The Class Meeting

The Class Meeting
Friendship Day



Masih ada beberapa tempat wisata lagi. Marcel dan Calesta bergegas ke sana.


Tidak perlu banyak waktu untuk fotografer-fotografer berbakat seperti mereka berdua.


Dalam satu jam sudah banyak foto-foto yang di hasilkan. Foto-foto yang memuaskan dan tampak hidup.


Setelah memenuhi target Marcel dan Castela sebelum pulang rumah mereka mampir di sebuah kedai terlebih dulu.


Di kedai tersebut foto di masukkan ke dalam bingkai ukiran.


"Laku tidak ya?"


Tanya Castela.


"Namanya juga usaha. Yang penting tujuannya."


"Hahhah berarti ada dua kemungkinan ya?"


"Ya iyalah pakai nanya lagi. Kamu kok ga percaya diri gitu sih?"


"Heheh.. Kok tahu?"


"Hahahhh... Terbiasa jualan foto di pantai ya?"


"Iya.. Dan street food juga."


"Kamu kan jebolan dari situ?"


"Maka dari itu."


Marcel tertawa ngakak dan menempelang pipi Castela dengan lembut.


Setelah itu dia terkaget sendiri dengan gerakan spontanitasnya. Baru kali ini dia menyentuh wanita selain Marcya.


Melihat wajah Marcel yang tiba-tiba tersentak kaget Castela gantian tertawa. Muka tampannya jadi tambah cute. Sebenarnya dia gemas dan ingin mencubitnya. Tapi di urungkan niatnya itu. Marcel saja kaget apalagi dirinya. Apalagi para pengunjung kedai pasti mereka jadi heboh.


Sambil menikmati tawa lucu Castela, Marcel meneguk segelas milkshake strwbery. Milkshake itu sudah gelas kedua dari yang sudah di minumnya semenjak mereka datang ke kedai yang unik sekali itu.


Bagaimana tidak unik? Para pengunjungnya benar-benar heboh. Para waitres hanya diam dan tersenyum-senyum melihat pengunjung setianya.


Meja di sebelah pojok sedang merayakan ulang tahun seseorang. Kelihatan dari kue ultahnya yang tinggi menjulang. Beberapa pengunjung mengelilinginya. Bernyanyi keras sekali. Seolah itu konser terhebat yang harus totalitas.


Setelah itu lempar-lemparan gandum dan cream kue tart. Tidak perduli cepret sana cepret sini. Ternyata tempatnya sudah di booking oleh yang ultah. Teman-temannya terlalu bersemangat. Hingga tak memperdulikan pengunjung lainnya. Terkena cepretan atau tidak.


Marcel dan Castela mendengar cerita mereka. Sebab mereka berdua berada di dekat mejanya.


Perbincangan mereka...


"Wah kamu memang beruntung sekali ya guys. Tiba-tiba mendadak jadi Bos."


"Gimana lagi. Masak rejeki di tolak."


"Uangmu pasti bertambah banyak nanti."


"Iya lah."


"Mau buat apa?"


"Rahasialah."


"Jangan lupain aku lho."


"Mana mungkin aku lupa."


"Siapa tahu.. Biasanya kalau sudah duduk lupa berdiri."


"Kalau aku enggalah. Aku kan tipe setia."


"Pergaulanmu nanti kan jadi berbeda."


"Tapi mereka bukan teman yang selalu menemaniku ketika aku sedang susah."


"Apa kamu masih mengingat susah bila kamu sedang berada di dalam kesenangan?"


"Hahah.. Pada umumnya sih engga ya. Tapi aku janji ga akan nglupain kamu."


Perbincangan ke empat pegawai swasta itu terdengar jelas di telinga kami. Bersahut-sahutan untuk mengingatkan bahwa mereka pernah bersama-sama saat keadaan susah.


Mereka memang tampak seperti sahabat karib. Yang selalu bertemu setiap hari dan mengobrol sana sini.


Entah sejak kapan persahabatan itu di mulai. Yang jelas ketika salah satu temannya berbahagia ketiga lainnya juga ikut berbahagia. Tidak ada pertemanan yang seerat Itu.


Pertemanan bukanlah permungsuhan. Jadi pelaksanaanya juga jauh berbeda.