.


"Lupakan saja dulu. Ada halaman luas di belakang. Kita akan bermain-main di sana. Sepertinya ada kolam ikan."


"Kamu ke sana dulu. Aku mau mandi sebentar."


Kata Marcya.


"Oke."


Jawab Marcel lalu berjalan keluar menuju halaman belakang.


Halaman belakang yang luas. Ada ayunan besi besar yang diletakkan di tengah taman. Di sampingnya ada pohon mangga yang besar. Dedaunan lebat membentuk bayangan pohon di bawah ayunan. Marcel dengan santai naik ke ayunan. Dan ayunkan hingga memantul maju. Tidak terlalu tinggi karena hanya untuk menenangkan pikirannya.


Angin sepoi-sepoi mengiringi ayunannya. Membawa aura ketenangan pada jiwa dan raga.


Ibarat kehidupan, kadang maju, kadang mundur.


Marcya datang membawa makanan ringan dalam toples. Serta 2 botol minuman kemasan.


Terdapat gudang khusus makanan dan minuman di dalam rumah. Kira-kira cukup untuk persediaan sebulan.


Rafael dan Chraterine sangat memperhatikan hal ini. Saya dengar sering terjadi badai yang berlangsung berhari-hari. Menyebabkan warga tidak bisa keluar rumah.


Oleh karena itu, mereka mempersiapkan perbekalan rumah sebelum badai datang.


Dan ruang bawah tanahnya sangat luas. Tertata rapi layaknya ruang keluarga.


Marcya termenung di bawah jendela kamar. Melihat pemandangan pantai yang sebentar lagi senja.


Rumah besar dengan segala fasilitasnya masih belum mampu menutupi perasaan sedih Marcel dan Marcya.


Tinggal di sini dan orang-orang mengenal mereka sebagai tuan rumah yang sebenarnya.


Tidaklah terlalu sulit. Tidak ada tantangan yang membutuhkan tenaga ekstra untuk berpikir.


Seharusnya lebih menikmati. Dengan mobil kita bisa berkendara kemana saja. Di seluruh Yunani. Uang siap digesek kapan saja.


Ternyata memiliki sesuatu yang bukan milik sendiri rasanya seperti ini. Mengapa bisa terjadi? Semakin memikirkannya semakin tidak terjangkau otak.


Namun untuk hal lain semakin banyak berpikir, semakin banyak menemukan solusinya.


"Hei, apa yang kamu lakukan di sini, sayang?"


Marcya terkejut dengan pertanyaan Marcel yang tiba-tiba.


"Oh hei sayang... aku sedang melihat pemandangan di luar."


"Jangan bohong, aku bisa melihatnya di matamu. Kamu sedih kan? Katakan saja.."


"Aku ingin tahu apakah kita bisa kembali ke rumah kita?"


“Percaya saja kita bisa melakukannya.”


"Jentikkan jarimu.."


"Sekarang?"


"Ya.."


"Siap?"


"Kamu harus siap."


“Hehe…apakah kamu siap?”


"Ya! Kenapa kamu terlihat ragu-ragu?"


“Bagaimana jika kita berada di tempat yang tidak nyaman?”


"Jetikkan jari lagi.."


"Oke..Siap.. 1..2..3.."


Marcel menjentikkan jarinya.


klik..klik..


Marcya dan Marcel melihat sekeliling. Melihat dinding kayu di keempat sisinya. Dengan atap jerami dan luas sekitar 4x3 meter persegi.


Terdapat furniture seperti perlengkapan camping. Persediaan bahan baku makan dan minum ada di pojok ruangan.


Kompor portabel kecil ditata di atas meja. Dipasangkan dengan piring dan gelas plastik.


Marcel berjalan menuju pintu kayu yang terbuka lebar. Ketika dia sampai di dekat pintu, dia melihat ke bawah. Ternyata mereka berdua berada di rumah pohon. Kurang lebih 2 meter diatas permukaan tanah.


Sebuah tangga kayu terletak di antara rumah pohon dan tanah. Bersandar pada batang pohon. Seperti pohon Akasia.


"Kita di rumah pohon, sayang."


"Saya kira demikian."


"Bagaimana? Aku jentikkan jariku lagi?"


"Hmm, rasanya unik sekali tinggal di sini."


Ucap Marcya sambil melihat ke seluruh hutan yang terlihat dari rumah pohon.


Banyak pohon-pohon besar disekitarnya. Ada juga pohon yang sedang berbuah.


Tampaknya hutan ini tidak seliar hutan pada umumnya. Ada jalan setapak yang terlihat sering digunakan. Mungkin bagi warga desa yang sedang mencari kayu bakar.


Jalan itu jelas tidak ditumbuhi rumput hutan dan semak belukar. Ada beberapa dandelion yang menambah jalan semakin cantik. Bunga yang sering di buat mainan saat kecil. Seperti meniup gelembung yang terbuat dari sabun.


Marcel mendekati Marcya dari belakang.


“Bukankah menakutkan tinggal di sini?”


Marcel bertanya.


"Saya tidak tahu?"


“Maksudku, kamu tidak takut untuk tinggal di sini?”


“Ayo kita coba dulu. Sepertinya menyenangkan.”


"Aku ngeri, Sayang. Ini tidak seperti rumah pada umumnya."


"Hahah...coba sehari saja ya?"


"Oke."


Marcel menghampiri kasur kecil yang untuk tidur dua orang saja terasa sangat sempit.


Mau tidak mau mereka membaringkan tubuhnya di kasur kecil itu.