The Class Meeting

The Class Meeting
Churros



Angin hutan membuat mereka tertidur lelap.


Hingga senja datang Marcel terbangun dengan ruangan pondok yang setengah gelap.


Dia meraba-raba keja mencari lentera. Pasti tersimpan di dalam meja.


Marcel menemukannya di laci meja. Sebuah lentera yang masih banyak minyaknya.


Di ambilnya lentera itu lalu menyalakannya.


Sinar terangnya menyinari seluruh ruangan.


Menimbulkan rasa hangat di tengah dinginnya hutan.


Nyamuk-nyamuk sekejap menghilang. Marcel meneruskan tidurnya. Dan semakin lelap dengan temaram lentera yang menyejukkan.


+++


Ayam hutan berkokok menandakan pagi hari telah datang.


Marcya beranjak dari kasur.dan membuka jendela. Embun pagi tercium sampai ke hidungnya.


Hhmm ternyata bisa nyenyak sekali tidur di sini.


Bisik Marcya.


Kicau burung hutan membangunkan Marcel dari tidurnya.


Melihat Marcya berdiri.di dekat jendela, dia menghampirinya.


“Sayang, ayo jalan-jalan di hutan.”


Marcel mengajak Marcya.


"Bagaimana kalau kita tersesat?"


"Kita bisa menandai jalan yang kita lalui."


“Ingin melihat kota?”


"Ya. Katamu pemilik rumah kayu ini orang Spanyol."


"Aku membaca di buku hariannya."


“Itulah mengapa kita harus mencoba pergi ke kota.”


“Kita bahkan tidak punya uang.”


"Kemarin aku melihat dompet tebal di laci. Mungkin berisi uang."


"Laci yang mana?"


"Laci paling bawah itu sendiri."


Marcya mendekati meja dan membuka laci paling bawah.


Marcya membuka dompetnya dan melihat ada uang tunai sekitar $100. Ada beberapa kartu debit juga.


"Ayo pergi sekarang."


"Ayo."


Marcya dan Marcel berjalan keluar berurutan karena tangganya hanya cukup untuk satu orang.


Keduanya berjalan beriringan di sepanjang jalan setapak. Memberi tanda di sepanjang tepi jalan.


+++


Telah berjalan sekitar 16 kilogram. Belum tampak peradaban kota. Terus berjalan ke depan. Ketika mereka sampai di sebuah tikungan jalan yang berkelok, mereka bertemu dengan seorang lelaki tua berpakaian sederhana.


"Permisi tuan... saya ingin bertanya sebentar."


"Ya silahkan.."


“Apakah ada kota di depan?”


“Oh, ada… sekitar satu kilometer ada sebuah toko kecil. Setelah itu ada perumahan.”


"Baik pak... terima kasih."


"Terima kasih kembali."


Kurang dari satu jam, Marcel dan Marcya tiba di toko kecil itu. Istirahatlah disana. Minum teh dan makan sepotong roti.


Dari warung ini terdapat angkutan umum yang mengangkut penumpang menuju kota. Jaraknya pun cukup jauh. Untung ada angkutan umum. Kaki yang lelah dapat beristirahat sejenak.


"Sayang, setelah sampai di kota kita beristirahat saja disana."


"Benar. Tidak mungkin kita bisa pulang. Ini sudah hampir malam."


Kurang dari satu jam angkutan umum sudah memasuki gerbang kota. Gerbang bertuliskan selamat datang terlihat sangat jelas. Mobil berhenti di pinggir jalan yang sangat ramai dengan pedagang kaki lima. Pejalan kaki pun ikut meramaikan suasana desa yang terkesan tenang dan damai.


Melihat sekeliling pedesaan yang dikelilingi pegunungan. Berputar-putar mengagumi keindahan desa sambil mencicipi churros.


Makanan khas Spanyol disantap dengan saus atau coklat. Ditemani dengan sebotol sangria. Minuman berbahan anggur merah yang populer di kalangan penduduk desa.


Marcya berjalan sambil menyandarkan kepalanya di bahu Marcel. Sangat romantis. Marcel mencium kepalanya dengan penuh kasih.


Melalui perjalanan panjang tanpa akhir yang tak terlihat. Bisa menikmatinya dengan senang hati merupakan sebuah kebanggaan tersendiri.


"Aku sangat mencintaimu, sayang."


Marcel membisikkan kata-kata itu pada Marcya. Bertanya-tanya bagaimana dia bisa melalui perjalanan yang tidak jelas ini tanpa menangis. Salah satu manusia istimewa di dunia ini.


Aku semakin mencintainya. Lebih dan lebih...


Tuhan memberkati kita selalu. Aamiin.


Bisik Marcel dalam hati.