The Class Meeting

The Class Meeting
Festival Carnevale Venice



Castela sedang asik mengambil gambar di acara festival carnevale di Venice. Kali ini dia memenuhi janjinya mengajak Zahra ikut dengannya.


Berdua mereka sibuk mengambil gambar. Castela berjalan mundur untuk lebih memfokuskan bidikannya. Hingga menabrak seseorang.


Castela menoleh ke belakang,


"Ah kamu lagi?"


Suara Marcel yang khas membuat Castela tersenyum.


"Hey.. Kamu di sini juga?"


"Iya. Cantik-cantik semuanya ya? Kostumnya sangat mewah dan elegan. Apalagi topeng-topeng yang mereka gunakan."


"Yep. Sudah dapat berapa gambar?"


"Banyak. Eh, itu teman kamu?"


"Iya nih kenalin. Zahra namanya. Zahra ini Marcel."


Marcel mengulurkan tangan dan menjabat tangan Zahra.


"Marcel. Nice to met you."


"Zahra. Nice to met you too."


Tangan mereka bergenggaman beberapa saat.


Zahra tampak malu-malu memandang Marcel. Dia cepat-cepat melepaskan genggamannya.


Marcel tersenyum padanya.Ternyata Castela punya teman sepolos ini juga. Hampir di setiap kegiatan bersamanya Castela selalu terlihat sangat aktif. Tidak bisa diam barang sejenak. Ada saja yang di perbuatnya. Membersihkan kamera, memotret, memasang bingkai, makan cemilan, minum soda buah kesukaannya, membersihkan tas ransel gunung yang selalu di bawanya kemana-mana, dan lain-lain.


Pokoknya tidak pernah diam.


Terkesan hyper aktif tapi Marcel tak memperdulikannya. Dia lebih melihat sisi yang lain. Ketrampilan dirinya dalam mengambil setiap gambar.


Saat.di Milan foto yang di ambil di Basilicata laku keras. Hasilnya membuat anak-anak di sana gembira.


Pesta kostum dan topeng berlangsung sampai sore hari. Biasanya di adakan pada musim dingin. Memakai topeng dan kostum untuk menyembunyikan identitas diri. Alasan ini di ijinkan dalam festival tersebut.


Carnevale hanya di rayakan sehari saja. Masyarakat Italy bebas menggunakan kostum apa saja pada saat festival tersebut.


Selebihnya mereka sangat terbuka. Mencium pipi kanan kiri adalah hal biasa. Tidak memandang saudara atau orang asing. Bahkan gender sekalipun. Sangat ramah dan hangat. Rasa hormat antar sesama dan para orang tua sangat di junjung tinggi.


Keyakinan mayoritas di sini adalah katolik. Seiring dengan lahirnya Renaissance. Yaitu awal di mulainya perubahan besar-besaran di eropa.


Marcel dan kedua fotografer cantik itu beristirahat di sebuah kedai. Memesan tiga cup kopi dan curros.


"Kly...main ke rumah kamu yuk? Katanya punya kolam renang di rumah."


Castela berkata sambil menyruput kopi panas.


Blekly agak terkejut mendengarnya. Tidak masalah baginya. Hanya bingung bagaimana reaksi Marcya nanti.


"Ayolah.. Sekali-kali tak apa-apa kan?"


Desak Castela.


Karena tidak enak hati jika di pandang pelit akhirnya Blekly menyetujuinya.


"Habiskan dulu kopinya. Baru kita ke rumah."


"Kakak dan adikmu di rumah?"


"Mungkin..Tidak tahu persis. Kadang mereka pulang tengah malam."


"Baiklah. Zahra kamu ikut juga kan?"


"Iyaa aku ikut."


Blekly menoleh ke arah Zahra. Mirip dengan Marcya yang selalu ikut kemanapun Marcel pergi.


Sedih itu kembali menyapa.


Marcel menghela nafasnya.


Kebetulan...jika dua wanita ini aku ajak ke rumah, bagaimana reaksi Marcya. Jadi penasaran..


Marcel membuka handphone dan mengirim pesan pada Olivia. Mengabarkan bahwa dua teman wanitanya akan berkunjung ke rumah. Dan Olivia membalas dia tidak keberatan.


"Yukk.. Aku sudah ijin pada kakakku. Dia boleh."


Ajak Blekly.


"Yuuk.."


Kedua gadis itu beranjak dari kursi dan berjalan keluar kedai.