
"Good morning..."
Castela menyapa Marcel yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Morning.. Sudah bangun dari jam berapa?"
"Dari tadi. Sebelum matahari terbit."
"Oh..Zahra di mana?"
Tanya Marcel ketika dia tidak melihat Zahra di sekitarnya.
"Di dapur. Sedang membantu Abigail memasak."
"Abigail?"
"Iyaa..kenapa?"
Marcel hanya menggelengkan kepalanya. Lalu berjalan menuju dapur.
Melihat Marcya sedang sibuk di sana. Tumben sekali. Biasanya Olivia yang membuat sarapan pagi.
Pria yang biasanya terbangun setelah matahari meninggi ini, mengambil segelas air putih dingin di kulkas.
Meminumnya sambil melirik ke arah Marcya yang sedang memperhatikan dirinya.
Terlihat wajahnya yang keheranan. Memang Marcel tak biasa bangun pagi. Karena sudah biasa tidur setelah jam 5 atau 6 pagi.
Semalam dia bersama Castela tidur sekitar jam 4-an. Seharian di festival membuatnya lelah dan tertidur lebih awal dari biasanya.
Tak menyangka meski Castela seorang wanita tapi bisa begadang sampai pagi. Tidur hanya 1-2 jam saja kalau di hitung.
Dengan wajah yang ceria lagi. Biasanya orang yang bergadang mukanya selalu kusut. Mau sekedar say hello saja malas sekali. Badan terasa lemas dan hasrat ingin segera tidur mendesak agar segera di realisasikan.
"Selamat pagi.. Tumben sudah bangun?"
Sapa Marcya.
Mendapati Marcel yang hanya menggerakan sudut matanya saja, Marcya mencoba mendekati.
"Pagi."
Jawab Marcel.
Mengherankan kalau Marcya tidak hafal karakter asli Marcel. Memilih diam adalah prioritas utamanya. Dia akan kembali hangat setelah kesalnya melebur dan menghilang.
Sebelum itu siap-siap saja dengan penampilannya yang sangat dingin sedingin salju. Es batu masih kalah dingin. Es batu masih bisa mencair. Bagaimana dengan salju?
Pasti lama sekali.
Mengerti bahwa Marcel masih marah, Marcya tidak berusaha lagi mendekatinya. Kembali menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga barunya.
Bahkan petualangan tak terarah itu sudah mulai di lupakannya. Sedikit demi sedikit. Tanpa mengetahui perasaan Marcel yang masih menunggu harapan baru.
Gilaaa... Kamu terlihat enjoy banget di dunia ini. Seolah pernikahan tidak penting bagimu. Atau alternatif lain sudah menggantikannya? Seorang pengganti? Bahkan aku tidak ada kesempatan untuk memikirkan dan menggantinya. Walau hanya sedetik.
Sebelum emosinya memuncak lagi, Marcel segera keluar dari dapur.
"Heii mau kemana?? Ini sarapan sudah siap."
Teriak Zahra yang melihat Blekly berjalan keluar.
"Nanti saja."
Jawab Marcel tanpa menoleh.
Zahra menoleh ke arah Abigail.
"Blekly terbiasa tidak serapan?"
Tanya Zahra pada Abigail.
"Iya. Dia biasa sarapan di siang hari."
"Wow...kenapa dia bangun pagi hari ini?"
"Tidak tahu. Mungkin karena ada kalian."
"Hahahh... Di bangunkan Castela kali ya?"
Pendek sekali jawaban Marcya. Dia teringat semalam. Ketika melihat Marcel dan Castela sedang di kolam renang. Kebiasaan yang sering di lakukannya dengan Marcel.
Cemburu atau bukan. Yang jelas itu membuatnya tidak nyaman dan ingin segera kembali ke kamarnya.
Marcya menghela nafas.
Jika di pahami dengan benar-benar, sepertinya aku sendiri yang egois. Tapi malu untuk mengakuinya. Tidak mau mengakui kalau aku sendiri yang lebih memilih meluangkan waktu untuk kesibukanku daripada bersamanya.
Ketika melihatnya bersama wanita lain, lucu juga kalau aku marah. Untuk memperlihatkan kemarahaanku saja aku masih malu. Memang isyaratnya adalah jawaban atas pilihaanku sendiri. Konsekuensi terhadap pilihanku. Dan siapkah aku jika Marcel menerima yang lain sebagai penggantiku?
Marcya termangu mendengar suara hatinya yang sedang menerjemahkan hubungannya dengan Marcel.
Menjauh dengan sendirinya. Tanpa di rencana. Nasib yang tidak berpihak atau memang sebuah takdir yang tak tertolakkan.
Memudar begitu mudahnya seperti wenteran baju. Larut di dalam air dan membuat warnanya berkurang sedikit demi sedikit.
Jika memang sekecil itu arti cinta, orang bijak berkata itu bukanlah cinta. Ketertarikan akan sesuatu yang membuatnya mirip dengan cinta.
Karakter Marcya... Dia segera menepis sesuatu yang tidak bisa dia selesaikan. Meninggalkannya tanpa keputusan. Di biarkan menggantung tanpa memperdulikan seorang Marcel yang sedang menunggunya. Komitmen di antara dua orang dewasa bukanlah keputusan yang asal saja di ambil. Akan lebih mudah jika hal itu tanpa komitmen.
Bergegas menyelesaikan sarapannya. Castela melihatnya,
"Kenapa buru-buru?"
Tanyanya.
"Ada meeting di butik."
Abigail menjawab sekenanya.
Zahra dan Castela berpandangan.
"Marcel kamana?"
Tanya Zahra.
"Mungkin di kolam renang."
"Kita pulang sekarang?"
Ajak Zahra.
"Baiklah."
Jawab Castela.
Mereka berdua beranjak dari kursi berjalan keluar ruangan.
Bertemu dengan Abigail di depan ruang makan.
"Kami pamit pulang ya?"
Kata Zahra.
"Iya. Marcel sudah di pamitin?"
Castela dan Zahra melongok ke arah kolam renang.
"Ceellll...Kami pulang yaa.."
Teriak Castela.
Marcel beranjak dari kursi dan berjalan menghampiri Castela dan Zahra.
Sesampainya di depan mereka,
"Okee.. Take care yaa."
"Okee..Sampai nanti sore."
"Siipp."
Blekly dan Abigail mengantar mereka berdua sampai di depan pagar.
Menghampiri taxi online yang sudah di pesankan Abigail.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya kepada Blekly dan Abigail.