
Jam sebelas siang... Rumah sudah sepi. Tinggal Marcel sendiri yang barusan bangun tidur.
Menuju ruang makan. Tampak di meja sudah di siapkan sejumlah makanan untuk sarapan.
Marcel mencomot udang goreng bago yang tampak menggoda selera. Di tutulkan pada saos barbeque kesukaan Marcel.
Hhmm ternyata Marcya masih ingat makanan kesukaanku.
Marcel menarik kursi lalu duduk dan menyantap makanannya.
Sesudah makan Marcel mencicipi puding buah yang masih terasa dingin.
Ternyata Marcya dan Olivia belum lama perginya.
Manis banget pudingnya. Ah namanya juga puding. Menu penutup makanan yang selalu terasa manis.
Separuh puding di habiskannya. Perut terasa penuh sekali. Marcel beranjak ke kamar mandi. Rencana hari ini Marcel ingin mengeksplor pemandangan street foods yang ramai pengunjung. Dengan background gedung-gedung tinggi berasitektur cantik dan berdiri dengan megah.
Italia yang mengagumkan.
Marcel tidak mengenderai mobil seperti biasanya. Ada motor HD yang parkir di garasi.
Jalan-jalan di kota lebih asik menggunakan motor.
+++
Tiba di Sicilian street foods yang terkenal dengan snack, makanan tradisional, pasta, sandwich, burger dan pastrynya.
Salah satu masakan tradisionalnya adalah arancini. Bentuknya bulat seperti ladu. Makanqn kecil khas India. Warnanyapun hampir sama.
Terbuat dari roti dengan isian yang fresh seperti daging babi, mayo, mozarella dan tomat. Dengan saus khas spanyol yang biasa di sebut bechamel.
Dan pastry terkenal yang paling lezat adalah cannoli. Baker Italia membuatnya lebih manis dengan tambahan gula, manisan dan remahan coklat. Cangkangnya di panggang sampai super renyah. Penampakannya sangat berbeda dengan pastries France.
Pastries france terlihat lebih kering.
Ada lagi pasta yang terkenal dengan nama pasta alla norma masakan asli dari catania. Biasa di sajikan dengan terong goreng dan salty chees riccota.
Marcel yang sebelumnya tidak begitu menyukai kuliner, semenjak di Italia menjadi suka dengan makanan-makanan lezat ini.
Mungkin karena tempatnya sudah menarik terlebih dahulu. Banyak pejalan kaki.yang selalu berkunjung di street foods.
Jadi bersemangat untuk mencicipinya.
Berbagai street foods yang berjajar-jajar di abadikan oleh Marcel. Dari berbagai sudut pandang dia memotretnya.
Setelah di foto Marcel mencoba menawarkan hasil fotografinya pada para pejalan kaki.
Ada yang langsung membelinya. Ada yang minta di foto secara pribadi.
Gedung-gedung tinggi peninggalan sejarah kuno sangat indah di jadikan background.
Marcel menghitung penghasilannya. Lumayan juga. Ada 6 orang yang minta di foto. Uangnya sekitar 46,5 euro.
Sedang menghitung uang dari hasil fotografi, ada seorang anak kecil yang berlari mendekati Marcel.
"Om.. Om.. Aku mau di foto dong.."
Anak laki-laki kecil.yang mengenakan pakaian sederhana itu bertelanjang kaki. Umurnya sekitar 7 tahun. Tampaknya seperti tukang bersih-bersih restaurant.
"Okee.. Namamu siapa?"
Kata Marcel.
"Alessio."
"Nama yang bagus. Nice to met you."
Salam Marcel sambil mengelus rambut Alessio.
Little angel bergaya di depan satu gedung tua yang di depannya ada penjual cannoli.
Di fotonya Alessio beberapa kali. Setelah jadi, di serahkan foto-foto itu kepadanya.
Alessio berlari ke arah restaurant yang berada di tempat paling pojok. Melambai-lambaikan foto yang baru di dapatnya.
Terlihat senang sekali. Di pojok jalan terlihat dari jauh seorang ibu setengah baya yang menanti kedatangannya.
Mereka berpelukkan seperti lama sudah tidak bertemu. Begitu hangatnya hubungan mereka.
Hhmm masih sekecil itu sudah bekerja?
Marcel salut sekali kepada anak kecil yang bernama Alessio.
Sambil beristirahat siang dan berteduh di salah satu tenda street.foods, Marcel memandang sekelilingnya. Matanya berhenti pada satu sosok wanita yang sedang mengambil foto di area street foods.
Bisik Marcel dalam hati.
Seolah ada energi maghnetik yang menarik wanita tersebut berjalan ke arah tenda yang sedang aku gunakan untuk berteduh.
Wanita tersebut melihatku lalu tersenyum dari kejauhan. Melihat kamera yang berada di atas meja dia langsung berjalan ke arahku.
"Hey..namaku Castela Soprano. Apa kabar?"
Greeting yang sudah umum di antara para pendatang dari negara asing.
Mungkin melihat wajah Marcel yang tidak seperti wajah orang Italia. Wajah Marcel cenderung ke middle east. Yang berwajah tirus, bermata belok dan berjambang lebat.
"Hey... Namaku Blekly Cordon. Senang bertemu denganmu."
"Asli Italia?"
"Hm Iya."
"Oh aku sangka bukan orang Italia."
"Heheh."
"Fotografer juga?"
"Baru latihan."
"Hahha.. Jangan merendah."
"Swear. Masih sedikit ilmuku."
"Yang penting hoby kan?"
"Hahha.. Kok tahu?"
"Tahulah."
"Boleh aku duduk di sini"
"Oh boleh.. Boleh silahkan."
Marcel berdiri dan beralih ke kursi di depannya lalu menarik kursi itu ke belakang. Kemudian mempersilahkan Castela duduk.
Old fashion yang masih di gemari di era modern ini.
"Mau pesan apa?"
Tanya Marcel.
"Tapas saja dengan sebotol bir."
Marcel memesan 2 botol bir dan 2 tapas
Mereka asik ngobrol sampai sore hari. Persamaan hoby dan pandangan hidup yang hampir sama membuat mereka mudah akrab.
Saling bertukar nomer handphone dan kartu nama. Lalu berjanji akan bertemu lagi di pagelaran photofestival di milan.
"Okay.. We will met again. See you. Thank you for lunch. "
Esperanza berpamitan dan beranjak dari tenda.
"You are welcome. See youuu."
Teriak Marcel.
Marcel membaca kartu nama Esperanza. Castela Esperanza. Dia mengeja ulang nama yang tertera di kartu tersebut.
Kartu nama kecil bergambar wanita yang sedang memotret, bernuansa warna hitam dan putih. Dengan tulisan warna coklat susu.
Design sederhana untuk seorang fotografer lulusan The Istituto Italiano Fotogrfia atau IIF, Milan.
Walaupun Italia adalah negara maju ternyata masih ada kalangan terendah yang perlu di perhatikan. Tepatnya di sebelah selatan Italia.
Nama kotanya Basilicata.
Castela berniat mengunjungi kota tersebut dan memberikan sedikit santunan kepada anak-anak di sana. Dia mengutarakan maksudnya pada Marcel. Dan akan di realisasikan setelah photo festival.
Marcel menyetujuinya. Sehari sebelum photo festival Castela dan Marcel akan mengambil foto di area Basilicata. Di kota itu masih banyak pemandangan indah seperti rumah pedesaan, bangunan kuno, kuil, gua, bukit batu dan bukit indah yang di tumbuhi dengan rumput hijau yang jika di lihat dari atas terlihat seperti permadani.
Tempat-tempat yang bagus itu seperti tembok lucanian, desa craco yang tak berpenghuni, gereja SS triniti venosa, pedesaan oppido lucano, antara apulia, castelmelano atau sassi.
Tempat-tempat tersebut akan di foto dan di pajang di photo festival di milan. Hasilnya akan disumbangkan kepada masyarakat Basilicata.
+++
Sampai di rumah Marcel temenung dengan ide Castela. Masih muda umur masih 23 tahun tapi punya ide yang besar. Melihat hasil fotografinya tadi yang dia perlihatkan saat makan siang, membuktikan kelihaiannya dalam memilih sudut pandang untuk mengambil gambar. Pencahayaan yang tepat dan momen yang pas mampu menghasilkan foto yang sangat menajubkan.