
Akhirnya sampai juga di Palermo. Para pengunjung yang sudah terlihat dari cara berpakaiannya adalah masyarakat dari kalangan atas.
Tentu saja Olivia dan Abigail yang punya butik terkenal tidak kalah modis dengan mereka.
Sebenarnya hanya model kaos gombrong dengan potongan lebar di leher dan lengan. Besar kaosnya menyesuaikan. Tapi dari serat kain bisa di lihat kalau bahan kainnya mahal.
Di padu dengan celana kain ketat yang melar. Berbahan katun yang lentur.
Setelan itu di pakai di tubuh Abigail.
Sedangkan Olivia mengenakan gaun pendek yang bawahnya melebar. Kalau dalam pelajaran busana sering di sebut rok dengan potongan setengah lingkar. Di hiasi dengan beberapa rempel besar-besar dari atas perut sampai bawah.
Keduanya menggunakan selop cantik ala aladin. Yang ujung depannya agak lancip. Cantik sekali di kedua pasang kaki perempuan itu.
Ga pernah janjian mereka akan menggunakan model selop yang sama. Karena tadi terburu-buru mengejar waktu agar lekas sampai di Palermo.
Kedisiplinan warga Italy tidak bisa di pandang remeh. Meski hanya sekedar janjian dinner dengan sahabat. Dimana seorang sahabat sudah di takdirkan untuk selalu bisa mentoliler segalanya. Semuanya bisa di maafkan dan di pertimbangkan.
"Selamat malam..."
Ucap Kemed. Hampir bersamaan dengan pria di sampingnya.
"Malaamm.."
Jawab kedua wanita yang baru saja duduk di depan Kemed dan saudaranya.
"Berapa lama kita tidak bertemu?"
Kemed tersenyum memandang Olivia dan Abigail bergantian.
Duuhh.. Benar saja! Ternyata Kemed mengenal Abigail dengan baik.
Di dalam benaknya Marcya resah. Dia harus menjaga setiap perkataannya. Memikirkan baik-baik lalu baru di ucapkan.
"Yang jelas dudah lama sekali. Aku tidak menghitungnya."
"Hahah.. Kenapa harus di hitung? Seperti matematika saja."
"Kamu kan yang menanyakannya?"
"Iyaa.. Bukan menyuruhmu untuk menghitung. Coba di ingat saja kapan terakhir kali kita ketemu? Abigail.. Kamu pasti masih ingat. Karena kamu lebih muda daripada Oliv."
Mendengar namanya di sebut, Marcya tersentak. Di tidak ingat apapun!
Untungnya Marcya cerdas. Dia mengalihkan perhatian dengan pamit ingin ke toillet.
Marcya setengah berlari menuju kamar mandi.
"Aduuhh biasaa deh kamu.. Kalau lagi ngobrol pasti gitu."
Sergah Oliv.
Sekali dayung dua pulau terlampaui.
"Hahah.. Iyaa ya? Abigail selalu begitu sejak dulu."
Kemed berkata.
Marcya mendengar lirih perbincangan mereka berdua.
Apakah aku memang di takdirkan untuk hidup di dunia ini? Untuk kesekian kalinya persamaan karakter antara Abigail dan Marcya menyelamatkan dirinya.
Marcya tidak buru-buru keluar dari toilet. Moment seperti ini membuatnya sering nervous mendadak.
Terllihat konyol di depan umum terkadang menurunkan moodnya dengan cepat. Selama ini masih bisa di kendalikan. Tapi terlihat bodoh terus menerus sepertinya sebuah improvisasi diri yang tidak membanggakan.
Takutnya akan menimbulkan kecurigaan. Di kala dia dan Olivia mengelola butik setiap hari dan otak harus penuh dengan segudang ide yang cemerlang setiap waktu.
Tentunya tidak segaris.
"Kenalin Liv...Ini anak Om aku yang akan tinggal di Italy."
Kata Kemed.
"Halo.. Namaku Ahmed."
Pria bertubuh proporsional itu berdiri mengenalkan dirinya, mengajak Oliv berjabat tangan.
Olivia menerima uluran tangannya dan menjabatnya, lalu berucap,
"Aku Olivia..selamat datang di Italy."
"Thank you.."
Ahmed kembali duduk di kursinya.
Olivia menoleh ke arah mana Marcya melangkah tadi.
Kemana Abigail... Lama sekali.