The Class Meeting

The Class Meeting
Suport



"Hari ini mau rencana kemana?"


Marcya bertanya pada kekasihnya saat selesai sarapan.


"Ada photo festival di Milan. Aku mau kesana."


"Sendiri?"


"Hmm..."


"Pulang jam berapa?"


Marcel menatap Marcya. Tumben... Sangat tumben sekali selama hampir setengah tahun dia sibuk dengan kecintaannya.


Sesinis itu yang terlintas di benaknya. Tapi apa daya semua iti tak bisa di ungkapkan lewat kata-kata.


Ketika cinta masih menduduki tempatnya tapi suasana telah berubah.


Hanya sekedar kiasan. Tapi prakteknya tak semudah itu.


Karena Marcel tak menjawab Marcya beranjak keluar rumah berangkat ke butik.


Di dalam mobil Olivia berkonsentrasi menyetir mobilnya menuju tempat usahanya.


Tak menyadari manusia di sebelahnya tengah mengalami pertarungan hebat di dalam benaknya. Pilihan yang sangat klasik. Sering terjadi di manapun tempatnya.


Antara karir dan cinta. Mana yang di pilih?


Saat sulit memilih ... bingung menentukan pilihan, kebanyakan memutuskan untuk memilih yang di tengah. Alias kata 'dan'. Khusus buat orang-orang yang suka melarikan diri dari tantangan hidup yang menghadangnya.


Terlihat seperti orang yang tidak pernah serius akan kehidupan.


Harus memilih satu. Tidak boleh dua.


Gimana kalau setengah-setengah?


1/2+1/2\=1


Jawaban orang yang ngeyel. Istilah jawanya seperti itu.


Dengan karir akan mendapatkan cinta.


Dengan cinta akan mendapatkan manusia.


Marcya lemas bersandar pada jok mobil. Belum tentu dia punya kesempatan untuk mengeksplor hobinya menjadi usaha yang menghasilkan.


Hanya sedikit kemungkinan yang menghadirkan rasa bosan dan jenuh.


Dari pagi sampai malampun tetap okay. Merealisasikan setiap inspirasi yang datang maupun yang di cari. Hingga Marcel yang melihatnya menjadi jengkel. Silent treatment.


Marcya menyadari perubahan Marcel. Dan dia berusaha memperbaikinya. Seperti yang dia lakukan tadi pagi. Tapi Marcel terlihat tidak meresponnya. Dan Marcya tidak ingin perdebatan yang menge-down-kan energi. Akhirnya dia memilih untuk pergi. Mungkin bagi Marcel, Marcya seperti tidak menghargai hubungan mereka. Terlihat dari wajahnya yang tiba-tiba menjadi masam.


Terkadang perasaan yang sedang dalam keadaan tidak stabil tidak bisa di ajak komunikasi dengan open minded. Mereka cenderung membenarkan diri sendiri. Jadi tidak berguna membahas masalah yang timbul. Bukan diskusi kalau hanya memuaskan satu belah pihak saja.


"Hey.. Melamun saja. Sudah sampai nih. Ayo turun."


Olivia membuka pintu mobil dan berjalan keluar.


Marcya terlonjak kaget dan ikut turun dari mobil.


Berdua masuk ke dalam butik. Di sambut dengan teman-teman kerja yang sudah seperti keluarga.


"Woooiiii selamat pagii kalian.."


Teriak mereka.


"Pagiii.."


Jawab Marcya dan Olivia bersamaan.


"Ada scedul apa hari ini?"


Olivia menoleh ke arah sekretarisnya.


"Meneruskan pesanan baju pengantin yang kemarin mba."


"Ok deh. Kalian bisa menyelesaikannya sendiri kan?"


"Insyaallah mba.."


"Good."


Olvia mengacungi jempolnya ke Zahara. Sekretarisnya yang sudah lama bekerja bersamanya.


Zahara Ramadhani. Gadis yang sudah berusia matang untuk sebuah momen pernikahan. Tapi tak kunjung mendapat pasangan yang pas. Pas menurut versi pribadinya. Karena dari segi financial Zahara sudah di bilang cukup. Atau mampu menghidupi diri sendiri. Cicilan rumah sudah hampir selesai. Mobilpun sudah lunas. Kedua orang tuanya sudah bahagia tinggal bersama kakaknya di Australia.


Apalagi yang di perlukan? Mungkin hanya kematangan emosi yang belum teruji. Karena belum ada lawan yang mencoba menguji kesabarannya.


Circle hidupnya selalu mensuport. Positif mindset. Selalu mendukungnya untuk terus memperjuangkan masa depan.