
Marcel menutup novel tersebut. Berencana mau meneruskannya lagi nanti.
Cerita novel yang menarik. Favoritku sejak kecil. Berlatar belakang sebuah kerajaan dengan segala kemegahannya. Karya fiksi yang mampu menerbangkan pembacanya ke dunia hayalan si penulis. Yang paling laris memang cinta segitiga. Pertikaian dan persaingan yang mewarnai setiap lembar novel, membawa emosi larut di dalam arusnya. Salah satu peristiwa yang sudah umum. Tapi masih menjadi inspirasi bagi sebagian banyak novel writer.
Mungkin karena pembaca novel lebih suka cerita yang banyak pertikaian yang naik turun seperti rollercoster dari pada buku yang adem ayem tanpa tantangan.
Berjalan ke arah meja makan. Ada beberapa buah-buahan di atas keranjang kecil.
Ternyata apel dan jeruk.
Buah kesukaan Marcya. Ketika aku tanya kenapa lebih suka kedua buah tersebut jawaban Marcya betul-betul konyol.
POV.
"Kenapa suka apel.dan jeruk?"
Marcya melihatku. Menatap wajahku seolah baru kemarin kami bertemu.
Dan dengan tidak terduga jawabannya adalah,
"Karena bentuknya bundar."
"Melon dan semangka juga bundar. Apel malah ada lekukannya. Apalagi jeruk. Kadang malah benjol."
""Karena apel dan jeruk tidak ada yang besar."
Sontak Marcel tertawa mendengar jawaban seperti itu.
Dengan gemas di acak-acaknya rambut Marcya sambil terkekeh.
"Pamelo besar?"
"Itu kan di Italy bukan di Indonesia!!!"
Marcya tergelak.
"Sayang.. Kenapa sebutannya bukan orange ya?"
Tanya Marcya.
Marcel tak kuasa menahan gelinya. Dia memukulkan bantal kursi ruang tamu ke badan Marcya. Marcyapun lari ke dalam kamar dan mengunci pintu dari dalam.
Memang pukulan dari bantal tidak sakit. Tapi dia alergi dengan debu dari serpihan dakron yang keluar lewat pori-pori sarung kain bantal.
Hidungnya jadi gatal dan bersin-bersin tiada henti.
Tidak hanya dengan debu saja. Saat winter datang Marcya menghabiskan banyak tisu untuk menghapus ingus yang keluar.
+++
Teringat kejadian lalu itu di rumah sendiri. Menjadi rindu yang tak tahu kapan akan terobati.
Marcel menghela nafas. Lalu menghirup udara di ruangan ber-AC dengan pengharum ruangan beraroma apel hijau.
Pasti Marcya yang beli.
Gumam Marcel.
Agaknya Marcya memang sudah tenggelam dengan kesibukannya. Terlalu mencintainya. Dan tak ingin ada sesuatu yang lain yang datang mengganggunya.
Begitulah wanita independent. Seakan tak butuh kehadiran seorang lelaki di sampingnya. Sekalipun keberadaannya bertujuan untuk mendukung wanitanya.
Kokoh sekali pendirian seorang wanita. Hampir tak ada yang bisa menumbangkannya dengan segala cara apapun. Berdiri sendiri di atas kedua kaki kecil yang mengantarkannya setiap hari.
Watak asli Marcya semakin kelihatan. Yang dulu tidak pernah ada moment yang pas untuk di eksplor tanpa planing.
Kini terlihat gagah dengan kesehariannya. Marcya yang manja tidak pernah ditemui lagi. Saat ini terlihat dia tidak memerlukan kehadiran lelakinya. Dirinya sendiri sudah cukup. Kesibukan telah menyita seluruh waktunya. Jika sang waktu 24 jam per hari saja masih kurang memenuhi kebutuhannya. Mana ada waktu yang tersisa untukku?
Marcel berjalan melewati kamar Marcya. Terlihat dia sedang tertidur pulas dengan mendekap guling berbentuk boneka jerapah yang lucu.
Kulirik jam tanganku... 02.00 Am. Sampai lupa menutup pintu kamarnya. Kaos kakinya juga belum di lepas. Masih mendekap erat kedua telapak kakinya yang mungil.
Marcel menutup pintu kamar Marcya perlahan. Agar tidak menimbulkan suara berisik dan membangunkannya.
Semarah apapun Marcel masih memperhatikannya.