The Class Meeting

The Class Meeting
My beloved Momy



"Helooo Mom.. I'm home."


Teriak Castela kepada Mamanya.


Di peluknya Mama yang terlihat masih jelita di usia setengah abadnya. Tersenyum melihat anak perempuan satu-satunya datang sambil berteriak. Menenteng kamera kesayangannya. Yang di belikan suami tercinta setahun sebelum almarhum meninggal.


Wajah Castela yang mirip sekali dengan almarhum, membuat Nyonya Magdalena merasa kalau suaminya masih setia disisinya.


Karakter Castela juga mirip. Dia selalu bercanda tentang apapun. Suasana rumah menjadi sangat ramai walaupun mereka cuma berdua.


"Ma.. Tadi Tela dengan Bleky pergi ke Basilicata."


"Ada pemandangan bagus disana?"


"Banyaakk.. Bangunan-bangunan kunonya masih terlihat cantik dan menawan."


"Mana coba Mama lihat."


Castela mengeluarkan foto-foto hasil jepretannya. Separuh di bawanya yang separuh lagi di bawa Blekly.


"Ini Ma..."


Mama menerimanya dan melihat foto-foto itu.


"Bagus-bagus. Kamu pintar sekali mengambil gambarnya."


"Kira-kira laku ga Ma?"


"Mau di jual?"


"Iya.. Buat ajang amal di Basilicata."


"Kamu panitia?"


"Hahhah... Cuma berdua saja. Aku dengan Blekly."


"Hhmm.."


"Kenapa Ma? Ada yang aneh?"


"Engga sih. Tumben saja kamu bisa dekat sama cowok."


"Karena seprofesi. Itu saja."


"Lebih juga tidak masalah."


Castela tersenyum tersipu.


"Mana? Ada fotonya tidak?"


"Siapa?"


"Teman seprofesimu itu."


"Tidak ada."


"Besok di foto ya?"


"Buat apa?"


"Ingin melihat saja."


"Aku ajak kesini saja."


"Memangnya dia mau?"


"Yakin?"


"Kenapa? Dia baik."


"Siapa tahu dia malu."


"Hahhahh seperti anak kecil saja pakai malu segala."


"Beberapa orang tidak mau menjadi lebih dekat. Mereka hanya membatasi hubungannya sebatas teman seprofesi saja."


"Hemm.. Profesional sekali Ma."


"Sudah menjadi prinsip hidup mereka."


"Prinsip hidup tidak sekaku itu Ma."


"Itu kan kamu. Tidak bisa di samain dong."


"Rasanya Blekly tidak sekaku itu deh."


"Semoga saja tidak."


"Hahahh... Mama ingin banget ketemu?"


"Penasaran saja siapa yang berhasil mendekati kamu. Bisa pergi berdua saja dan mengadakan acara besar berdua saja."


"Acara besar?"


"Ajang amal itu besar lho. Tidak semua orang muda yang bisa peka dengan keadaan sekitarnya."


"Maksudnya acuh tak acuh gitu?"


"Seperti itulah kira-kira."


"Tapi Blekly tidak acuh."


"Makanya.. Mama penasaran."


"Iyaa.. Besok Castela ajak ke sini."


"Mama akan masak lebih banyak besok. Menu kesukaanmu dengan Papa."


Castela mencium kening Mamanya. Masih saja sama seperti dahulu. Kebiasaan keluarga mengajak tamu yang datang untuk makan bersama selalu menjadi prioritas.


Menghormati tamu sama dengan menghormati tuan rumah. Bila tamu merasa nyaman bertandang ke rumah mereka akan kembali lagi.


+++


Marcel berbaring di kursi malas dekat taman anggrek. Hawa di sini nyaman sekali. Olivia mendesign layaknya bedroom outdoor. Ada bed medium terletak di atas rumput. Dengan kursi malas panjang di sebrangnya. Taman yang di dominasi bunga anggrek menandakan si pemilik sangat mencintai bunga ini.


Air terjun kecil mengucur di belakang bed. Suara gemericiknya membuat mata Marcel mengantuk. Perlahan dia pejamkan mata dengan headphone hijau tosca gelap bertengger di kepala.


Wajah tampannya semakin mempesona dengan jambang yang sengaja tak dicukur selama 3 hari.


Marcya datang... Melihat Marcel dengan matanya yang sedang terpejam.


Sudah tidur atau hanya tiduran? Marcya hendak menyentuhnya tapi ada rasa sungkan menjalar tiba-tiba di lubuk hatinya.


Kenapa ada perasaan ini sekarang? Serasa baru kemarin mereka berkenalan.


Marcya memundurkan langkahnya. Beberapa langkah ke belakang kemudian berbalik arah menuju ruang makan.