
Rindu tapi enggan menemui. Padahal obat rindu itu bertemu.
Tak pernah menyangka Marcel akan bertemu dengan dilema yang seperti ini. Sangat tidak mengenakan. Mood yang timbul ingin segera di lampiaskan. Entah memukul dinding atau barang yang terdekat.
Rinduku pasti mengganggunya. Belum pernah ada rasa seunik ini. Mungkin bisa terjadi pada perasaan sepihak saja.
Tapi ini bukan...
Eemm... Masa sih? Memang sekarang statusnya bagaimana?
Dalam hati berbisik.
Apakah masih tetap di sini? Satu keyakinan yang memastikan bahwa hatiku tidak sendiri.
Ternyata jawabannya adalah bimbang. Tidak seperti dulu lagi. Entah berkurang atau malah menghilang tanpa bekas. Sehingga sampai detik ini masih sulit di deteksi.
Dilema Marcel yang berlarut-larut. Ingin di puisikan dengan banyak halaman menjadi satu buku.
Ssshhhh...
Desah Marcel.
Ketika panas di kepalanya menjalar ke dalam dadanya.
Marcel segera membuka kulkas. Ada sisa minuman botol yang mengandung sedikit kadar alkohol. Hanya sekian persen. Tapi cukup untuk melawan panas di dada dengan panas alkohol.
Harusnya semakin berkobar ya? Tapi Marcel malah tertidur nyenyak di tepi kolam renang.
Di atas kursi pantai yang panjang. Bernaungan sebuah tenda berbentuk payung yang cantik dengan rumbai-rumbainya.
+++
"Abigail... Nanti malam Kemed datang. Kita janjian di street food dekat rumah."
Marcya bingung sesaat. Lalu di tutupinya dengan berkata,
"Oh teman kakak?"
"Iyaa..dia datang dari Mesir."
"Oh.."
Jawabnya.
Yang jelas karena Marcya tidak tahu apapun tentang Kemed.
Bertanya lebih lanjut malah bisa menimbulkan kecurigaan.
"Nanti kamu ikut ya? Katanya Kemed mau mengajak keponakannya."
"Heemm? Iya deh."
Marcya bingung cara menjawabnya. Tidak bisa di bayangkan kalau Olivia, Abigail dan Kemed adalah sahabat lama. Pasti banyak moment-moment yang akan menjadi topik pembicaraan. Sedangkan Marcya adalah Abigail yang lain.
"Kamu siap-siap dulu. Dandan yang cantik."
"Ga ada acara apa-apa."
"Kenapa harus cantik?"
"Apa kamu ingin kelihatan jelek di muka umum?"
"Ada yang keberatan?"
"Ya tidak sih. Tapi membuat diri sendiri menjadi cantik juga tidak salah."
"Maka dari itu. Memandang orang jelek juga tidak salah."
"Kamu di bilangin malah gitu."
"Kan kakak tahu sendiri aku paling malas kalu di suruh dandan."
Uups..
Hati Marcya berdegup kencang.
Samakah kebiasaannya dengan Abigail?
"Iyaa.. Kakak sudah tahu. Itu kebiasaan kamu yang tidak pernah bisa hilang."
Aahh... Ternyata sama. Hampir sajaa...
Bisik Marcya di dalam hati.
"Cepetan mandi sana. Ga dandan juga ga papa. Kalau ketemu cowok cakep jangan nyesel kalau lihatnya cuman ke kakak saja."
"Alaahhh kenapa nyesel?? Bangga dong kakaknya yang cantik jelita di lirik orang."
"Beneran?"
"Yyyyaaa benarlah.. Namanya saja saudara sekandung. Masak iri-irian??"
"Siapa tahu? Dalamnya hati kan tidak ada yang memahami."
"Iyaa.. Hanya Tuhan yang tahu. Yailahh kaakkk... Serius amat. Bohong juga dapat apa coba? Perasaan kok di bohongi."
Olivia tergelak mendengarnya. Memang parasnya lebih cantik daripada adiknya itu. Tinggi badan yang hampir sama membuat mereka terlihat kembar. Demikian juga dengan postur tubuh dan rambut.
+++
Janjian di Palermo. Tidak jadi di dekat rumah.
Olivia dan Abigail naik taxi kesana. Karena mobil sedang di pakai Blekly.
Olivia meninggalkan pesan di note kecil yang di tempel di kulkas.
Blekly sayang... Kakak dengan Abigail ada dinner di Palermo. Mungkin pulang malam. Kalau lapar kakak sudah menyiapkan masakan di meja.
Mmuuaahh..