
Marcel sampai di Basilicata dengan Castela. Sambil menenteng kamera kebanggaan masing-masing mereka menjumpai anak-anak yang sedang bermain di sekitar Lucanian.
Bukit gersang yang di tumbuhi sedikit rumput itu bila sore hari sangat cocok untuk tempat bermain.
"Halo anak-anak? Mau di foto?"
"Mau Om."
Marcel tersenyum ramah pada mereka. Sembari menata posisinya dia mengajak bercanda. Anak-anak yang begitu mudah menyetujui saat mereka mau di ambil gambarnya. Tanpa ada pikiran yang aneh-aneh menghiasi benak mereka.
Sesudah tertata rapi Marcel dan Marcya bersiap untuk memotret.
3 kali shoot akhirnya mendapat gambar yang terbaik. Marcel berdecak kagum dengan latar belakang yang natural. Walaupun hanya sebuah bukit gersang tapi tetap indah ketika di foto.
Anak-anak bersorak melihat gambar mereka. Satu buah foto aku serahkan pada mereka.
"Doain ya dek.. Supaya fotonya laku."
"Emang mau di jual ya Om?"
"Iya.. Nanti kalau laku uangnya Om bawa ke sini."
"Kok di bawa ke sini?"
"Iya ga papa... Buat kamu dan teman-teman kamu semua yang ada di sini."
"Oh gitu. Ya udah Om.. Aku permisi pulang dulu ya?"
"Kan masih sore. Matahari belum terbenam."
"Rumahnya agak jauh Om."
"Ooh takut kemalaman?"
"Iya. Mari Om."
"Oke.. Hati-hati di jalan ya?"
"Okee."
Anak berperawakan kecil dan kurus itu berlalu dari hadapan Marcel dan Castela. Di ikuti 3 temannya dari belakang.
"Hey tumben diem?"
Tanya Maercel.
"Heheh.. Ga papa.."
Jawab Castela.
"Ayolah.. Siapa tahu aku bisa memberi sedikit ketenangan dalam benakmu saat ini."
Castela memperhatikan Marcel. Memang saat ini dia ada masalah. Tapi mengetahui Marcel yang perduli dengannya membuat Castela tersenyum lebar. Dan itu mampu mengusir rasa sedihnya walau masih meninggalkan sedikit kepedihan.
"Halo?"
Sekali lagi Marcel menyapanya.
Ingin Marcel memegang bahu Castela. Tapi dia masih ingat Marcya di sana.
Dalam hati Marcel tertawa. Ternyata dia masih mampu menjaga kesetiaannya. Di saat bagus seperti ini biasa di manfaatkan oleh setan mempraktekkan jurus-jurus rayuannya.
Castela memandang Marcel dalam-dalam.
Matanya begitu indah dengan pancaran kesedihan yang dalam. Hanya untuk beberapa saat saja. Setelah sekian detik rasa itu seperti menjalar ke seluruh tubuh Marcel.
Dadanya ikut merasakan nyeri.
Ohh bull ****!!! Mana mungkin terjadi?!
Sinyal transparan yang terjadi begitu saja. Tanpa permisi, tanpa ada kata-kata. Mengalir bagaikan sungai gunung yang mengalir deras dan bebas menuju air terjun di bawahnya.
Mencoba menolak rasa itu. Rasa yang tidak seharusnya datang pada waktu yang tidak tepat.
Marcel segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Castela yang melihatnya menoleh dengan tiba-tiba itu menjadi bingung. Tapi segera di usirnya berbagai prasangka yang tidak bisa di pertanggung jawabkan kebenarannya.
"Ceell...?"
Suara Castela yang serak-serak basah membuat Marcel semakin nervous di dalam hati. Untungnya dia di takdirkan punya cover laki-laki. Yang sudah biasa menutupi perasaan yang sesungguhnya terjadi pada dirinya.
"Iya?"
Tanpa menoleh Marcel menjawabnya.
"Wooiii!!!"
Dengan tidak sabar lagi Castela memukul bahu Marcel agak keras. Lalu membalikkan badan Marcel sehingga menghadap ke wajahnya.
Tegas sekali...
Bisik Marcel di dalam hati.
Wajah mereka berdua saling berhadapan. Dekat sekali. Bersamaan dengan redupnya sinar matahari yang beranjak ke peraduannya.
Castela tergagap sendiri. Melihat Marcel yang begitu tenangnya memandang langsung ke arah kedua bola matanya.