The Class Meeting

The Class Meeting
Mata mengantuk



“Apakah kamu sudah lama menjadi YouTuber?”


Marcel bertanya.


"Hampir 2 tahun."


“Apa tantangannya?”


Tanya Marcya sambil ngemil biskuit.


“Cukup lebih rajin mencari inspirasi untuk mengembangkan kreativitas.”


"Apakah kamu sudah menghasilkan uang dari konten?"


"Heheh...sudah 2 juta."


"Wah, itu lumayan."


"Ya. Apakah kamu ingin membuatnya juga?"


"Aku pengen banget. Tapi aku bingung mau buat konten apa."


"Apakah kamu punya ide, Kly?"


Olivia bertanya.


Marcel terperangah dengan percakapan mereka. Sepertinya dialah satu-satunya yang sadar.


Marcel dengan cepat mengganti topik pembicaraan. Sebelum Olivia menyadari inti pembicaraan mereka yang sedang berlangsung.


Cerdiknya Marcel membuat kedua gadis itu benar-benar teralihkan perhatiannya.


Marcya yang mempunyai ikatan batin menyadari apa yang baru saja dilakukan Marcel.


Tiba-tiba dia tertawa sambil menutup mulutnya.


Bersamaan dengan Marcel yang menggunakan humornya untuk mengalihkan obrolan.


Pembicaraan menjadi teralihkan. Mereka tidak lagi membicarakan YouTube. Asyik menanggapi cerita Olivia yang menceritakan liburan mereka bertiga di Amsterdam.


Karena Marcya dan Marcel tidak mengetahui cerita sebenarnya, keduanya hanya tertawa.


Hampir pagi. Tenggorokan mereka kering karena terlalu banyak tertawa.


Beberapa botol minuman instan telah habis.


Saking lelah dan ngantuknya, kedua gadis itu tertidur di atas karpet yang terhampar di lantai samping kolam renang.


Tidur di samping kolam renang ternyata mempunyai keunikan tersendiri.


Udara malam menjelang pagi begitu sejuk dengan beberapa pohon palem yang berjejer rapi di pinggir kolam.


Suara gemericik air terjun buatan di sudut kolam menambah suasana.


Mata Marcel terasa berat sekali dan ingin segera berbaring untuk tidur.


Mengapa menahan kantuk? Ada satpam di luar sana. Rumah besar ini akan tetap aman.


pikir Marcel.


Akhirnya Marcel pun ikut berbaring di karpet.


Dekat dengan Marcya.


Karena matanya masih sanggup menahan kantuk, ia menatap wajah kekasihnya.


Setidaknya dia tampak lebih bahagia. Meski mereka harus berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara. Atau akan salah memilih kalimat.


Marcel tertidur dengan senyuman di bibirnya.


+++


Terik matahari pada jam 9 pagi membangunkan mereka bertiga.


"Aku ingin pindah ke kamar tidur."


kata Olivia.


"Aku juga."


Marcya menimpali.


Karena Marcel terdiam... Marcya bertanya,


"Di mana kamu akan tidur sayang?"


"Tidur di sofa."


Suara yang Marcys yang masih mengantuk itu terdengar lirih dan hanya Marcel yang mendengarnya.


Olivia telah berjalan jauh dari Marcel dan Marcya melangkah maju menuju kamar tidur.


Olivia dengar atau tidak, mereka tidak peduli lagi. Kantuk mengalahkan segalanya.


Yang jelas konsentrasinya pasti turun drastis.


Ibarat mimpi...harus segera diwujudkan dan direalisasikan secepatnya.


Bayangkan jika seorang pengemudi yang mengantuk terus mengemudikan mobilnya.


Atau seorang tukang roti terus mengolah roti dalam oven panas.


Hampir sama maknanya dengan selamat pagi, selamat siang, selamat malam yang beraeti kalimat ucapan. Kecuali selamat malam yang diartikan untuk permisi tidur.


Namun di beberapa negara terjadi kesalahpahaman mengenai arti sebenarnya.


+++


Marcel menendang handphone Olivia yang tergeletak di meja dekat sofa.


Seketika dia terbangun dan mengambil handphone tersebut.


Karena terjaga tiba-tiba Marcel tidak bisa meneruskan tidurnya kembali.


Dia membuka handphone Olivia. Di lihatnya lagi rekaman yang tadi di buat oleh Marcya.


Di bukanya akun youtube Olivia. Selain permainan gitar akustik ada juga satu butik yang juga sering di buat konten. Tampaknya butik pribadi milik Olivia. Berbagai macam model fashion terbaru ada di akun tersebut.


+++


Termenung duduk di teras depan rumah. Dengan kedua tangan menopang dagunya.


Jika ditawari duluan, pasti dia tidak akan setuju.


Marcel menghampiri kekasihnya. Menutup matanya dari belakang.


"Aaahhh."


Marcya berteriak. Mencoba menarik tangan Marcel dari matanya.


Marcel segera melepaskan tangannya.


“Kenapa sih?”


"Hehh... hanya bercanda."


"Di mana Olivia?"


Marcia bertanya.


"Aku melihatnya di dapur."


Baru saja selesai bicara, Olive keluar dari ruang tamu.


"Hei, kalian mencariku?"


"Ya."


“Ayo jalan-jalan.”


"Kemana?"


"Rahasia... bersiaplah."


"Ayo berangkat saja, tidak perlu ganti baju. Kita sudah mandi dari pagi tadi."


Oke.Ayo pergi.


+++


Berjalan-jalan di perbelanjaan terkenal di Italia.


Semua merek fashion terkenal seperti Benetton, Diesel, Gucci, Dior atau Armani.


Pakaian dan sepatu dari desainer ternama.


Tas, aksesoris atau jaket berkualitas.


Dijual di toko-toko seperti Via del corso, Monte napoleone, Giovan Battista, Mercerie Venice, dll.


Marcya dan Olivia sibuk memilih pakaian branded. Sedangkan Marcel hanya duduk di bangku pinggir jalan depan toko.


Menikmati gelato, crepes, dan milkshake stroberi


Melihat pejalan kaki pergi berbelanja.


Marcel tampak menikmati pemandangan di hadapannya.


"Kita pulang sekarang?"


Suara Marcya terdengar di belakangnya.


Marcya hampir saja memanggil Marcel dengan sebutan sayang. Jika dia tidak ingat dengan cepat.


"Kly...bisakah kita pulang sekarang?"


Sebenarnya yang harus dimintai pendapat bukan Marcel melainkan Olivia. Karena merekalah yang sedang berbelanja.


Namun demi rasa sayangnya pada Marcya, Marcel menjawab...


"Pulang saja. Kalian berdua terlihat lelah."


kata Marcel.


"Oke. Ayo pulang."


kata Olivia.


Mereka berjalan menuju tempat parkir.


Tempat parkir otomatis ini tidak memiliki petugas parkir. Mereka hanya menggunakan mesin otomatis yang sudah diprogram sedemikian rupa sehingga pengunjung hanya perlu menekannya dan akan keluar tagihan parkir sekaligus karcisnya. Dan kemudian mereka baru bisa membayar tagihannya.


+++


Mobil Olivia dikemudikan oleh Marcel. Dengan kecepatan rata-rata mobil meluncur menuju rumah.


Olivia dan Marcya tertidur di dalam mobil. Olivia ada di sampingnya dan Marcya di kursi belakang.


Lucu sekali melihat Marcya duduk di jok belakang mobil. Seharusnya dialah yang duduk di depan.


Karena situasi saat ini berbeda dari biasanya, Marcel tetap diam.


Tapi dia tersenyum pada Marcya.


Aroma harum crepes menyebar ke seluruh mobil. Aroma keju, coklat, dan pisang menyentuh hidung Marcel.


Ia mengambil crepes dari kantong kertas yang diletakkan di tengah dashboard mobil.


Dimakannya perlahan. Crepesnya sungguh renyah.


Serenyah tawa Marcy yang selalu memandangnya penuh kasih sayang.


Tiba-tiba merindukannya. Padahal dia duduk di kursi belakang


Marcel berkata dalam hati sambil melirik ke kaca spion.


Cantik sekali dia dengan.baju pinjaman. Seperti anak konglomerat saja. Marcel membagi perhatiannya antara kaca spion dengan konsentrasi menyetir.


Instingnya mengatakan Marcya akan betah tinggal di persinggahan mereka kali ini.


Hidup berkecukupan materi dan perlengkapannya. Tidak begitu terjal jalan yang akan di lalui.


Tidak seperti di dunia pengemis yang kemarin mereka singgahi.


Serba kekurangan..Tidak melakukan apapun saja di hardik seperti pencuri hina.


Pakaian compang comping memang tidak pernah.di hargai. Kecuali di negri komik pendekar silat yang pernah aku baca dengan judul Raja Pengemis di serial kungfu.


Dan satu tokoh lagi yaitu Nabi Muhammad.