The Class Meeting

The Class Meeting
Memories



Kemed pergi hendak membeli es krim. Dia pergi sendiri tanpa mengajak Ahmed.


Ahmed yang pendiam menikmati suasana setelah kejadian dramatis yang terjadi di depannya. Karakternya yang easy going menarik dirinya hanyut ke menikmati konten-konten di handphone.


Seolah tidak terjadi apa-apa dan tidak mau mencampuri urusan pribadi mereka. Hal itu membuat Olivia tidak merasa malu karena air matanya sudah tertangkap basah oleh orang-orang terdekat.


Abigail memecah keheningan,


"Kak.. Kamu kenapa terlihat sedih?"


Tanya Abigail meski dia paham apa yang sedang terjadi. Dan mengerti juga bahwa jawaban apa yang akan di dengarnya dari Olivia.


"Tidak kenapa-kenapa."


Sambil tersenyum mencoba menutupi kesedihannya.


Ahmed masih tenggelam dalam perselancaran dunia mayanya.


Terlihat mengacuhkan obrolan kedua wanita tersebut.


Meski tanpa sepengetahuan mereka berdua, Ahmed iseng membuka artikel dari google tentang solusi wanita yang sedang mengalami patah hati.


Tertulis dengan lengkap. Kenapa wanita bisa patah hati. Kenapa wanita sulit move on. Kenapa wanita bisa menyimpan perasaannya sekian lama. Berikut dengan solusi-solusi teraktual.


Kemed datang dengan membawa es krim di tangannya. Di berikan pada Olivia dan Abigail.


"Makanlah.."


Ujar Kemed.


Es krim di percaya mempunyai zat penenang di kala gundah gulana. Hormon bahagia meningkat beberapa persen setelah mengonsumsi.


Ketika Olivia asik menikmati es krim dengan Abigail saling berhadapan dan saling bergurau berduaan, Kemed menatap Olivia dari samping.


Bukannya aku tak peka. Aku hanya lebih mementingkan karirku dari pada percintaan. Maafkan keisenganku yang telah menggugah rasamu secara tidak langsung. Kamu lebih terlihat cantik dengan semua kesibukkanmu. Mari bersama-sama meraih impian kita masing-masing. Melihat sahabat kecilku berbahagia dengan hal yang di sukainya lebih membahagiakan. Dari pada menjalin hubungan dengan seseorang yang belum siap dengan sebuah komitmen.


Marcya melirik ke arah Kemed.


Matanya yang menatap Olivia dengan syahdu itu akan membuatnya semakin terjatuh ke jurang cinta. Bila Olivia mengetahuinya. Untungnya Olivia sedang menatapku.


Kata Marcya dalam hati.


Segera di alihkan pandangannya ke arah Olivia kembali. Takut dia jadi curiga dan menoleh ke wajah Kemed.


Tak tega juga rasanya melihat Olivia memupuk harapan. Sudah melihat air mata yang tergenang dan muka sedih seperti tadi saja tidak juga menghasilkan perubahan.


Apa susahnya mencoba memulai suatu hubungan yang sudah lama saling dekat. Melihat Kemed yang ternyata type pria yang penuh perhatian dan mau berusaha menghilangkan kesedihan seorang wanita karena dirinya.


Tanpa kalimat penjelasan sekalipun. Mereka berdua seperti sudah saling memahami dan pengertian.


Marcya bernarasi di dalam otaknya.


Olivia...


Aku tahu kamu gila kerja. Padahal kalau di pikir kamu sudah lebih dari sukses jika di nilai dari kesuksesan yang di mulai dari enol, kamu sudah bisa di katakan berhasil. Apa karena torehan luka di masa lalu membuatmu malas untuk sebuah hubungan baru.


Olivia teringat ketika Kemed patah hati dengan cinta pertamanya. Dia curhat dan marah-marah seakan tidak pernah di hargai segala pengorbanan dan kesetiaannya. Bertahun-tahun menjaganya agar tetap langgeng. Tapi nasib berkata lain. Meski pakar agama mengatakan bahwa nasib masih bisa di rubah. Kemed enggan merubahnya. Seluruh semangatnya terbang entah kemana.


Kemana-mana hanya mengekor Olivia dan Abigail. Hubungan mereka bertiga menjadi semakin dekat hari demi hari.